friskainspiration

Just other sides of my life

Aku ingin menulis..

Ini bukan kesimpulan yang keluar lurus tanpa pemikiran. Ini pertanyaan hidup. Ada yang beda ada yang tak dapat diungkapkan. Tetap saya coba,  saya hanya ingin mencoba berbagi kisah ini. Kisah saya yang punya buku kumpulan fiksi dn nonfiksi walau masing-masing hanya satu. Kisah saya yang girang bukan kepalang kalau dengar lomba menulis. Kisah saya yang suka mencari literature data dan dikombinasikan ke dalam karya. Kisah saya yang suka duduk anteng terkadang melamun di depan layar pc atau laptop. Banyak alasan orang kenapa mereka menyukai menulis, salah satunya alasan saya ini, silakan disimak.

Saya kira setelah saya kuliah di Program Studi Sastra Belanda Universitas Indonesia saya akan sering menulis, ternyata tidak. Maksud saya di sini adalah menulis sebuah tulisan fiksi seperti tulisan populer. Kalau tulisan ilmiah jangan ditanya. Di sini tempatnya. Mata kuliah apapun kita diminta untuk bisa menulis baik, artinya baik adalah  sumber data jelas dan berisi. Saya menikmati bersemester-semester lamanya menjalani kuliah tersebut.

Sampai suatu hari saya mendengar ada sebuah mata kuliah yang berjudul Penulisan Populer I dari program studi lain, Program Studi Indonesia. Buat saya ini adalah mata kuliah pilihan atau kami biasa bilang mata kuliah belanjaan . Dag dig dug der, berharap saya bisa mendapatkan amunisi dan semangat baru di kuliah ini. Lalu saya ambilah mata kuliah yang biasa disebut Penpop I. Di sini saya dan teman-teman sekelas dari berbagai jurusan diajari untuk menulis fiksi. Menggabungkan imajinasi dan kemampuan menuangkannya menjadi tulisan dalam lembaran kertas. Tak tanggung-tanggung, semester berikutnya saya langsung mengambil mata kuliah Penulisan Populer II dan Sastra Populer yang juga dari Program Studi Sastra Indonesia.

Bagaimana rasanya?

Luar biasa, ternyata menulis itu indah, menulis itu menyenangkan. Saya bisa menjadi apapun yang saya mau di dalam tulisan saya.

Saya suka berdebat, tapi berdebat sehat, menghargai pendapat orang lain, tidak cuma ngomongnya sendiri saja. Saya paling tidak tahan debat dengan orang yang tidak mau kalah, atau tidak mau disalahkan, atau tidak mau dikritisi. Ketemu orang seperti itu, dipastikan saya akan diam sejuta kata dan tak ada hasrat mempermasalahkan masalah yang mungkin sebenarnya adalah masalah. Kenapa? Saya tak suka berbantah.

Lalu apa hubungannya dengan menulis?

Dari semua pengalaman spiritual yang saya rasakan di atas, saya merasa menemukan sesuatu yang sebelumnya saya belum pernah temukan.

Apa yang saya temukan?

Di sini saya menemukan dunia yang berbeda.

Di sini saya tidak akan pernah dikecewakan.

Di sini saya bisa menjadi diri saya sendiri tanpa berbantah.

Di sini saya tuangkan segala yang saya rasakan, saya lihat dan saya dengar tanpa perlu berbantah. Kadang ini  menjadi sebuah refleksi diri, refleksi  yang penuh ketengan tanpa saya harus mendengar sayup-sayup interfensi dari ego-ego di luar sana. Kita semua punya cerita dan kisah masing-masing, biarlah semua saya rangkai di sini. Tanpa celah tanpa rongga. Hanya ada saya dan diri saya.

Advertisements

January 5, 2011 - Posted by | Fiksi

1 Comment »

  1. yak,,setuju..menulis bisa buat kita menjadi diri kita sendiri,meskipun harus ngumpulin kekuatan u/mencari ide ketika kita mulai menulis,,
    apa kan gw bilang,banyak pelajaran yang harus gw ambil dari lo nih,,
    mari kita menulis terus..hidup menulis!!

    Comment by rani | January 11, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: