friskainspiration

Just other sides of my life

Tanya Kenapa

Golden Age. Usia Emas.

Itulah dia saat ini. My little angel, Ayesha. Usianya 2 tahun dan begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut mungilnya. Saya bersyukur karena telah merasakan menjadi seorang guru, tak lama, hanya 1 tahun. Tapi saya punya banyak ilmu yang saya dapatkan di sana. Saya tau bagaimana harus menjawab pertanyaan anak-anak seperti ini. Bagaimana saya harus dapat memberikan reaksi positif terhadap semua pertanyaannya. Bagaimana ada masa di mana saya harus bertanya balik kepadanya tanpa saya harus menjawab.

Namun kondisi bingung menjawab apa sering juga saya alami. Saya perlu waktu buat menjawab dengan tepat. Tak selamanya pertanyaan itu mudah dijawab karena jawabannya belum tentu dimengerti.

Ayesha sedang giat belajar warna, bukan dengan menghafal karena seusianya belum dapat menghafal sesuatu yang abstrak. Saya selalu menganalogikannya dengan benda. Saya memberikan tambahan sebuah benda di belakang warna. Seperti kuning pisang, oren jeruk, hijau daun, merah tomat, dan lainnya. Dengan begitu ia akan mudah menghafal karena visualisasinya ikut berjalan.

Suatu hari Ayesha bertanya. Tapi ini percakapan hasil transkip, karena kondisi sebenarnya Ayesha masih sangat cadel. Tak banyak yang mengerti, kecuali keluarga saja.

A : Hujan warna apa?

S : Kira-kira warna apa ya? (Saya bertanya agar dia berpikir)

A : Putih susu

S : Masa sih? Coba diingat-ingat lagi.

A : Apa dong, Mi?

S : Itu namanya bening.

A : Kenapa  bening, kenapa ga putih?

S : Kenapa ya kira-kira?

A : sama kaya air di kamar mandi, Mi.

Memang dia tak menjawab pertanyaan tapi saya sudah membantunya berpikir. Kelak dia akan tau mengapa hujan berwarna bening, tapi nanti ada waktunya bukan saat ini.

Ada lagi yang lain. Waktu itu sedang naik angkot. Ada pengamen anak-anak yang bernyanyi di pintu angkot. Lalu ia bertanya.

A : Kenapa anak itu nyanyi-nyanyi?

S : Karena dia sedang mencari uang.

A : Kenapa dia cari uang, umi-abinya kemana? Ga kerja ya?

S : Iya umi-abinya ga kerja.

A : Umi-abinya ga kerja kenapa dia minta uangnya sama orang-orang?

S : (Diam sambil mengamati Ayesha yang takjub memandangi pengamen, terlalu rumit untuk dijelaskan dan mungkin Ayesha tidak akan mengerti)

Begitu banyak peratanyaan setiap hari yang sering membuat saya takjub. Ajaib, sangat ajaib.

Ini sedang di jalan. Ayesha melihat banyak gelandangan di jalan berbaju lusuh. Kemudian ia bertanya.

A : Kenapa orang itu bajunya jelek?

S : Karena mereka tidak ganti baju.

A : Kenapa ga ganti baju? Kan jorok ga mandi.

S : Iya mereka tidak mandi karena tidak punya kamar mandi

A :  Kenapa ga punya kamar mandi?

S : Karena tidak punya rumah jadi tidak punya kamar mandi.

A : Kenapa begitu? Mana rumahnya, mana abinya?

S : Iya abinya ga bekerja jadi ga punya rumah.

A : Kenapa abinya ga kerja?

Pertanyaan terus berlanjut dan saya tidak boleh tidak menjawab. Kadang kehabisan jawaban namun saya terus berusaha meberikan jawaban yang terbaik yang dapat ia pahami.

Begitulah Ayesha, setiap dia membuka mata, melihat sekitar ada saja yang ditanya.

Advertisements

February 24, 2011 - Posted by | Non Fiksi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: