friskainspiration

Just other sides of my life

Surat Senja

 

 

Surat itu datang, di kotak surat tua depan rumah. Surat tanpa nama pengirim. Hanya terdapat sebuah kalimat di depan amplopnya Kepada Wanita yang Selalu Menikmati Senjanya. Ada keraguan untuk membukanya, tapi kubuka perlahan sambil menyibakan

rambut hitamnya yang panjang.

Aku benci semua lelaki di dunia ini. Mereka tak ada yang beradab. Laki-laki yang telah menghancurkan hidupku. Laki-laki yang telah menghancurkan hidup ibuku.

“Keluar!” Tangan besar itu menyeret kedua tangan kecilku.

“Keluar anak kurang ajar!” Perintahnya kejam seraya membawaku keluar dari ruangan 2 X 2 meter. Empat puluh delapan jam tanpa makan dan minum dalam ruangan sempit. Hanya ada sebuah jendela di ujung atas sebelah barat ruangan. Setiap sore aku bagaikan seekor harimau yang haus akan mangsa, haus akan  udara dari ufuk barat yang hanya dapat kuhirup di sore hari.

Di luar kamar aku melihat ibu dengan sayatan di sekujur punggung dan kakinya. Ia menangis dan meraung kesakitan.

Malam harinya ayah bersujud di kaki ibu untuk memohon maaf. Kelakuannya bagaikan anak kecil yang memohon untuk dibelikan mainan.

Senja

Aku heran menatap surat ini. Senja. Seketika aku menangis membacanya. Siapa orang yang tidak beruntung ini.

***

Malam yang temaram. Sunyi dan sepi. Hanya terdengar semilir angin malam yang menyapu genting rumah tua. Di sudut ruangan, seorang wanita sedang menulis surat dengan deraian air mata. Sesekali tatapan kosongnya menatap langit rumah tua yang dalam hitungan tahun akan segera roboh.

“Bajingan itu pantas mati!”  Barang-barang berserakan di bawah kolong meja kerjanya. Bingkai foto, gelas kaca dan jam weker jatuh ke lantai dalam satu seretan taplak.

Rambut hitamnya tidak tertata seperti biasanya.

“Aku ini wanita malang.” Kata-kata itu diulang-ulangnya sampai puluhan kali dengan bibir yang hampir tak terbuka Tatapannya masih kosong menatap langit-langit tua. Ada bayangan gelap seperti siluet yang menghampiri dan berbicara padanya.

“Apa? Tidak, aku tak bisa melakukannya.” Wanita itu berbicara pada siluet yang menghampirinya.

“Aku tak bisa!” Jawabannya membuat ia terlihat begitu gerang. Entah apa yang dikatakan oleh siluet itu.

“Jangan paksa aku!”  Ia masih berbicara dengan seonggok siluet yang berdiri besar dihadapannya.

“Kau siapa?”

“Tidak.”

“Bagaimana kau tau aku?”

“Aku tidak mau membunuhnya, tidak!” Ia menutup percakapannya dengan sebuah teriakan.

***

Larasati namaku. Di pagi yang lembut ini aku begitu bersemangat. Masih kuingat surat aneh di kotak surat tua depan rumah. Ada keingintahuan yang dalam mengenai kisah di balik surat itu.

Pagi itu, di sudut halaman rumah.

Beberapa orang melewati rumahku, hilir mudik di depan rumah. Akan tetapi ada yang aneh, mereka menatapku seolah aku adalah seorang wanita asing. Aku hanyalah Larasati. Wanita normal yang punya bakat melukis yang tinggi.

Dering telepon rumah berbunyi.

“Halo.”

“Iya, aku baik-baik saja.”

“Panji, sudah kukatakan aku baik-baik saja. Terima kasih untuk tawaranmu. Tapi aku tak butuh itu. “

“Kau tak perlu mengkhawatirkanku, Panji.”

“Baiklah, nanti aku akan menghubungimu.”

Aku tutup gagang telepon. Aku kembali berjalan ke pelataran rumah. Aku melihat secarik amplop di kotak surat. Kepada Wanita yang Selalu Menikmati Senjanya. Surat itu lagi.

Aku menunduk melihat perlakuan ayah. Lucu, hidup itu lucu. Kemudian aku tertawa. Tahukah kamu semua ? Aku ini wanita paling sial. Aku hidup belasan tahun dengan seorang ayah yang psikopat. Punya kelainan. Terkadang ia begitu mencintaiku dan ibuku. Akan tetapi terkadang ia menghancurkan seluruh tubuhku dan tubuh istrinya sendiri sampai kata ampun pun tak terdengar di telinganya.

Aku lelah.

“Ibu, ceraikan saja laki-laki itu!” Tapi apa kau tau apa jawabnya? Ia bilang : “Ibu sangat mencintainya, Nak.” Percaya kau dengan cinta ? Awalnya aku percaya dengan ibu. Tapi kemudian semua kepercayaan itu lenyap dengan datangnya pria itu. Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang.

Kau tau, aku pernah begitu mencintai lelaki. Namanya Bintang. Indah bukan ?  Sampai suatu hari kutemui ia di kamar kosnya sedang berdua dengan wanita lain. Satu ranjang dengannya. Ingin kucabik-cabik tubuhnya seperti apa yang pernah ayah lakukan padaku. Dia pikir dia siapa, setelah beberapa malam lalu ia bersamaku, malam itu ia bersama orang lain. Pria memang tak ada yang benar!!

Semalam, ada seseorang datang ke rumahku. Ia menyuruhku untuk membunuh Bintang. Katanya laki-laki seperti itu tak pantas hidup.

Ia memberiku sebilah pisau.

“Apa? Tidak, aku tak bisa melakukannya.”

“Pakailah, pisau ini layak menancap di tubuhnya” Orang itu membujukku.

“Aku tak bisa!”

“Bagaimana mungkin kau tak bisa. Ia telah menghianatimu!”

“Jangan paksa aku. Kau siapa?”

“Kau tak perlu bertanya siapa aku. Ambilah pisau ini.”Ia terus memaksaku.

“Tidak.”

“Aku tahu seluruh hidupmu?”

“Bagaimana kau tahu aku?”

“Tak perlu kau tanyakan itu. Bunuhlah ia dengan tanganmu.”

“Aku tidak mau membunuhnya, tidak!”

Senja

Aku masih berdiri di teras dengan tatapan ke arah kertas putih itu. Senja yang malang. Mengapa aku terlibat ke dalam permasalahannya. Di sisi lain aku begitu mengasihinya. Tiba-tiba air mataku menetes.

***

Malam ini, wanita itu kembali bersama secarik kertas kosongnya. Tatapannya sayu penuh harapan ke jendela rumahnya. Wajahnya pucat pasi. Ia mulai menggores kertas putih itu dengan coretan-coretan tangannya.

Air matanya terus menetes. Siluet itu kembali datang.

“Apa yang harus kutulis?”

“Aku lelah.”

“Aku tak ingin hidup.”

“Biarkanlah pisau ini kutancapkan ke tubuhku.” Komunikasi dengan sosok yang tidak jelas keberadaannya. Hanya ia yang bisa mendengarnya. Kemudian ia mengusap air matanya.

Dengan wajah sembab ia menoreskan kalimat demi kalimat dalam kertas putihnya.

***

Aku baru pulang dari kantorku. Lelah hari ini. Tadi Panji menelponku untuk menanyakan kabarku.

“Harus kukatakan berapa kali, aku baik-baik saja.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku.

Panji adalah kekasih yang selalu setia mendengarkan keluh kesahku. Terkadang aku menangis di pundaknya, terkadang aku tertawa bersamanya tapi terkadang aku tak peduli dengannya.

“Laras, aku mengkhawatirkanmu beberapa hari ini. Minumlah obat jika kepalamu terasa pusing.”

“Iya, Panji.” Aku tutup gagang telponku.

Sudah beberapa bulan ini Panji menemani hari-hariku. Jika hari libur ia datang berkunjung untuk sekedar menemaniku melukis. Ia teman kecilku. Kami kembali dipertemukan di kantor baruku. Semenjak itu kami semakin akrab. Perhatiannya padaku, tak bisa tergantikan oleh siapa pun.

Kulihat kotak surat tua di depan rumah. Tergeletak amplop putih dengan tulisan Kepada Wanita yang Selalu Menikmati Senjanya.

Aku ingin mati, Nona. Aku tak ingin hidup lagi. Tahukah kau betapa hidupku menderita dengan sayatan-sayatan pisau yang tak pernah hilang di punggungku ? Pernahkah kau tahu betapa hati ini masih menderita karena penghianatannya ? Tahukah kau kemaluan ini masih sakit merasakan kejamnya tangan empat pria itu ?

Sepulang dari rumah Bintang, setelah aku melihat penghianatannya.  Aku dihadang empat pria berbadan besar.

“Cantik, siapa namamu?” Belaian tangannya mampir di tubuhku.

“Malam-malam begini kenapa sendirian. Kenapa matanya basah, habis nangis ya?” Aku ketakutan, sangat ketakutan. Kemudian dua orang menarik tanganku kencang. Aku diseret ke semak-semak. Badanku dirobohkan ke tanah. Mereka merobek-robek bajuku dan memperkosa bergantian. Biadab.

Aku ingin mati. Aku hanya ingin mati saat ini.

Apa pernah kau berpikir menjadi diriku?

Senja

Aku kembali tertegun melihat surat ini.  Senja. Ia ingin mati. Ia ingin bunuh diri. Dalam keterkejutanku tiba-tiba Panji datang.

“Panji, surat ini datang lagi. Ia ingin bunuh diri.” Panji melihat surat itu kemudian membuangnya.

“Laras, jangan pernah kau pedulikan surat ini lagi. Laras, sadarlah. Aku menyayangimu.”

“Panji, bagaimana dengan Senja? Kita harus menyelamatkannya.”

“Laras, jangan pernah berpikir tentang Senja. Pikirkanlah dirimu sendiri!”

“Panji.” Air mataku mengalir begitu saja. “Panji, andai kau bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Senja. Aku ingin menolongnya.”

“Laras, berhentilah bicara. Malam ini aku akan menginap di rumahmu.” Tiba-tiba handphone Panji berbunyi. Ada desakan dari ujung telepon yang memaksa Panji untuk pergi.

“Laras, jaga dirimu baik-baik. Aku harus ke kantor sampai malam. Malam ini aku akan menelponmu. Angkat telponku!” Panji segera pergi meninggalkan rumahku.

***

Wanita itu kembali dalam dekapan angin malam. Tatapannya kosong menatap cahaya yang begitu temaram. Siluet itu kembali datang menghampirinya. Wanita itu kembali hanyut dalam percakapan yang hanya ia yang mengerti.

“Aku tak bisa melakukannya.” Bisikan itu keluar dari mulut mungilnya. Tatapannya tak juga hilang dari cahaya temaram.

“Tapi aku akan melakukannya.” Wanita itu mengambil secarik kertas dan sebilah pisau. Ia tuliskan apa yang ingin ia tuliskan. Deringan telepon membuatnya tersentak. Ia angkat gagang telepon dengan ketakutan.

“Laras, kumohon jangan lakukan itu. Laras kau bukan Senja. Kau adalah Laras. Jangan pernah kembali kepada masa lalumu, Laras.” Suara dari balik telepon terdengar sangat khawatir.

“Aku Senja.”

“Laras, aku menyayangimu. Laras, tenanglah. Minumlah obatmu. Tenangkan dirimu Laras. Laras, jangan berkomunikasi dengan siluet itu. Itu hanya halusinasimu. Laras, aku menyayangimu. Aku tak peduli dengan masa lalumu.”

“Aku Senja.”

“Kau bukan Senja. Laras, Senja hanya bagian masa lalu yang menghantuimu setiap malam. Senja hanyalah sosok yang membuatmu memiliki dua kehidupan. Percayalah padaku. Aku menyayangimu sepenuhnya.” Kemudian telepon itu mati. Panji segera berlari ke rumah tua itu.

Didapatinya tubuh Laras dengan tusukan pisau tepat di jantungnya. Ia dekap tubuh Laras. Teringat terakhir kali ia bertengkar mengenai surat itu.

“Laras, jangan pedulikan surat itu. Itu adalah Senja, masa lalumu. Setiap malam kau menuliskan surat-surat itu dan kau masukan ke kotak pos tuamu. Esok harinya kau juga yang membaca surat itu sambil menangis-nangis. Laras, lupakan masa lalumu!” Dengan wajah lugunya ia hanya berkata, “Aku tak mengerti apa yang kau katakan, Panji.”

Disamping tubuhnya tergeletak secarik kertas bertuliskan Kepada Wanita yang Selalu Menikmati Senjanya.

Senja. Aku adalah senja. Selalu hadir dengan sedikit cahaya di ufuk barat. Tidak bersinar melainkan temaram. Aku adalah senja. Tak pernah marah walaupun hanya diberikan sedikit waktu untuk melihat kehidupan yang tersisa. Aku adalah senja. Tetap berjuang untuk bersinar dalam sempitnya sisa cahaya yang ada…

Senja



Advertisements

January 5, 2011 - Posted by | Fiksi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: