friskainspiration

Just other sides of my life

Sakit ( Part 1) – Serangan Tengah Malam

Malam itu sebelum tidur ada yang tidak biasa. Anak saya, Ayesha rewel dan menangis tidak berhenti. Sebelumnya tidak pernah begitu, Ayesha sangat komunikatif. Ia akan mengatakan apa yang ia mau. Namun entah karena apa saya cukup kelelahan meladeni Ayesha malam itu yang tak juga mau bilang kenapa ia menangis mengerang-erang. Cukup lama saya merayunya untuk diam. Setelah saya sudah sangat kelelahan iapun akhirnya tertidur juga. Kemudian saya shlat isya dan ikut tidur di sampingnya. Mungkin saya sangat lelah sehingga tertidur cukup pulas.

Saat itu kira-kira pukul dua dini hari. Suami saya membangunkan saya dengan nafas setengah-setengah. Dia bilang dadanya sakit. Saya ambilkan air putih untuk diminum, saya pikir mungkin sesak karena kami tidur dengan obat nyamuk listrik. Setelah meneguk air putih suami saya keluar kamar dan duduk di kursi. Dia bilang dada sebelah kirinya sakit sekali. Saya ambilkan air minum lagi. Terus terang saya masih tidak tau itu apa sehingga saya hanya bisa mengambil segelas air putih untuk menenangkan. Suami saya masih menunduk di kursi sambil terus memegang dada sebelah kirinya. Dia berkata sepatah-patah, yang saya dengar dia bilang sakit sekali, susah bernafas, jantungnya berat.

Suami saya diam sambil mencoba terus bernafas sebisanya. Saya raba seluruh tubuhnya apakah ada yang panas atau sakit. Ketika sampai di telapak tangan saya kaget sekali melihat tangannya yang dingin dan putih.  Warnanya pucat seperti tidak ada darah yang mengalir ke kedua telapak tangannya. Saya tanyakan padanya apakah tangannya sakit. Dia menjawab tidak sakit tapi tidak ada rasanya seperti mati rasa. Dia hanya bilang jantungnya sakit sekali seperti tidak memompa darah.

Saat itu di luar sangat sepi, jam dua dini hari. Saya mengajaknya ke dokter 24 jam di dekat rumah. Dia bilang tidak kuat jalan, tapi saya paksa untuk kuat sambil terus memintanya menarik nafas dan mengajaknya bicara sedikit demi sedikit. Saat itu saya khawatir tapi saya berussaha untuk tetap tenang. Perjalanan ke klinik kira-kira 15 menit. Sampai di sana sangat sepi sekali, bahkan receptionist juga tidak ada. Saya menemukan ada suster yang lewat depan saya, saya tanyakan padanya dimana receptionist. Kagetnya saya ketika dia bilang, “saya ga tau, saya kebagian jaga UGD”, kemudian dia berjalan menuju ruang UGD tanpa memperdulikan saya. Seperti inikah cerminan pelayanan klinik rakyat? Saya kecewa tapi tak ada lagi klinik terdekat yang bisa saya datangi. Saya kemudian menerobos masuk ruang receptionist untuk mencari orang yang seharusnya bertugas. Saya ketuk-ketuk pintunya hingga saya dengar ada suara orang menjawab. Ini dinas malam, ternyata petugas tidur bila tidak ada pasien.

Setelah menunggu beberapa lama satpam akhirnya datang. Ia kemudian sibuk mencari petugas jaga. Selang beberapa lama sayapun bertemu dengan dokternya. Malam itu pasien hanya ada suami saya seorang sehingga kami bisa berkonsultasi cukup lama. Dokter memeriksa sekujur tubuh suami saya. Kira-kira lima menit lamanya lalu ia berbicara. Menurutnya, kemungkinan adalah sebuah serangan jantung kecil. Namun ia sendiri juga tak yakin. Ya, saya menangkap nada ketidakyakinan dalam kalimatnya. Keraguan saya dipertegas dengan anjurannya untuk mengunjungi dokter spesialis jantung secepatnya.  Ia memberikan resep yang bisa diminum untuk saat itu saja. Saya pulang dengan perasaan ragu, entah darimana kesoktahuan saya muncul. Saya hanya bilang pada suami saya, jika masih bisa ditahan kalau bisa tak perlu diminum obatnya. Suami saya bingung, dia bertanya kenapa saya bilang begitu. Sayapun tak bisa menjelaskan, saya tak tau masalah obat-obatan tapi saya ingin sekali suami saya tak meminumnya. Kemudian saya menutup pagi itu dengan berkata, “Ga tau kenapa, tapi ya kalau memang sudah tidak tahan minum saja, bismillah”. Tuhan tau saya tak mampu menjelaskan sehingga saya tak punya kuasa untuk melarang, namun esok hari semua akan terjawab. Banyak hal yang tak mampu kita jelaskan dalam dunia ini, yaitu keyakinan.

Bersambung..

Advertisements

March 11, 2011 - Posted by | Non Fiksi

2 Comments »

  1. kalau dadanya sakit lagi, jangan disuruh tiduran, better duduk separo tegak.. dulu nenek gw juga sakit jantung dis.. semoga ganesh baik-baik aja, tp hrus ttp waspada

    Comment by meida | March 12, 2011 | Reply

    • Iya Meida, tengkyu… Masih muda kok ya, ada-ada aja..

      Comment by friskainspiration | March 13, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: