friskainspiration

Just other sides of my life

Karya Sastra Populer

Sosoknya hilir mudik di pentas sastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Di dalam beberapa kesempatan acara baik sastra ataupun acara lainnya wajahnya hadir sebagai pembicara atau moderator. Salah satunya ketika acara Empat Mata datang ke gedung IX FIB UI.  Ia hadir sebagai bintang tamu memeriahkan suasana. Supel, ramah, bersahabat. Kecintaannya terhadap sastra dimulai sejak tahun 1978 ketika ia memutuskan untuk pindah jurusan dari Sastra Inggris ke Sastra Indonesia. Sejak saat itu bakatnya mulai terasah dan berkembang.

Di sela-sela kesibukkannya, penulis berusaha mewawancarai beliau mengenai pendapatnya dengan fenomena sastra saat ini. Dari jawaban-jawaban yang diberikan terlihat sosok Mas Iben, sapaan akrab beliau, terlihat menguasaai blantika Sastra Indonesia. Penulis coba mengeruk lebih jauh pendapatnya mengenai fenomena sastra populer, yaitu kehadiran Teenlit dan Chiklit di penerbitan Indonesia. Dalam suasana wawancara yang berlangsung santai ia angkat bicara: “Model Teenlit dan Chiklit sebenarnya sudah ada sejak dulu. Hanya saja namanya tidak seperti itu.” Menurutnya fenomena seperti ini sudah ada dari sebelum Indonesia merdeka. Kira-kira di tahun 1920-an. Semakin ke sini keberadaannya semakin marak dan ramai.

“Gramedia juga pernah memberikan label pada sastra seperti Teenlit dan Chiklit. Akan tetapi saat itu namanya Mawar dan Melati. Istilah asing itu muncul baru belakangan ini. Tetapi pada dasarnya semua sama saja.” Ketika ditanya apa yang membedakan Teenlit dan Chiklit, dengan cepat ia menjawab, “Teenlit menceritakan remaja, usia SMA, dan tidak jauh dari seputar kisah cinta. Sedangkan Chiklit bercerita tentang wanita dewasa yang sibuk dengan kehidupan kariernya.” Ia juga menambahkan, yang menjadi ciri dari Chiklit dan Teenlit yaitu keduanya merupakan karya populer yang menggambarkan kemasakinian atau mewakili jamannya. Jika kita membaca cerita atau novel dan di dalamnya terdapat unsur-unsur yang mewakili suatu zaman maka dapat dikatakan bahwa karya itu adalah karya populer. Contohnya, novel-novel yang digambarkan masa kini maka tak jauh dari unsur seperti Handphone, Laptop atau MP3. Unsur tersebutlah yang dimaksud dengan unsur kemasakinian dan mewakili zaman.

Ibnu Wahyudi memberikan respon positif terhadap perkembangan Teenlit dan Chiklit. “Karya populer itu sifatnya lebih lokal dan populer,” katanya bersemangat. Bahkan untuk memenuhi permintaan pasar yang melonjak akan karya populer, penerbit-penerbit ternama seringkali mengadakan sayembara atau perlombaan yang bertujuan mencari bibit-bibit unggul dalam menghasilkan cerita-cerita populer. Setelah melalui proses seleksi maka akan didapatkan beberapa cerita yang paling baik dan kemudian diterbitkan dalam kumpulan cerpen atau novel.

“Pernah juga Gramedia ‘memaksa’ penerbit yang ada dibawahnya membuat cerpen-cerpen bergaya populer. Grasindo pun juga sering membuat sayembara cerita-cerita populer,” lanjutnya. Melihat fenomena penulisan yang semakin berkembang maka kita melihat sedikit penyimpangan dari karya populer itu sendiri. Karya satra yang awalnya merupakan bentuk apresiasi kita terhadap satra, kini berkembang menjadi sebuah wilayah dagang komersil. Penerbit-penerbit besar ataupun kecil berlomba-lomba membuat karya sebanyak-banyaknya demi mengeruk keuntungan semata. Tengoklah usaha yang dilakukan beberapa penerbit yang telah dibahas di atas, sayembara dan lomba cerpen. Semua  tak lepas dari ketidaksadaran membelokan fungsi karya sastra dari sebuah karya seni menjadi sebuah karya komersil. Ketika ditanya pendapatnya mengenai gejala ini, Ibnu Wahyudi menjawab dengan tenang, “Fenomena itu tidak dipungkiri memang terjadi. Akan tetapi tidak masalah, dengan fenomena ini karya sastra semakin berkembang.”

Ketika mendengar karya sastra populer maka secara otomatis kita akan teringat pada karya yang bertentangan dengannya, yaitu karya sastra serius. Keberadaan sastra populer telah meredam pergerakkan sastra serius. Bahkan orang memandang sastra serius sebagai karya yang berat dan tidak menghibur. Ibnu Wahyudi kembali angkat bicara. “Walaupun secara nilai jual sastra serius kurang menguntungkan, namun tetap ada orang-orang idealis yang ingin mempertahankan pendapatnya. Sastra serius dianggap penting sebagai media mempertahankan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Keuntungan materi bukan jadi hal yang utama bagi mereka.”

Lalu bagaimana dengan penggunaan bahasa dalam karya populer? Dalam karya populer bahasa yang digunakan tak lepas dari Bahasa Indonesia informal atau yang dikenal dengan bahasa gaul. Apakah bahasa gaul tersebut akan merusak Bahasa Indonesia yang sebenarnya? “Tidak masalah, bahasa gaul tidak memberikan dampak jangka panjang. Bahasa gaul juga terus berkembang, bahasa gaul tahun 70-an juga berbeda dengan tahun 2000-an. Orang-orang juga tahu mana bahasa yang benar dan tidak. Tidak semua orang mau diajak menikmati karya serius. Banyak juga orang yang membaca hanya ingin bersenang-senang saja.” Demikianlah ucapnya di penghujung wawancara ini. Tiga puluh menit bersama sosok bersahaja ini begitu menyenangkan. Walaupun singkat kita akan mendapatkan banyak ilmu yang bermanfaat. Sayang tak banyak waktu berbincang karena beliau masih harus melanjutkan aktivitasnya.

Advertisements

February 17, 2011 - Posted by | Non Fiksi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: