friskainspiration

Just other sides of my life

Sakit. Part 2. Adilkah?

Ini adalah lanjutan kisah sakitnya suami saya. Bagi yang belum membaca bagian pertama, dianjurkan untuk membaca dari part 1 ya, agar mengerti alur ceritanya.

Pagi menjelang, saya rasanya baru tidur jam 4 subuh tadi. Jam setengah enam saya sudah bangun untuk solat subuh dan tak bisa tidur lagi. Pagi ini kami akan ke dokter spesialis jantung yang dianjurkan oleh dokter umum pagi buta tadi. Dokter tersebut menyebutkan beberapa RS Umum yang bisa jadi alternatif kami berobat. Dengan alasan jarak yang dekat kamipun memilih sebuah RS Umum terdekat dengan rumah. Pagi itu kami pergi dengan taksi. Kondisi suami saya masih belum pulih betul, jantungnya masih nyeri sehingga tak mempu menyetir. Saya, sayangnya belum mahir menyetir apapun. Saya membodohi diri sendiri, andai saja sudah lancar menyetir mobil, pasti tidak perlu boros-boros naik taksi ke sana ke mari.

Kembali ke kisah suami saya, kami tiba sekitar pukul 11 di RS tersebut. Suasana di sana sangat ramai sekali. Jauh dari ketenangan. Namun kami memaklumi karena itu adalah RS Umum. Biaya berobatnya sangat murah sehingga menjadi alternatif pengobatan bagi sebagian masyarakat. Perlahan kami naik ke lantai 3, di sana kondisi tidak kalah riuh ramai. Kami mengantri di loket pendaftraaran, betapa terkagetnya kami ketika tau bahwa kami hanya membayar  15 ribu rupiah. Lima ribu untuk administrasi dan sepuluh ribu untuk biaya dokter. lihat, biaya dokter spesialis hanya 10 ribu rupiah. Jujur, awalnya saya bersyukur bahwa di antara carut marutnya kondisi Indonesia, masih ada biaya berobat murah di sini. Bahkan , andaikan saja memungkinkan, saya rasa untuk urusan kesehatan dan  pengobatan warga, negara harus membebaskan warganya dari biaya apapun sekecil apapun.

Tapi bukan Indonesia jika tak mampu membuat saya terkejut. Setelah saya membayartunai 15 ribu rupiah saya mendapat nomor antrian. Dalam pikiran sederhana saya, mungkin saya dapat nomor 50 atau 70 paling lama, walaupun amit-amit ya, bayangkan jika harus menungu hingga 70 nomor di rumah sakit. Menahan sakit  saja sudah bukan kepalang rasanya, apalagi ditambah menunggu antrian puluhan nomor.

Kuitansi pembayaran saya pegang. Sebelum beranjak dari loket, petugas memberitau saya kalau nomor antrian ada di kuitansi. Saya lihat nomornya dan surprise! Saya mendapat nomor 110. Antrian pasien saat itu baru melangkah ke nomor 39. Hitung-hitungannya saya harus menunggu 71 0rang lagi. Bukan angka yang sedikit. Saya dan suami hanya bisa tersenyum miris.

Sekeliling kami adalah orang-orang lanjut usia. Sewajarnya memang begitu karena poli jantung biasanya didatangi oleh manusia yang sudah berusia lanjut. Suami saya adalah pasien paling belia. Sambil menunggu saya memperhatikan sekitar. Di depan ada meja dengan dua orang perawat dengan setumpuk berkas. Seperti biasa sebelum masuk ke dalam ruang dokter pasien akan di cek tensi darah dan berat badannya di meja perawat. Di rumah sakit manapun ritualnya sama seperti itu.

Menit-menit awal saya menghabiskan waktu dengan bermain handphone, membuka twitter dan Facebook. Selang beberapa menit ternyata ada hal lain yang lebih menarik daripada gadget yang ada digenggaman saya. Ada suara sinis, suara nyaring dari depan saya membuat saya terpana. Bukan sekali, tapi berkali-kali.

Perawat itu terlihat kerepotan sekali dengan tumpukan daftar pasien yang harus mereka tensi. Setiap kali memanggil nama pasien suaranya nyaris tinggi dan tidak nyaman di telinga. Jika pasien tidak dengar maka lengkingan kedua akan terasa lebih sinis. Ketika itu datang seorang bapak yang membawa nomor antrian. Saya memperhatikan percakapan antara mereka. Singkatnya si bapak tua ini datang terlambat, nomor antriannya sudah kelewat.

Perawat : Dari tadi sudah dipanggil, bapak kemana?

Bapak : Saya berobat dua, jadi tadi saya ke satunya dulu.

(Mungkin maksudnya si bapak ini punya dua penyakit dan akan memeriksakan dirinya ke kedua dokter spesialis. Ketika tadi namanya dipanggil dia sedang berada di poli lainnya)

Perawat : Kenapa sakit pake dua-dua sih, Pa?

Apa? Pertanyaan macam apakah itu. Keluar dari mulut seorang perawat yang notabene berpendidikan. Si bapak yang renta itu hanya bisa diam tak menjawab. Saya pilu dan iba. Bahwa si bapak ini melewatkan nomor antrian sehingga merepotkan si perawat anggaplah sebuah kesalahan tragis tak termaafkan. Namun apakah kalimat dari bibir perawat itu sopan diutarakan? Penyakit fisik pada dasarnya berkaitan dengan psikologis seseorang. Pasien sangat butuh dukungan positif dari siapapun. Akan tetapi apa yang terjadi di depan mata saya adalah kontradiktif. Bisa jadi ada dalih bahwa mereka, perawat, cukup kelelahan menangani pasien yang jumlahnya ratusan. Jikalau memang begitu adanya, apakah tetap layak mengeluarkan kalimat sinis seperti itu untuk pasien?

Pasien : Mba, saya sudah dipanggil?

Perawat : Belum bu, belum! Kalau belum  dipanggil ya berarti belum, tunggu deh!

Itu salah satu (lagi) percakapan yang sempat memanaskan telinga saya.  Saya tak dapat menerima perlakuan itu. Seberapa banyak pasien yang mereka terima hari itu, itu adalah bagian dari pekerjaan yang harus mereka tunaikan. Mereka bukan pekerja rodi yang tidak digaji. Mereka memiliki seragam suster yang seharusnya disadari ada tanggung jawab moral dan sosial di sana.

Ini rumah sakit umum, bersubsidi tentunya. Ada campur tangan uang negara yang bersumber dari pajak. Pajak toh dari masyarakat juga. Ah, tapi terlalu klise rasanya jika saya bilang, “ini kan kami yang bayar juga, kami bayar pajak!”. Ini bukan masalah pajak masyarakat yang dikelola negara dan disalurkan sebagiannya sebagai fasilitas kesehatan masyarakat tidak mampu. Alur itu terlalu ribet untuk dipahami, terlalu jauh.

Sederhananya, kalau masyarakat tidak suka datang berkunjung ke rumah sakit umum, para perawat tetap digaji, bukan? Jadi, mau mereka melayani dengan baik atau sebaliknya adalah tidak berpengaruh. Mereka tetap bekerja dan digaji oleh negara apapun yang terjadi. Kunjungan masyarakat tidak menjadi penting, profesionalitas bukan jadi yang utama, keramahan hanyalah formalitas pelayanan. Karena tanpa pasien mereka tetap bekerja dan menerima gaji setiap bulannya. Tidak ada alasan untuk bersikap ramah.

Coba lihat rumah sakit swasta, begitu rapih dan sopan pelayanannya. Karena apa? Ya, betul karena nasib mereka bergantung kepada kehadiran pasien. Jika pasien nyaman maka ia akan datang berobat kembali, informasi positif itu akan sampai ke telinga sanak saudara dan kerabat. Jika pasien terus bertambah maka penghasilan rumah sakit meningkat dan berdampak pada kesejahteraan karyawan. Rumah sakit swasta memiliki kebutuhan akan keberadaan pasien sehingga pelayanan dilakukan semaksimal mungkin.

Bapak tua renta, ibu yang sudah mulai jompo. Masih duduk manis menunggu entah berapa puluh panggilan lagi. Dari tempat duduknya sayup-sayup terdengar suara lengkingan sang perawat. Tuhan, adilkah ini?

Saya mendiskusikan sesuatu kepada  suami saya. Selang beberapa menit kami beranjak dari kursi, turun ke lantai bawah dan mencari taksi. Di samping, suami saya masih terlihat memegang dada kirinya. Mukanya pucat, masih nyeri katanya. Kami duduk terdiam, melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih layak. Kemanakah pelarian selanjutnya? Lebih baikkah tempat itu?

Bersambung..

Advertisements

March 11, 2011 - Posted by | Non Fiksi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: