friskainspiration

Just other sides of my life

Kereta Malam

Kampus, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Pukul 21.50

21 Januari 2007

Aku melihat ke arah jam tangan perak yang melekat di lengan kiriku. Pukul 21.50.

Aku pasti naik kereta terakhir ke arah Jakarta.

Berjalan lurus melewati jalan setapak yang diapit oleh pepohonan tinggi yang terkenal dengan nama ‘balhut’ atau balik hutan. Balhut sebutan untuk jalan pintas yang membelah hutan dan menghubungkan pintu gerbang kampus dengan beberapa fakultas. Jika tidak ada Balhut mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial Politik, Fakultas Psikologi dan Falkultas Ilmu Budaya  akan berputar lebih jauh sehingga perlu waktu lebih lama untuk mencapai gedung kampus. Suasana Balhut malam sangat sepi. Kuliah rata-rata selesai di jam tujuh malam sehingga bisa dipastikan aku adalah satu-satunya orang yang melewati jalan ini, di detik ini.

Hawa malam meniup semilir dari balik pepohonan tinggi menjulang. Di sini adalah aku sosok tubuh kecil di kolong langit, tak tampak secuil badanku terlihat dari semak belukar. Aroma tanah terhirup masuk ke dalam rongga hidung, semerbak tercampur aroma dedaunan kering yang jatuh layu dari rantingnya. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak, semakin kugenjot langkahku, kurasakan jalan ini seperti tak berujung. Stasiun di depan mata tak terlihat jelas, sekitar menjadi kedap suara. Hening, hanya angin. Terdengar bunyi.

Kresek.

Aku menoleh. Kosong.

Jantungku terpacu kencang. Ada yang tak beres. Jalan ini hanya selebar satu meter, cukup untuk dua orang yang jalan beriringan. Jika pagi suasana di sini sangat tenang dan sejuk, hembusan oksigen memeluk tubuh bersama daun-daun yang menghirup karbondioksida dan menghempaskan oksigen. Malam hari suasana berubah drastis, manusia berebut oksigen bersama pepohonan, sesak. Kulitku terasa kering dan dingin. Bayangkan kita berjalan di kegelapan malam tanpa sinar bintang atau bulan karena seluruh cahaya yang ingin datang tertutup pohon tinggi. Ah, bulu kuduk berdiri sempurna. Pikiran kuarahkan menjadi lebih fokus pada kegiatanku hari ini.

Lelah rasanya mengingat segala hal yang terjadi. Aku merasa menjadi orang yang sangat sibuk di dunia. Sejak pukul 07.30 kuliahku penuh sekali. Tepat pukul 14.15 ketika bel di fakultas berbunyi, aku segera berlari keluar menemui seorang dosen yang rencananya akan kuwawancarai untuk tabloid kampus. Ia hanya punya waktu 15 menit untuk wawancara. Pukul 14.30 wawancara selesai dan segera kutuliskan semua hasil wawancaraku dan mengirimkannya ke teman yang bertugas sebagai editor.

Baru saja aku menarik nafas sejenak setelah salat ashar, tiba-tiba handphone-ku berdering. Pesan singkat masuk.

Dina, kita di perpustakaan. Ayo, tugas menanti!

Ah, ingin berteriak, tapi semua harus dijalani. Baru saja berjalan menuju Perpustakaan kemudian aku bertemu seorang teman yang mengabari bahwa aku ditunggu oleh seorang dosen di ruangannya untuk membicarakan artikelku yang katanya ingin ia terbitkan. Terpogoh-pogoh aku berjalan, lelah sekali rasanya. Tiga puluh menit kami berbincang kemudian aku mohon pamit untuk berlari ke perpustakaan menyusul dua orang temanku yang lain. Berjam-jam lamanya aku mengerjakan tugas bersama kedua temanku. Seandainya salah satu dari kami ada yang tinggal di kamar kos tentu nasibku dan kedua temanku tidak setragis ini. Sampai malam aku harus duduk manis di kantin, setelah pukul 17.00 tadi kami ‘migrasi’ dari perpustakaan ke kantin karena pintu perpustakaan harus di tutup. Pukul 21.35 aku meninggalkan kampus. Teman-teman yang lain memilih untuk naik ojek dari fakultasku sampai rumah masing-masing.  Apa daya, uang di saku tinggal 5000 perak. Mana cukup untuk naik ojek sampai rumahku di wilayah Tebet? Terpaksa aku seorang diri melewati jalan setapak tanpa penerangan, cahaya seadanya.

Jalan lewat Balhut aman kok.

Aku berusaha menenangkan diri saat berjalan di Balhut.

Angin bertiup semilir dari belakang punggungku. Dingin sekali. Daun yang bergantung di atas kepala bergoyang hebat. Ada yang aneh. Semua daun di dahan lain diam tak bergeming. Bulu kuduk merinding. Ah, mungkin barusan ada hewan meloncati pohon. Berjalan lurus, suasana sepi dan gelap. Hanya ada sepasang langkah kaki, yaitu langkah kakiku. Aku mendengarkan langkah demi langkah itu, namun kemudian terdengar samar-samar ada sautan suara lain. Sepertinya ini bukan terdengar seperti langkah sepasang kaki tapi ada suara melodi syahdu, entah apa itu. Di belakangku kah? Akan tetapi rasa penasaran itu hadir menyelimuti sampai terdengar sebuah suara tarikan nafas yang lembut. Aku menoleh spontan. Eh?

Kereta Listrik Bogor-Jakarta, Pukul 22.00

Kereta yang aku tumpangi sangat gelap dan sepi. Aku duduk di gerbong paling belakang. Di dalam kereta hanya ada sekitar 15 orang. Secarik koran pagi tergeletak di sebelahku. Ingin kubaca, tapi gelap. Tapi kalau tidak ada yang dilakukan aku jadi ketiduran. Kalau sampai keterusan bisa menambah masalah saja. Mau naik apa aku dengan uang saku yang tersisa? Aku ambil koran kemudian kuarahkan lampu senter handphone ke arah artikel yang kubaca. Kulihat keluar. Kereta masih meluncur dari stasiun Universitas Indonesia menuju stasiun Universitas Pancasila. Aku mencari berita terkini. Kubaca sekilas judul demi judul dalam koran tersebut. Sampai tibalah aku di sebuah berita yang sangat menarik.Tersentak oleh sebuah berita yang diterbitkan koran sore itu. Bulu kudukku kemudian berdiri. Aku mendadak tegang, ini pasti mimpi.

Mahasiswi UI tewas diperkosa malam hari di jalan setapak hutan UI (20/1). Kejadian berlangsung sekitar pukul sembilan malam. Baju korban ditemukan di semak balik hutan. Noda darah masih melekat pada baju korban. Jasad diduga diperkosa kemudian dibunuh dan dibuang di suatu tempat. Polisi masih melakukan pencarian jasad korban.

Lengkap dengan fotonya.

Jalan Setapak (Balik Hutan), Pukul 21.45

“Eh? Ada orang di belakang?” Tanyaku, agak gemetar. Ia hanya mengangguk.

“Bareng ya, Mbak. Sudah malam. Seram lewat balhut sendiri.” Aku mulai membuka pembicaraan.

“Kuliah di fakultas apa?” tanyaku.

“Ekonomi”, jawabanya sangat singkat.

“Saya Dina. Sastra Inggris 2004.” Aku mengenalkan namaku.

“Mayang Puri Dewita, Ilmu Ekonomi 2004,” jawabnya. Aneh sekali, kenapa harus menyebutkan lengkap semua namanya?

“Mau naik kereta atau angkot?”  tanyaku.

“Kereta.” Wajahnya masih menunduk lesu. Dari samping kutatap wajah pucatnya.

Kulirik jam tanganku, pukul 21.47. Suara pengeras suara mengabarkan kereta terakhir akan datang dari Bogor. Spontan berlari menuju stasiun dengan tenaga yang aku miliki. Meloncati setiap rel, melaju ke arah peron arah Jakarta. Tepat sampai Peron aku menunggu kereta berhenti, hap! Meloncat, duduk tepat di gerbong belakang. Aku ambil koran yang tergelatak di sana. Sebuah berita kriminal. Perkosaaan. Mahasiswa Ekonomi 2004, Mayang Putri Dewita.

Jadi, perempuan itu?            

Advertisements

April 19, 2011 - Posted by | Fiksi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: