friskainspiration

Just other sides of my life

Amunisi Kehidupan

 

Baru saja pulang dari sebuah reoni kecil-kecilan bersama teman-teman kuliah dulu. Pagi tadi kami bertemu di  Museum Prasasti, Tanah Abang. Saya dan sembilan orang teman lainnya berjalan-jalan sekalian silaturahim. Acara utamanya adalah foto-foto, silaturahim, makan, foto-foto  lagi dan ngobrol. Ada cerita lucu, ada kisah masa lalu yang kami buka kembali, saling tertawa dan saling meledek. Namun yang paling penting adalah kami saling memberi semangat. Sepanjang perjalanan pulang dan pergi, dari dan menuju Museum Prasasti  kami mengomentari setiap yang kami lihat di jalan. Saya dan mereka tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Setiap langkah ada saja yang kami bahas bersama. Tertawa, melepas penat, karena selama seminggu kami semua bekerja di kantor.

Saya bertemu mereka kira-kira hampir tujuh tahun lalu, tahun 2004, saat kami menjadi mahasiswa baru. Dengan wajah masih lugu saya melalui masa-masa orientasi saya bersama teman kuliah. Jumlah kami cukup banyak untuk ukuran kelas bahasa, 60 orang. Seiring berjalannya waktu kami menyusut perlahan hingga sekitar 40 orang. Agar efektif kami dipisah menjadi 3 kelas. Masa awal adalah masa adaptasi yang pasti dilalui oleh setiap kehidupan baru. Di semester pertama masing-masing kami perlahan mulai menemukan teman sejalan. Namun pada semester dua kami dipecah sehingga kami berbaur dengan teman dari dua kelas lainnya. Seterusnya begitu hingga semester enam, saya berganti-ganti teman sekelas. Tapi justru itulah letak kekuatannya, saya mengenal mereka semua lebih baik, tidak hanya yang itu-itu saja.

Hari-hari kuliah saya lalui dengan pasang surut pertemanan, tak saya pungkiri ada juga geng-geng kecil yang tumbuh satu persatu, namun saya melihat itu masih lumrah dan saya menyebutnya teman sepermainan. Bukankah wajar jika kita berjalan bersama orang yang nyaman buat kita. Itu bagian dari seleksi alam, setiap kita akan bertemu dengan orang yang tepat dan sejalan. Hal yang paling saya suka dari teman-teman saya adalah sebagian besar mereka terbuka dalam bergaul , tidak terpaku pada teman sepermainan saja.Saling mengimbangi jika berbicara. Mereka juga  tidak mudah tersinggung atau marah. Kita sudah biasa saling apa adanya jika bicara, hal-hal yang tidak enak dibuat menjadi enak, hal serius bisa dibuat menjadi becandaan dan menyenangkan.

Kehidupan kampus yang keras membuat kami semakin kuat dan erat. Tugas sering diberikan perkelompok sehingga saya mengenal banyak pribadi lebih dari “say hello”. Saya mengenal mereka dalam bertukar pikiran dan berbagi tugas.  Satu hal yang tak pernah saya lupa dari teman-teman saya adalah keceriaan mereka. Ketika saya kuliah dulu, selalu ada tawa dalam setiap kegiatan yang saya dan mereka lakukan. Entah dari membicarakan tugas, dosen, makanan, semua bisa menjadi obrolan yang asik untuk dibahas. Di luar keceriaan, mereka tetap pribadi yang profesional menjalankan perkuliahan. Mereka tetap orang yang bisa diandalkan ketika harus berbagi tugas kuliah. Mereka bisa bersikap profesional  antara tugas, belajar dan tawa.

Angkatan saya rasanya angkatan yang ajaib. Bahkan buat saya pribadi, ini adalah kehidupan yang ajaib. Semasa sekolah di SD, SMP dan SMA kelas saya diisi dengan siswa laki-laki dan perempuan yang  jika dilihat dari kuantitas  maka bisa dikatakan seimbang. Andaikan jumlah perempuan 20 siswa maka laki-laki tak beda jauh dari itu. Terkadang laki-laki jadi lebih menguasai kelas, mereka lebih ribut. Tapi di sini saya menemukan proporsi yang berbeda, 1 : 4, satu laki-laki dibanding empat perempuan. Terbayang apa yang terjadi di kelas, riuh ramai berebut bicara kalau sudah ngobrol dikuasai perempuan. Suara hawa menguasai kelas. Tak ada istilah jaga image, toh tak ada objek yang layak menjadi target di kelas. Laki-laki biasanya hanya elus dada atau ikut nimbrung tertawa melihat kelakukan perempuan-perempuan di kelas. Awal-awal mungkin mereka shock, tapi lama-kelamaan sepertinya terbiasa. Mungkin itulah yang membuat para wanita di kelas ini tak punya batasan berekspresi, tak takut dibilang ini itu karena tak ada yang menilai dan menghakimi. Di kelas semua laki sudah disamaratakan posisinya dalam obrolan. Dari obrolan salon, gebetan sampai urusan perempuan mereka ceritakan kapanpun diamanapun, tak perlu pakai lirik kanan kiri, tak terpikir siapa tau, barangkali saja ada yang tak layak didengar. Semua hal lancardikisahkan tanpa saringan.

Kehebohan angakatan saya ini terasa sampai ke para dosen. Pernah suatu hari ada acara dari jurusan,  yaitu perayaan ulang tahun jurusan. Acara ini diadakan setiap tahunnya. Salah satu acara santainya adalah hiburan nyanyian. Saya dan teman-teman seringkali heboh sendiri, tidak diminta nari ikut nari, tidak diminta nyanyi ikut nyanyi.  Saya ingat betul waktu itu tepat sebelum penyanyinya naik panggung saya dan teman-teman didatangi oleh seorang dosen. Saya kira beliau akan memperingatkan kami untuk sedikit lebih sopan. Ternyata dosen tersebut malah bilang agar kami nanti ikut menari agar suasana menjadi semakin meriah. Tanggapan teman-teman : wow, laksanakan!

Waktu begitu cepat berlalu, kebersamaan empat tahun menguap begitu saja. Tak terasa saya dan sebagian besar Sastra Belanda 2004 melaksanakan wisuda pertama angkatan kami. Tepatnya tanggal 29 Agustus 2008. Memang tak semua dari kami diwisuda, ada beberapa teman yang dengan berbagai alasan ikut wisuda pada kesempatan berikutnya. Namun itu tak memutus tali silaturahmi antar kita. Setelah lulus saya tetap menjaga hubungan dengan mereka. Ada yang hilang, ada yang berbeda. Jika biasanya hari-hari saya dipenuhi dengan canda tawa mereka, setelah lulus semua seperti hampa. Saya dan mereka, semua sedang berjuang mencari puzzle kehidupan masing-masing. Memilih puing-puing yang tepat untuk mengisi yang kosong dengan bekal yang telah kami bawa dari tempat yang sama. Sastra Belanda, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Buat saya saat berkumpul adalah saat yang menyenangkan. Saat yang saya selalu nanti. Walaupun hanya sebentar namun pasti berkesan. Kami melepas canda dan tawa, masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah. Bedanya saat berkumpul tak selalu lengkap. banyak yang tidak bisa dengan berbagai alasan, tapi itupun harus dimengerti. Sekarang kita punya urusan masing-masing sehingga tidak bisa dipaksa untuk hadir dalam pertemuan kita. Rindu. Ingin rasanya berkumpul secara utuh seperti saat kuliah dulu.

Buat saya, saat bertemu bukan hanya masalah melepas tawa. Bukan hanya bertemu wajah. Buat saya maknanya jauh lebih dalam dari itu. Pertemuan adalah sebuah lorong waktu yang membawa saya pada kehidupan masa lalu yang berharga.

Kelak di saat yang berbeda nanti semuanya akan terasa. Masa lalu akan terus menerus melingkupi dengan irama tetap yang menjadi sesuatu yang indah untuk dikenang..

Sedangkan masa yang akan datang terbentang luas menunggu untuk kita raih. Dan apabila suatu saat nanti kita terpuruk jatuh, maka kenangan-kenangan itu akan membuat kita menjadi tegar dan bangkit kembali.

Pertemuan adalah salah satu penyemangat buat saya. Saya menyebutnya sebagai sebuah aminusi kehidupan. Saya pernah bersama mereka dalam senang dan susah. Bertemu mereka kembali adalah kekuatan baru, bahwa saya punya teman-teman, bahwa saya punya orang-orang yang siap memberikan kisah-kisah mereka, bahwa saya punya  manusia yang siap menghibur, bahwa saya punya sahabat yang siap memberikan ceritanya untuk menambah wawasan saya tentang kehidupan. Kami seperti sekelompok burung yang hidup dalam sangkar yang sama. Ketika sudah siap maka kami terbang ke segala arah mata angin. Dan ada masanya ketika kami berkumpul kembali untuk saling berbagi cerita dari tempat yang masing-masing kami singgahi. Kemudian kami kembali terbang ke arah yang berbeda, kembali mencari kehidupan kami.  Buat saya, pertemuan ini adalah suntikan, kami seperti burung yang sedang kembali singgah untuk bertukar kisah sebagai peyemangat kehidupan.

Perjalanan Museum Prasasti tidak mewakili kami, ini hanya segelincir dari kami, kami yang masih punya sedikit  waktu untuk saling bersapa.

Ada harap : mungkin kita suatu hari dapat berkumpul lagi dengan lengkap, tidak hanya kita tapi juga bersama keluarga kecil kalian, kelak.

Kamu, siapapun teman masa lalalumu, sapalah mereka, jalinlah silaturahim tanpa terputus, karena tanpa mereka kamu bukanlah kamu saat ini..

Advertisements

March 20, 2011 - Posted by | Non Fiksi

2 Comments »

  1. uhuhuukkkk… saya saya terharuuu.. 😥

    Comment by Dhiesta Natalia | April 9, 2011 | Reply

    • uhuuuk juga, kalau udah ga sibuk ikutan lagi meis.. 😉

      Comment by friskainspiration | April 9, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: