friskainspiration

Just other sides of my life

Merindu Senyum

Ingatkah kapan terakhir kali kamu senyum?

Ya, bisa 10 menit lalu, 5 menit lalu atau bahkan kamu langsung senyum ketika baca pertanyaan tadi. Tapi jika saya bertanya kapan sih terakhir kali kamu tersenyum karena menikmati apa yang kamu lakukan?

Waktu itu saya baru saja pulang menunaikan tugas kantor, dari sebuah kota di Jawa Tengah. Kereta yang saya tumpangi tiba di Gambir sekitar jam 7 malam. Mungkin karena sudah gelap sehingga saya tidak menyadari kabar langit malam itu. Saat saya hendak beranjak ke parkiran motor tiba-tiba langit menumpahkan isinya. Rintikan hujan bagai batu yang tak henti-henti menimpuki genting stasiun hijau muda itu. Gemuruhnya mencekam, aroma tanahnya tercuim hingga ke lantai atas. Saya yang enggan kebasahan dan kecipratan air hujan di motor memilih untuk makan malam di lantai atas sambil ngobrol menunggu hujan reda. Saat itu saya membayangkan dinginnya cuaca  jika saya harus menerabas derasnya hujan malam.

Setelah hujan agak reda saya meninggalkan stasiun gambir. Perjalanan kali ini berjalan lancar tanpa hambatan. Di motor saya berbincang dengan suami seputar pengalaman saya di tempat tugas. Obrolan saya terhenti bertepatan dengan lampu lalu lintas yang menunjukan warna merah. Sebuah perempatan yang tak jauh dari Taman Menteng. Setelah melewati Hotel F1, Batik Keris, kemudian ada sebuah lampu merah di sana. Posisinya sebelum kedutaan besar Italia. Di sudut perempatan itu ada seorang kakek memegang sebuah suling. Suling sederhana yang dulu kita gunakan saat pelajaran kesenian di sekolah. Kita pasti tau suling itu tidak seberapa merdu, apalagi jika dimainkan sendiri tanpa harmoni. Tapi itulah yang dilakukan si kakek, meniupnya dengan syahdu. Saya ingat betul seluruh yang dikenakan kakek itu, dia pakai sarung ungu, baju koko putih dan peci hitam sambil menggenggam sebuah suling coklat muda. Rambut putihnya menyeruak dari balik peci hitam yang tidak lagi pekat karena termakan usia.  Lampu merah kali ini terasa berbeda, saya melihatnya sebagai sebuah kerangka slow motion yang dihidangkan tepat di depan mata. Relativitas waktu. Jika sesuatu yang yang kita lakukan menyenangkan maka waktu akan bergerak sangat cepat, namun jika sebaliknya maka waktu akan sangat lambat berjalan. Beberapa detik itu mampu mengobrak-abrik seluruh visualisasi pikiran saya dan meluluh lantahkan harga diri saya sebagai manusia yang tak pernah bisa puas.

Banyak pengamen di jalan raya sana, tapi kenapa dia terlihat berbeda di mata saya?

Ya, karena dia bermain suling sambil terus tersenyum. Saya yakin ia sangat bahagia melakukan itu.

Saya tidak mengada-ada dengan senyum ini, ini senyum sesungguhan tanpa beban. Sebuah tarikan sempurna dari ujung bibir yang mampu menampar saya bolak-balik hingga lebam. Ini sebuah senyum di tengah pelukan dingin langit malam jakarta dari seorang kakek tua. Seharusnya, pria  seumur dia, di kondisi malam hujan begini ada di rumah sambil menyeruput segelas teh hangat dari cangkir aluminium kuno bermotif loreng hijau. Ah, lebih nikmat lagi jika dinikmati sambil duduk manis, selonjor kaki di bale bambu diiringi lagu nostalgia dari salah satu radio yang mengudara di Jakarta. Ah, namun dia terpilih oleh yang Maha Memilih untuk menghibur manusia di perempatan itu.

Saya hanya mampu menyerahkan selembar uang kepada kakek itu, tak seberapa. Saat lampu hijau motor saling beradu bunyi gas, semua ingin lekas sampai tempat tujuan. Hanya sepersekian detik,  dalam kondisi motor berjalan saya menyerahkan  selembar uang itu. Tak sengaja saat memberikan uang , telapak saya menyentuh kulitnya yang hangat. Bayangkan, di cuaca dingin seperti itu dia masih dapat memancarkan kehangatan dari dalam tubuhnya.  Betapa positif alam pikirannya hingga energi tubuhnya mampu melawan tiupan adem semilir alam semesta.

Saya selalu tersenyum, saya bisa tertawa setiap hari, tapi bukan karena bahagia terhadap apa yang saya jalankan. Saya senyum karena lelucon teman kantor atau karena sebaris kalimat twitter yang menghibur.

Pernahkah kita melihat seorang balerina tersenyum saat berlatih menari?  Seorang penabuh drum yang sumringah bahagia pada pukulan terakhirnya? Seorang guru yang tersenyum dari balik jendela saat melihat  murid-muridnya asik berlari? Inilah orang-orang yang mampu mendedikasikan senyum bagi dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain untuk sekedar menarik ujung bibirnya.

Dia di pinggir jalan menanti rezekinya  yang padahal belum tentu, apakah malam itu akan ada puing logam yang dia dapatkan? Atau selembar kertas? Ah selembar berwarna biru lusuh sudah cukup. Jika lebih dari seribu rupiah namanya bonus.  Namun ia tetap tersenyum bahagia. Sedangkan saya, duduk di kantor, tidak kehujanan, tidak kebasahan dan bisa bersantai di rumah ketika malam tiba, pasti mendapat gaji setiap bulan, tapi mengapa saya tidak pernah senyum untuk semua  itu? Ada apa dengan saya, kenapa saya tidak pernah mendedikasikan senyuman saya buat diri saya sendiri  karena telah bekerja dengan baik, minimal. Kenapa untuk membuat saya tersenyum saya harus mengandalkan lelucon teman atau status nyinyir seorang di ranah maya. Saya jadi merasa sakit jiwa. Sakit jiwa karena saya tidak bisa menciptakan kebahagiaan dari diri sendiri tanpa bergantung oleh pihak lain.

Saya melewati jalan Rasuna Said dengan doa buat si kakek. Saya mendoakan agar Allah memberikan kemulian kepadanya. Sedetik setelah doa itu selesai dipanjatkan saya justru tersadar bahwa sebenarnya doa saya sudah dikabulkan jauh sebelum saya memintanya. Ketika saya di sini menyesali diri sendiri karena tidak dapat bersikap setabah dan sehebat kakek itu bukankah Allah telah menunjukan bahwa si kakek telah menjadi orang yang mulia jauh sebelum saya meminta?

Angin merasuk ke dalam aliran darah saya. Semilir hawa malam menusuk tulang. Doa itu saya ubah : Ya Allah, muliakanlah saya semulia kakek yang saya lihat tadi. Saya hening sepanjang perjalanan malam itu. Cikini – Jagakarsa. Perjalanan cukup jauh yang saya tempuh dengan diam. Sempat menitikan sedikit air mata, lemah.

Advertisements

April 17, 2011 - Posted by | Non Fiksi

2 Comments »

  1. jadi inget tulisannya si indra herlambang tentang senyum 🙂

    Comment by iboy | April 19, 2011 | Reply

  2. melakukan sesuatu dengan sepenuh hati dan senyuman, begitulah cara untuk menikmati dunia!!

    salam kenal, gabung di oriflame yukkksss>>>

    Comment by arik | April 21, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: