friskainspiration

Just other sides of my life

Bersahabat dengan Autis

Aku memandangnya sedang terdiam di sudut ruangan. Merenung seorang diri.

“Itu anak autis, ya!”

Sebuah suara keluar dari mulut seorang teman di kelas. Kami semua tertawa lepas. Ia menoleh dan kemudian ikut tertawa. Begitulah tingkah pola kami terhadapnya,  kami semakin terbiasa memanggilnya dengan ‘Reza si autis’.  Ini lelucon segar buat lelaki seperti Reza yang pendiam dan perenung. Sedikit bicara banyak bekerja, sedikit berkumpul banyak menyepi. Sesungguhnya bukan karena ia autis dalam arti medis, tapi karena perilakunya yang kerap berbeda dengan sesamanya. Aku dan teman sebaya yang cenderung melepaskan segala rasa bersama dalam kata. Namun ia memilih berpikir dalam diam. Bahwa merenung adalah pelarian terbaiknya. Ia dan dirinya.

Kebiasaan itu telah menjadi sangat lumrah di antara kami. Menyapa dalam cela. Tak ada yang marah, tak ada yang tersinggung. Ketika salah satu teman kelas sedang merenung, maka serempak menyebutnya dengan ‘Grup Autis’, orang-orang yang suka menikmati kesendiriannya dengan kegiatan mandiri. Dalam banyak hal kita butuh waktu untuk meng-khusyukan diri terhadap sesuatu hal, namun tanpa basa-basi kita memanggilnya autis.

Hingga saat kelulusan tiba, satu yang dikenang dari sosok sang Reza perenung ini adalah kebiasaannya yang tak pernah berubah. Kelulusan tiba, coret-coretan di buku tahunan Reza menunjukan pencitraan yang sempurna tentang dirinya.

Mr. Autis, dont forget me!!

Gea 

Hey Reza Autis, jangan sering-sering bengong. Nanti kesambet!

Adrie

Dan aku tak kalah eksis memberikan kesan akhir masa SMA yang sama untuknya, tak jauh berbeda dengan anak yang lain.

Dear Reza, si Mr Autis yang suka merenung di pojokan kelas. Selalu inget gue yaaa..

Ayza

Riuh ramai sekolah menyambut perpisahan kami satu per satu menuju jenjang berikutnya. Setelah selesai memberikan kesan pada buku Reza,  aku mencari sesosok lelaki lain. Lelaki pendiam. Aku berjalan di sepanjang koridor sekolah, mencari sepenggal bahunya, atau aromanya yang sangat aku kenali, atau sepatu coklatnya yang tak pernah ia ganti sejak 6 bulan lalu. Aku melewati kerumunan, seperti seorang yang sedang berjalan di tengah pesta dansa. Berkali-kali mengucapkan kata permisi demi menemukan sosok itu, si wajah coklat bermata tajam. Pencarianku berakhir hingga aku dapatkan ia tepat di ujung koridor, sedang bersenda gurau dengan seorang karibnya.

Aku takut namun ada rasa lain yang mendesak, kapan lagi. Menatapnya dari jauh membuatku gemetar. Saat ingin membalikkan badan ada suara memanggilku.

“Ayza!” Aku berbalik, memasang wajah pura-pura kaget dan pura-pura mencari sumber suara. Padahal, jantungku berdegup.

“Eh, Bisma.” Aku menjawab dengan wajah yang dibuat sedemikian rupa kaget mendengar panggilannya.

Kami saling mengobrol sebentar, bertukar rencana hidup kedepan.  Aku bercerita tentang rencanaku masuk jurusan Komunikasi di Universitas Indonesia. Lalu ia bilang akan masuk Psikologi di Universitas Gajah Mada karena ia akan menemani neneknya yang sudah tua dan sendirian. Sejak dulu aku tahu bahwa ia berminat pada bidang kejiwaan manusia ini. Seringkali aku ditegur olehnya jika sedang meledek Reza.

“Za, kalau lo tau anak autis itu seperti apa, lo ga akan pernah tega sebut kata itu lagi!”

“Iya deh, ga bilang gitu lagi ke Reza.” Aku menjawab singkat, seadanya.

“Bukan cuma buat Reza aja. Masa orang asik sendiri sama buku dibilang autis, asik sama handphone dibilang autis.” Dari sekian banyak teman yang menggunakan kata itu, hanya aku yang diperingati oleh Bisma. Entah kenapa. Tak terlalu kupedulikan perkataannya. Bisma hanya menggeleng heran melihat aku yang ngeyel  dan lebih memilih menutup mata demi kesenangan bersama teman. Celaan mengasyikan, tanpa syarat.

Kami berpisah kota, aku tetap di Jakarta dan Bisma di Jogjakarta. Aku tidak akan melupakannya. Hingga suatu saat nanti ada kisah yang mengembalikan semua cela dan kisah. Aku akan mengerti apa yang dia katakan saat ini.

***

Semenjak kelulusan gelar kesarjanaan, aku belum mendapat pekerjaan. Sudah enam bulan menganggur, teman-teman yang lain sudah sibuk dengan pekerjaan lain. Sebagai seorang sarjana lulusan jurusan komunikasi di universitas ternama, aku tak juga mendapatkan pekerjaan yang layak. Padahal surat lamaran sudah kukirimkan ke segala penjuru perusahaan.

“Belum ada panggilang juga, Za?” Tanya ibu padaku.

“Belum, Bu. Geregetan deh bu. Masa sih aku ga dipanggil-panggil.” Aku menggerutu.

“Za, coba kamu lamar di sekolah Mentari, anak teman Ibu ada yang mengajar di sana.” Ibu menjelaskan sambil menuang teh ke dalam gelas.

“Jadi guru?” Aku kaget. Tak pernah terpikir olehku untuk menjadi seorang pengajar. Bertemu dengan siswa dan siap disapa dengan sapaan ‘Ibu Ayza’.

“Memang kenapa kalau jadi guru, Za? Asik kan? Ketemu dengan banyak orang.” Ibu menyahut tenang.

“Aku kan bukan sekolah pendidikan, Bu. Gak ngerti apa-apa tentang pendidikan.”

Ibu menjelaskan detil sekolah itu. Katanya guru di sana tidak harus memiliki background pendidikan tertentu. Syarat menjadi guru di sekolah tersebut hanyalah mau belajar dan punya apresiasi terhadap pendidikan anak. Asal punya keinginan apa pun bisa dipelajari. Dengan sedikit terpaksa aku  mengirimkan lamaran ke sekolah itu. Tak banyak berharap karena banyak surat lamaran lain yang aku kirim dan lebih aku tunggu kabar baiknya daripada sekolah Mentari ini.

Ketika sedang bersantai sore bersama ibu, ponselku berbunyi dari nomor yang aku tidak kenal. Hanya sebaris nomor telepon rumah.

“Dengan Ibu Ayza?” Suara di telepon terdengar lembut.

“Ya. Dengan siapa ini?”

“Bu, besok ditunggu kehadirannya untuk interview di sekolah Mentari jam sembilan pagi.”

Aku merengek kepada ibu. Setengah hati aku menerima panggilan ini. Entah takdir apa yang membawa tubuh kecil ini ke pada proses interview, Sang Maha Kuasa punya kehendak. Aku seorang lulusan universitas terbaik, dengan nilai yang juga baik tak juga mendapatkan panggilan kerja dari perusahaan mana pun kecuali sebuah sekolah yang baru aku kenal namanya dari ibu.

“Coba, Za. Kamu tidak akan pernah tau apa yang baik buat kamu kalau kamu tidak mencoba kesempatan, belum tentu diterima juga, bukan?”

Luluhku dalam bujuk rayu ibu. Belum tentu ini buruk dan belum tentu ini baik. Tiada yang tau mana yang terbaik dalam hidup selain aku mencoba. Esoknya aku berangkat ke sekolah itu dengan doa ibu. Doa terbaik yang aku minta agar tak tersesat. Aku cium telapak tangan ibu, kemudian ia berucap tulus.

“Takdir tak pernah tertukar, Za.” Aku tersenyum mendengarnya. Ada amunisi semangat yang menyuntik hingga ke aliran darah. Apa yang aku takutkan? Toh takdir tak akan pernah salah sasaran.

Sampai di sekolah ini ada yang berbeda. Sekolah yang terletak di pinggiran selatan kota Jakarta ini rindang dan tenang. Hijau di mana-mana. Dari depan hampir tak terlihat seperti sebuah sekolah, pagarnya bukan besi baja tinggi menjulang, hanya pohon bambu yang mengelilingi dengan kerendahan hati daun-daunnya menunduk. Jalannya bukan aspal, hanya tanah merah yang ditaburi batu kerikil. Kelasnya bukan tembok menjulang, hanya tiang-tiang bambu berjejer rapih. Lantainya bukan keramik, hanya lantai kayu yang menyejukan kaki jika dipijak. Ini beda dan ini menakjubkan buatku. Ini tidak seperti sekolah tapi seperti sebuah tempat bermain yang indah.

Di dekat pintu masuk terdapat empang kecil yang dikelilingi pepohonan. Terdengar gemercik air, beberapa anak sedang asik bermain air di dalam empang. Aku tertegun, terperangah melihat sebuah fenomena. Inikah sekolah sesungguhnya? Mereka tertawa, lepas. Tak ada beban karena harus menjaga utuh seragam yang tak boleh kotor. Di sini tanpa seragam, semua bebas berpakaian apa pun. Mereka membawa baju ganti yang juga bebas tak berseragam. Ini hidup. Asumsi awalku mengenai sekolah ini sirna, perasaanku meloncat-loncat melihat sebuah konsep sekolah tanpa sekat.

“Permisi, Bu. Silakan masuk ke dalam,” Seseorang mengagetkanku. Aku diminta untuk ke ruang kepala sekolah.  Beberapa menit kemudian kami keluar dan berjalan santai. Tidak ada wawancara yang mengerikan seperti yang terbayang sebelumya, duduk tegang di kursi dan saling berhadapan.  Ruang  kepala sekolah di sini tanpa kursi tanpa meja,  aku duduk beralas tikar bambu di  ruang kepala sekolah.  Setelah tanya jawab singkat mengenai latar belakang pendidikan aku dajak keluar, tidak tahu akan dibawa kemana oleh lelaki paruh baya yang sangat ramah ini. Matanya tajam, pengamat, dan pendengar yang baik.

“Silakan Ibu Ayza, di sana ada putra kami, namanya Afdol. Lihatlah, lima belas menit lagi saya tunggu di kantor. Kita bisa bicara lagi.”

Aku menghampirinya. Berjalan ke arah anak usia sekitar 11 tahun yang duduk menatap pohon. Pak Satrio meninggalkan aku dan Afdol berdua. Ada yang berbeda, seketika suasana hening. Jika kepala sekolah itu memintaku menemui lelaki kecil  berkaus hijau itu, pasti ia bukan anak biasa. Tak ada yang berbeda dengannya, tubuhnya agak gemuk, kulit leher putih dan bersih, wajahnya tak nampak karena aku menghampirinya dari belakang. Semua tampak seperti biasa. Kondisi riuh ramai mendadak hening di telingaku. Aku seperti berada di sebuah kotak kedap suara, jantungku berdegup kencang. Ia sedang asyik dengan sebuah kipas angin kecil. Tak ada yang dilakukannya selain memandangi baling-balingnya berputar.

“Afdol, sedang apa?” Aku memanggilnya. Ia tidak menoleh. Aku memanggilnya kembali, kutepuk pundaknya.

Ia menoleh spontan kemudian berteriak.

“Jangan ganggu aku! Pergi-pergi. Tidak mau!” Kemudian ia berlari pergi meninggalkanku. Aku kaget. Beberapa orang siswa sebayanya mengejar dan menenangkannya. Beberapa temannya yang lain mencoba menahan dan membuatnya berhenti berlari.

“Afdol, stop, diam! Afdol diam!” Dari kejauhan seorang anak memeluknya dan membuatnya tenang. Aku merasa bersalah, aku gugup, mereka semua menatap ke arah diri ini berdiri. Siapa Afdol? Apa dia gila? Aku penasaran. Semilir angin dari pepohonan menyapu kulitku, sejuk. Ranting pohon di sekitarku bergerak tertiup angin. Kuputuskan kembali ke tempat kepala sekolah, berjalan gontai.

Ini gila pikirku. Apa maksud dia mempertemukanku dengan bocah lelaki yang tidak jelas kelakuannya. Apa yang salah dengan semua, aku menyapanya dengan wajar dan sopan. Wawancara macam apa yang diinginkan oleh sekolah ini. Aku tak mampu merabanya. Dari kejauhan terlihat sosok Afdol yang sudah mulai tenang. Seorang lelaki paruh baya berbaju merah menggandeng tangannya, entah kemana.

Sampai di ruang Kepala Sekolah aku ceritakan yang terjadi. Pak Satrio mendengarkan dengan cermat dan menutup dengan senyum.

“Afdol adalah salah satu anak spesial di sekolah kami. Ia akan berteriak jika melihat orang yang baru. Banyak anak lain seperti itu namun dengan kasus yang berbeda. Ia sama seperti kita, tidak gila, ia juga manusia. Kami mengajak ibu untuk membantunya menemukan bintangnya.” Pak Satrio menjelaskan sambil tersenyum sedangkan aku masih tidak paham.

“Bu, sekolah kami tidak membutuhkan guru dengan title yang panjang. Sekolah kami tidak perlu lulusan universitas dengan nilai cum laude. Kami hanya menginginkan  orang-orang yang mau belajar dan peduli terhadap perkembangan anak-anak karena anak adalah penerus bangsa.” Ia mengambil nafas sejenak, “Jika ibu mau, ibu boleh magang dulu selama satu bulan, lihatlah sekitar, kenali anak-anak. Silakan belajar dan melihat dari alam karena alam mengajarkan kita banyak hal.”

Entah apa yang membuat aku begitu mencintai suasana ini seketika. Bayangan Afdol terlintas di kepalaku, ia lugu. Ada energi  yang menggerakkan kepalaku untuk mengangguk. Besok pagi aku datang kembali ke tempat ini. Tempat yang akan mengubah cara pandang dan kehidupanku. Aku tidak bekerja di sini melainkan bersekolah, sekolah kehidupan.

***

“Ayza.”

Ini hari pertamaku di sekolah ini, adakah seorang yang mengenalku selain Pak Satrio? Sesosok laki-laki muncul di hadapanku. Aku seperti berhenti bernafas untuk beberapa detik. Diakah? Bagaimana mungkin dia ada di sekolah ini.

“Kok diam? Apa kabar, Za? Ngapain di sini?” Ia bertanya. Ia masih seperti dulu tak ada yang berubah dari garis mukanya.

“Eh, iya, eh, kok kamu ada di sini, kamu juga ngapain?” Aku balik bertanya kikuk.

“Aku kan bekerja di sini Za, sebagai Shadow Teacher. Guru pendamping untuk anak-anak berkebutuhan khusus.  Jangan-jangan kamu sedang magang di sini ya? “ Aku tersenyum menjawab pertanyaannya. Takdir mempertemukan kami kembali setelah 4 tahun terpisah waktu. Ia memutuskan untuk bekerja di Jakarta.

Saat jam istirahat aku melihat Bisma asik menulis di sebuah blog. Aku iseng bertanya mengenai apa yang ia lakukan. Kemudian ia menceritakan kegiatannya dia selama ini. Selain mengajar ternyata ia juga berkampanye sosial terhadap fenomena Autis. Ya, sekolah Mentari ini adalah sekolah umum dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama. Tempat pendidikan tanpa sekat tanpa batas, sekolah adalah kebebasan tanpa paksaan. Sekolah bukan duduk manis di atas meja sambil melipat tangan. Sekolah adalah keriangan dan ketidakterpaksaan. Metode di sekolah ini sangat variatif, guru tak hanya duduk di kelas dan menerangkan segala macam teori, berhitung dan menggambar dari depan kelas, sedang si anak pikirannya sudah berfantasi karena lelah dan bosan. Belajar bisa dimana saja dan kapan saja. Di kebun, di atas rumah pohon, di saung dan di mana pun.

Siswa-siswa yang bersekolah di sini adalah anak normal pada umumnya. Mendapat kurikulum yang sama dengan sekolah lain, tidak ada yang berbeda selain suasana yang lebih santai dan dinamis. Yang menjadi sekolah ini semakin spesial adalah hadirnya beberapa siswa yang berkebutuhan khusus atau Autis yang tergabung di dalamnya. Anak autis tetap disatukan di dalam kelas dengan bantuan dari guru pendamping atau shadow teacher. Paling tidak di setiap kelasnya ada maksimal satu penyandang Autis.

“Mereka sama seperti kita, Za. Namun tidak banyak orang yang peduli terhadap anak autis. Sebagian menganggap autis adalah lemah mental, dianggap idiot, dianggap gila. Padahal mereka berbeda, mereka punya kolom diotaknya yang memungkinkan mereka untuk berkembang.” Bisma menjelaskan. “Tertarik ikutan peduli Autis?”, Bisma menembak dengan kalimat tanya. Aku diam.

Bisma mengajakku  menemui seorang anak, usianya sekitar 15 tahun. Ia sedang merajut kain, ia tarik benang dan kemudian menusuk lagi perlahan jarum ke kain putih.  Namanya Hana. Bisma menghampiri gadis cantik itu. Kulitnya bersih, hidungnya mancung, alisnya tebal. Wajahnya seperti orang timur tengah.

“Hana.” Bisma menyapanya. Gadis itu menoleh.

“Pak Bisma. Apa kabar? Pak Bisma sudah makan belum?”. Kemudian lewat seorang guru lain juga menyapa Hana. Ia bertanya dengan kalimat sama persis dengan yang tadi ia utarakan pada Bisma. Tak lama lagi lewat seorang guru dan Hana kembali menyapa dengan kalimat yang sama, tanpa tambahan, tanpa ada kata yang terlewat, hanya nama dari orang yang ia sapa saja yang disesuaikan.  Selanjutnya ia kembali menfokuskan dirinya pada rajutan. Asyik sendiri, tidak peduli pada suara teriakan teman-temannya di luar sana. Bisma memandangku dan ia mengerti aku sedang bingung.

“Berulang. Anak autis selalu bekerja dengan pola yang sama. Termasuk dalam menyapa seseorang.” Bisma menjelaskan polah Hana kepadaku.

“Hana, sedang apa?” aku menyapa, ia tidak menoleh. Kemudian shadow teacher Hana mengangkat dagu Hana, mata mereka saling bertatap dan sang guru berkata dengan nada tegas namun penuh rasa kasih.

“Ada yang mau berkenalan dengan kamu. Lihatlah Hana!” Kemudian Hana menoleh kearahku. Kami berkenalan. Ia mengulang namaku berkali-kali.

“Bu Ayza.  Bu Ayza. Bu Ayza, ya?” Kemudian ia tertawa dan kembali kepada pekerjaannya.

Lima belas menit aku memandanganya, ia seperti kebanyakan anak, tidak ada yang berbeda dari anak autis secara fisik jika kita tidak terlalu memeperhatikannya atau jika kita tak mengajaknya bicara. Kemudian Bisma mengajaku berkeliling sekolah. Melihat anak-anak tertawa, berteriak, berkubang bebas tanpa syarat. Anak-anak yang sehat secara psikis dan fisik berbaur menjadi satu dalam sebuah sekolah tanpa sekat.

“Kamu tidak mendampingi muridmu, Bis?”

“Alfa sedang libur seminggu ini, keluarganya sedang ke Bandung. Seminggu ini aku temenin kamu, Za. Kita mengenal lebih jauh sekolah ini, ya.”

“Bis, bisa tolong jelaskan semua yang terjadi di sini? Kenapa ada anak penderita autis di sini?”

Bisma mengajakku untuk duduk di sebuah saung. Saung berukuran 2 x 2 meter, bertingkat. Kami naik ke lantai atas, Bisma mengajakku melihat sekitar dari ketinggian.

“Za,  apakah menurut kamu orang tua cukup selektif memilih sekolah untuk anak-anaknya?”

“Iya.”

“Sekolah seperti apa yang menurut orang tua baik?” Tanyanya kembali.

“Dengan banyak fasilitas, materi lengkap dan mengajarkan banyak keterampilan.” Bisma mendengarkanku dengan baik.

“Tidak adakah orang tua yang tertarik menyekolahkan anaknya pada sebuah sekolah yang memiliki pelajaran sosial kehidupan? Pendidikan anak tidak hanya pada urusan kognitif, pada logika berfikir, tidak hanya matematika, IPA dan bahasa. Di kehidupan nyata kita semua lebih dari sekedar pintar tapi juga simpati. Kenapa ada anak autis duduk bersama dalam satu kelas dengan anak-anak lain agar kita semua tau bahwa mereka ada. Kita belajar toleransi dan memahami sesama, tanpa cela.”

“Autis itu apa?” tanyaku

“Autis bukan gila, bukan juga idiot. Mereka manusia biasa seperti kita. Hanya mereka punya keterbatasan utuk berkomunikasi dua arah dan interaksi sosial. Tapi mereka punya kelebihan yang harus digali, setiap anak autis sedang menemukan bintang kehidupannya. Hana yang mulai suka menjahit. Afdol yang lihai bermain rebana. Dan masih banyak lagi anak-anak autis lain yang memiliki bintang namun masih belum terlihat.” Dari kejauahan aku melihat seorang anak sedang berguling-guling di lantai. Bisma menunjukan anak itu kepadaku. Dia juga salah satu anak autis.

“Anak autis juga bisa seperti itu. Itu Faisal. Dia terlambat makan siang karena kantin terlambat mengirimkannya makanan box. Jika ada salah satu yang melenceng dari kebiasaan maka dia akan merasa ada yang salah dan tidak bisa menerimanya. Pikiran anak autis sudah terprogram. Mereka berjalan sesuai aturan yang mereka sepakati dengan dirinya sendiri. Jika ada yang tidak sesuai maka mereka akan mengamuk.  Seperti Hana, pernah ia mengamuk selama perjalanan dari rumah ke sekolah karena ia duduk di kursi depan mobil. Biasanya Hana duduk dibelakang, namun karena hari itu ibunya harus membawa barang-barang di jok belakang maka Hana harus duduk di depan. Kejadian itu merusak aturan yang sudah di atur dalam pikirannya. Sampai sekolah ia mengamuk sepanjang hari.”

Aku termenung mendengar segala penjelasan Bisma. Mereka sama seperti kita. Lalu aku terpikir sesuatu hal yang menggelayut. Bagaimana dengan orang tua mereka?

“Apa mereka bisa sembuh?” Tanyaku

“Tidak, namun mereka bisa berkembang.” Aku terhenyak. Sampai kapan mereka akan meraung jika keinginannya tidak terpenuhi, sampai kapan orang tua mereka akan mendampingi, kapan mereka bisa berangkat sekolah sendiri, bercanda, melempar gurau, dan berbagi asa bersama para sahabat sepermainan. Anak autis menghabiskan waktu hidupnya sendiri dan memiliki dunia sendiri. Sedangkan aku? Aku bisa tertawa menangis, aku punya kendali. Sedangkan mereka. Tatapan mata hilang entah kemana, tidak bisa fokus, matanya berlari cepat dari satu tempat ke tempat lain. Kulihat seorang guru harus memegang kedua pipi Hana dengan keras ketika Hana tak menjawab pertanyaan yang disampaikan. Tegas.

“Anak autis tidak perlu dikasihani, tapi kita semua harus tau cara memperlakukan mereka.”

Berbagai pertanyaan di kepala datang terus menerus bagaikan peluru yang berhampuran dari senapan. Aku kembali ke masa silam, mengingat seorang teman yang seringkali aku panggil ‘Si Autis’ karena ia suka menyendiri.

***

Ada rapat di sekolah, mengenai sebuah permasalahan pelik. Aku duduk di lantai kayu, tanpa alas. Ruang rapat begitu hangat walau  udara masuk bebas melalui dinding kami yang tanpa jendela. Seluruh guru di sini adalah manusia tanpa pamrih. Tulus, ikhlas memberikan diri mereka untuk pendidikan Indonesia, perlahan aku mulai bangga berada di antara mereka. Udara dingin bahkan terasa hangat di kulit karena pancaran kasih sayang seluruh manusia di ruang guru mengalun deras.

Kepala sekolah mengambil alih forum dan membahas sebuah permasalahan penting. Ada orang tua murid yang memiliki dua orang anak. Keduanya bersekolah di sini. Anak paling besar bernama Gada duduk di TK besar (TK B) yang kedua bernama Adit duduk di TK kecil (TK A). Dari yang aku dengar, masalah ini sudah cukup lama bergelinding, namun juga belum ditemukan titik terang. Dari informasi yang aku dapat dari Bisma, Adit adalah penderita autis Hyperaktive. Ia belum bisa bicara, tidak bisa fokus dan sering mengamuk kalau apa yang dia mau tidak ia dapatkan. Tak jarang juga Adit memukul dan menggigit untuk menunjukan emosinya. Saat itu aku duduk di perpustakaan dan melihat seorang bocah  masuk dengan tatapan berpencar tanpa arah, ia berjalan jinjit. Kemudian ia mengambil buku-buku yang entah berdasarkan apa. Beberapa menit aku mengamati tingkahnya hingga aku tahu apa yang dia lakukan.  Adit mengambil kira-kira sepuluh buah buku yang ukurannya sama, ia buka dan ia dirikan buku itu satu persatu bagaikan sebuah piramida. Kesepuluh buku itu ia banjarkan hingga membuat satu barisan lurus kebalakang. Setelah itu ia tersenyum. Senyum kemenangan.

Lalu dimanakah letak permasalahannya? Memiliki seorang anak autis adalah sebuah ujian berat bagi kedua orang tua. Bukan hanya berat secara fisik karena orang tua harus mendampingi si anak seumur hidupnya, tapi bagaimana dengan prilaku sosial yang mereka dapatkan. Tatapan sebelah mata dan pandangan orang terhadap ketidaknormalan anak mereka. Memiliki anak autis adalah sebuah kompleksitas pemaknaan kehidupan. Sebuah titipan amanah dari Sang Maha Pencipta, mengenai bagaimana keihkhlasan seorang hamba pada apa yang dititipkan olehNya. Namun jika ia dititipakan dua orang anak yang autis, apa yang terjadi?

Gada berbeda dengan Adit. Gada bisa bicara walau perbendaharaan katanya tidak banyak. Namun keduanya autis. Orang tua mereka bersikeras bahwa Gada normal sehingga tidak perlu diberikan pendamping dalam berkegiatan. Berbagai asumsi muncul dari orang-orang sekitar mengapa orang tua Gada bersikap seperti itu. Titik berat permasalahan ini bahwa berat menerima kenyataan untuk orang tua ketika tahu kedua anaknya penyandang autisme. Orang tua mereka bersikeras akan mengajaukan permohonan kepada Yayasan kalau Gada bisa bersekolah tanpa bantuan.

Kita duduk di sini mencari solusi untuk kebaikan Gada. Dalam tukar pendapat  aku belum mampu menyampaikan apapun, apalah arti guru magang yang bahkan belum ditempatkan di mana pun. Aku masih mengamati dan melihat sekitar, biasanya Bisma yang menemani. Belum ada proyeksi akan ditempatkan mengajar sebagai guru apa dan kelas berapa. Semua mungkin di sini. Seperti yang disampaikan oleh Pak Satrio saat aku pertama kali bertemu dengannya. Siapa pun bisa mengajar di sini asal ia mau belajar.

Lalu Bisma angkat bicara.

“Bagaimana untuk sementara waktu kita tarik saja dulu guru pendamping Gada. Biarlah kita ikuti perkembangannya. Biarkan orang tuanya melihat bagaimana perkembangan anaknya tanpa pendamping.” Bisma, ia masih seperti dulu.

“Untuk sementara, Bu Ayza bisa bantu observasi Gada.” Dia melirik dan tersenyum kepadaku.

“Ini pelajaran buat kamu, Za.  Supaya kamu tahu mereka lebih dekat. Hanya mencatat kegiatan yang dilakukan si Gada saja kok.” Bisma menghampiriku di perpustakaan sore itu sepulang rapat. Ia tahu aku kebingungan ketika rapat tadi ia merekomendasikanku sebagai obeservator untuk Gada.

“Aku bantu, Za.” Bisma mencoba meyakinkan. Aku tersenyum. Senin depan observasi dimulai. Koordinasi dengan guru kelas sudah aku lakukan. Dua  minggu ke depan aku hanya duduk dan mencatat seluruh yang dilakukan Gada tanpa membantu. Gada diperlakukan sama seperti 19 anak lainnya di kelas ini.

***

Hari pertama aku melakukan observasi untuk Gada. Secara fisik Gada adalah bocah yang menggemaskan, badannya gemuk dan bentuk wajahnya bulat. Ia datang ke kelas, meletakan sepatunya di atas rak sepatu, kemudian masuk ke kelas duduk di pojokan. Ia tertawa, bicara, berbisik, meloncat sendiri di pojok itu. Ketika wali kelas datang ia masih tertawa di pojok sana. Kemudian seorang anak menggandengnya untuk duduk di dalam lingkaran,  membuka kelas, berdoa dan memulai aktivitas. Jam pertama pelajaran TK B adalah Cerita Pagi. Setiap anak boleh menceritakan apa yang dia rasakan dan  ingin dia ceritakan. Semua bersemangat dan bergembira. Namun Gada tidak begitu, ia gembira tapi berbeda. Ia duduk menghadap keluar lingkaran sambil tertawa dan berguman sendiri.

Aku menghampiri dan kemudian mengubah posisi duduknya. Matanya berjalan ke segala penjuru sudut kelas. Saat sang guru menceritakan sebuah buku, ia malah keluar kelas dan pergi ke sebuah tempat. Aku yang penasaran mengikutinya dari belakang.

“Mau Spongebooob!!” Sebuah lengkingan panjang. Aku kaget dan spontan berlari ke arahnya. Tidak tahu sebab apa yang membuat lengkingan panjang itu keluar dari mulutnya, Gada marah dan berteriak. Ia menangis. Bisma menghampiri aku dan Gada.

“Gada, stop. Bicara yang baik.” Bisma meletakan kedua tangannya pada wajah Gada. Gada meraung sambil terus menyebut kata Spongebob.

“Mana Spongebob?” Tanya Bisma tegas. Bisma terlihat melihat sekitar, kemudian aku dengar hembusan nafasnya. Bisma seperti memahami sesuatu.

“Gada itu bukan punya kamu. Tidak boleh diambil. Dengar Gada, tidak boleh diambil.” Bisma perlahan dengan tegas menyampaikan kata-kata itu kepada Gada. Ia membawa Gada pergi untuk menenangkan diri. Di tanah lapang Gada menangis meraung hingga lelah. Di saat itu Bisma bercerita banyak tentang obsesi Gada pada segala hal yang berbau Spongebob. Tokoh kartun yang sering muncul di televisi sehingga ia mengenalnya dengan baik. Ia akan berteriak histeris jika ada orang yang menggunakan aksesoris Spongebob. Padahal seluruh perlengkapan yang ia gunakan sudah lengkap berbau Spongebob. Inilah salah satu ciri anak autis, memiliki kecenderungan terhadap suatu hal secara berlebih. Ia tidak dapat mengontrol emosi dan komunikasi timbal balik. Dibandingkan adiknya, Adit, Gada memang jauh lebih komunikatif. Mungkin ini yang dipertahankan orang tua mereka. Gada bukan anak Autis. “

“Tidak ada anak autis yang bisa sembuh. Namun mereka bisa berkembang dan diterima masyarakat. Kunci utamanya adalah bahwa orang tua harus membuka diri dan menerima kenyataan bahwa anak mereka autis. Jika itu tidak dilakukan maka semua pintu kesempatan akan tertutup. Jika mata hati lebih rendah daripada ego maka tak ada satu jalan terbuka untuk perubahan. Ini bukan untuk mereka, tapi untuk Gada.” Bisma menyampaikan.

“Seberapa bertahan orang tua Gada tentang hal ini?” Tanyaku.

“Sangat besar. Kita sempat tarik urat membahas masalah ini. Orang tua Gada bersikeras Gada bukan autis. Tapi kamu bisa lihat kan, Za apa yang terjadi pada Gada.” Di sana di rumput hijau bocah lelaki lugu itu sedang berguling dan meraung di atas rumput. Ia meracau tidak jelas. Kata-kata yang dapat aku tangkap hanya Spongebob dan Spongebob.

“Menjadi pintar bukan tujuan anak autis, Za. Mereka harus mendapat bekal bagaimana mempertahankan kehidupan. Kelak orang tua mereka akan meninggal, lalu bagaimana dengan mereka? Siapa yang akan mendampingi mereka, siapa yang akan menemani mereka ke kamar mandi, siapa yang akan memaksa mereka untuk mandi, siapa yang akan mengantar mereka ke tempat perbelanjaan? Sampai kapan? Anak autis harus mandiri dengan dukungan dari orang sekitar, keterbukaan orang tua terutama.”

Tak terasa air mataku menetes. Inikah dunia anak Autis. Di luar sana orang banyak menggunakan kata Autis sebagai bahan  ledekan. Tetasan air mata turun bersama raungan Gada. Aku ingin memeluknya erat namun sesungguhnya bukan itu yang ia cari. Jika orang tuanya mampu melepas segala egonya, aku yakin Gada akan sangat terbantu.

Dua minggu sudah aku di kelas Gada, mengamatinya, melihatnya. Gada membuatku pilu, ia menamparku. Inilah arti sebuah kesabaran dan keikhlasan. Gada sering menangis jika keinginannya tidak terpenuhi. Kadang ia tak mau makan, tak mau pulang, hanya mau minum susu. Padahal susu adalah salah satu yang tidak boleh dikonsumsi oleh penderita autis. Jika sudah memiliki keinginan maka ia akan meraung. Tak ada yang mampu menanganinya. Selama masa uji coba,  guru kelas fokus menjalankan kegiatan kelas seperti biasa tanpa memeperlakukan dia dengan istimewa,  Gada dianggap seperti anak normal lainnya. Akibatnya Gada sering ketinggalan kegiatan. Ketika kegiatan keluar kelas, ia masih asyik di sudut favoritnya. Ketika waktu makan tiba, ia masih memandangi tasnya yang bergambar Spongebob. Namun yang membuat aku haru adalah siswa di sini memiliki kesadaran tinggi untuk membantu tanpa diminta. Mereka paham artinya sebuah perbedaan yang Allah ciptakan. Semua sadar bahwa Gada berbeda sehingga perlu dibantu dan didukung. Usia mereka baru 5 tahun, namun empati mereka perlu diperhitungkan.

***

            “Sudah jadi laporan Gada, Za?” tanya Bisma kepadaku.

“Sudah.” Aku menyerahkan laporan dua minggu Gada tanpa pendamping. Semua aku sampaikan detail setiap harinya. Bisma membaca dengan seksama.

“Bagus, lengkap. Coba nanti kita bicarakan dengan Pak Satrio.”

Di ruang kepala sekolah kami membicarakan laporan observasiku kepada kepala sekolah itu. Ia membaca perlahan. Dua minggu ini aku tak henti mencari referensi tentang autisme. Gejala, penyebab dan segala hal yang berkaitan dengan autis. Laporan ini harus lengkap dan layak untuk dipresentasikan kepada orang tua Gada.

“Laporan Bu Ayza sangat lengkap. Tapi sejujurnya saya ingin masalah ini diselesaikan dengan baik. Tidak ada lagi adu argumen seperti pertemuan terakhir, bagaimana agar laporan ini bisa diterima dengan baik?”  Pak Satrio terlihat khawatir. Aku ingin bicara memberikan pendapatku namun takut, takut salah dan takut tidak diterima. Apalah artinya anak baru seperti aku.  Ilmuku tidak seberapa.

“Mungkin Ayza  punya ide, Pak.” Bisma melirikku. Bisma selalu bisa menebak apa yang ada dipikiranku. Kutarik nafas dalam, menepis ragu.

“Saya rasa kita semua tahu  masalah orang tua Gada adalah ketidakterimaan terhadap kondisi kedua anaknya. Jika ini terus menerus berkelanjutan, hal ini tidak disadari maka yang kasihan adalah Gada sebagai korban ego orang tua. Namun di satu sisi, saya mengerti betapa beratnya kondisi orang tua Gada yang harus menanggung beban moral dan fisik mengetahui kedua buah hatinya tidak seperti anak pada umumnya. Yang dibutuhkan orang tua Gada tak berbeda jauh dengan apa yang dibutuhkan Gada, dukungan. Saya menyarankan adakanlah pertemuan khusus orang tua penyandang autis di sekolah ini. Mungkin bisa semacam seminar khusus, tanya jawab seputar autisme. Semua bisa bicara, semua bisa cerita tentang apa pun termasuk kondisi anakknya. Acara ini memberi kesempatan dan ruang kepada orangtua Gada untuk melihat, mendengar dan merasakan kalau ternyata ia tidak sendiri.”

Usulku di sambut baik oleh Pak Satrio. Sebelum laporan ini diserahkan kepada orang tuanya, kami memilih jalan lain yang diharapkan bisa lebih bijak membuatnya tersadar. Menyadarkan dengan cara yang lebih elegan. Aku, Bisma dan Pak Satrio berharap besar acara ini akan memberi pencerahan. Tak lama waktu yang tersedia, seminar akan dilaksanakan hari sabtu ini, aku bertugas sebagai penanggung jawab.

***

            Tepat pukul sepuluh pagi kami semua berkumpul. Tak ada satu pun yang membawa anak mereka ke aula ini. Jumlah yang hadir ada 10 orang tua, tidak banyak. Di sana ada orang tua Gada dan Adit. Seminar kali ini dihadiri oleh seorang psikolog yang banyak membuat penelitian tentang Autisme. Isi seminar cukup menarik, membahas mengenai tipe autisme dan sejenisnya. Hingga bagaimana gejala ini meningkat drastis pada masyarakat, datanya adalah jumlah penderita autisme meningkat setiap tahunnya. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat  karena belum ada lembaga yang konsen memperhatikan jumlah kasus autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas.

             Selebihnya Ibu Nia hanya mencoba mencontohkan beberapa anak Autis yang berhasil menemukan keahliannya. Salah satu yang nyata adalah Angga, siswa sekolah Mentari yang telah mampu menerbitkan sebuah novel berbahasa Inggris yang berjudul Its Crazy. Novel tentang kisah pembunuhan berantai yang misterius. Angga penyandang ADHD,  Atention Deficit Disorder. Angga tak mampu memfokuskan dirinya dalam suatu keadaan atau kondisi, ia cepat sekali kehilangan konsentrasi  dan beralih pada hal lain. Namun seperti pada prinsipnya, setiap anak autis memiliki kolom kemampuan pada otaknya yang masih mungkin untuk digali. Ini terbukti pada Angga yang mampu menemukan bintangnya menjadi penulis buku, bahkan dalam bahasa asing. Terlihat semua orang tua tersenyum bahagia, ada harapan dan ada cita-cita. Aku melihat ke arah orang tua Gada dan Adit. Ia terdiam dan menunduk.

Autis bisa terjadi pada siapa saja tanpa mengenal suku, bangsa dan jenis kelamin. Sementara penyebab autis masih menjadi penelitian yang terus dikaji karena belum ada penyebab yang pasti. Dalam beberapa sumber autis disebabkan oleh karena imunisasi yang tidak tepat waktu, imunisasi MMR, keturunan dan makanan-makanan yang banyak mengandung pengawet yang masuk melalui si ibu saat ia hamil. Tidak ada yang tahu pasti, yang jelas ada kelainan neurologi sedemikian rupa sehingga anak menjadi autis. Ciri-ciri autis pun mudah dikenali sejak anak kecil. Dalam bidang komunikasi anak terlambat bicara, membeo atau echoalia yaitu mengulang kata atau kalimat yang ia dengar, bicara monoton seperti robot, seperti tuli namun akan menoleh jika ada suara yang ia suka.

Dalam interaksi sosial anak autis menghindar untuk bertatap muka, menolak jika dipeluk, tidak ada kemauan untuk interaksi dengan sekitar, dan tidak berbagi kesenangan dengan orang lain. Dalam perilaku bermain anak autis juga berbeda, ia tidak akan melepaskan satu mainan yang dia suka, keterpakuan pada sebuah benda yang berputar seperti roda dan kipas angin, anak dapat sangat aktif sekali dan diam sekali. Semua ciri ini dapat mulai dilihat saat anak memasuki usia satu tahun ketika gejala ini sudah mulai bisa diamati.

Ibu Nia menceritakan segala hal tentang autis. Hal yang harus dilakukan jika anak dicurigai mengalami gejala autis adalah periksakanlah ke dokter anak dan bukalah hati kita untuk memerima si anak, dengan kita menerima kita telah melangkah 50 % lebih jauh dari apa yang kita butuhkan untuk kemajuan si anak. Kalimat ini membuat seluruh orang tua menunduk, masing-masing kita berjalan dalam pikiran sendiri.

Hingga tibalah di sesi kisah inspiratif. Semua orang boleh berkata dan bercerita. Inilah saat paling menggebu dan mencampuradukkan emosiku.

“Anak saya bernama Imran. Usianya saat ini 12 tahun.” Seorang mulai bercerita tentang anaknya. “Irman suka sekali melukis. Suatu hari saya ke mall untuk sekedar bermain. Tak diduga ada lomba lukis di sana, Imran memaksa untuk ikut. Saya khawatir, Imran bukan anak biasa, dia spesial. Namun karena saya tak ingin mengecewakannya saya pun membiarkannya ikut lomba. Ia menikmati dengan senyum, saya bahagia. Tiba-tiba waktu habis, semua harus berhenti melukis. Saya katakan pada anak saya, terus nak’, lanjutkan. Namun melihat sekeliling sudah mulai merapikan peralatan Imran panik, ia menjerit, ia mengamuk dan seluruh mata tertuju pada saya. Saya malu, dia bukan anak biasa, dia spesial. Saya malu, saya sedih, seluruh rasa mencekam saya. Mengapa saya yang harus menanggung semua ini? Orang tua lain bisa leluasa tersenyum melihat hasil karya anaknya. Tapi saya, saya harus merayunya, menenangkannya, membuatnya berhenti meraung di sebuah Mall.”

Tak ada yang sanggup tidak menitikan air mata mendengar kisah Imran. Ini bukan ujian biasa, ini adalah ujian kesabaran luar biasa mengguncang  jiwa. Aku pun ikut dalam haru, bayanganku mengudara, seorang ibu yang mengandung anaknya selama 9 bulan dengan segala peluh doa, hingga akhirnya keluarlah sesosok tubuh mungil tanpa dosa. Dalam setiap langkah si anak doa orang tua tak pernah lepas dari ubun-ubunnya, jadilah anak yang baik nak’, jadilah anak yang sukses, mandiri, dan bermanfaat buat sekitarmu. Tak pernah terbayangkan anak yang ia besarkan, yang ia jaga dan doakan dalam setiap tidur malamnya tak seperti yang diharapkan.

Doa ini terjawab dalam bentuk yang lain, ia hadir untuk menguji kita, membuat orangtua menjadi kuat, menjadi tegar dan menjadi manusia surga karena telah dititipkan anak luar biasa. Aku hapus buliran air mata yang jatuh. Aku harus memiliki kendali untuk melanjutkan seminar ini. Kali ini giliran jatuh kepada orang tua Hana.

“Saya sudah sejak awal mengikhlaskan putri pertama saya sebagai penyandang autis. Saya yakin dengan saya membuka diri maka kondisinya akan lebih baik. Hana berbeda dengan anak autis lainnya. Ia sama sekali tidak pernah menangis, tak setetes pun air mata pernah membasahi pipinya. Dalam kondisi apapun ia akan tersenyum, dimarahi ia akan tersenyum tak lama kemudian ia akan kehilangan fokus, tatapan matanya pergi entah kemana. Jika banyak orang tua mengeluhkan anakknya yang cengeng, mudah menangis, maka saya adalah orang tua yang tidak memiliki itu semua. Saya merindukan tangisan Hana. Tangis masa kecilnya dengan air mata. Saya ingin sekali menggenggam air matanya walau hanya satu tetes. Saya ingin sampaikan kepada orang tua di luar sana yang memiliki anak normal, berbahagialah karena masih dititipkan anak yang bisa meneteskan airmata. “ Kondisi kembali haru. Semua terisak.

Kisah demi kisah mengalir dari mulut orang tua siswa. Hingga giliran itu datang kepada orang tua Gada dan Adit. Ini yang aku tunggu sejak awal. Beberapa detik kondisi hening. Tak sepatah kata pun yang  terucap dariEli  selain bulir air mata. Aku tahu beban berat yang ada di pundaknya sedang ia tumpahkan dalam air mata.

“Saya punya dua orang anak. Gada dan Adit.” Ia mencoba menahan tangis. “Mereka hanya berbeda satu tahun. Keduanya berbeda dalam karekter. Gada sangat pendiam dan jarang sekali melakukan aktivitas fisik. Sejak usia dua tahun ia tak pernah lepas dari televisi. Ia bisa menyaksikan televisi selama berjam-jam lamanya. Sedangkan Adit kebalikan dari Gada. Ia tak pernah bisa duduk dalam waktu lama. Ia selalu berloncat, melengking, mencakar dan berlari. Saya menerima kondisi Adit yang telah dieksekusi sebagai penyandang autis. Hingga saat ini ia belum bisa bicara, komunikasi dan meyampaikan apapun. Ia hanya diam, berlari, meloncat, tersenyum dan tertawa sendiri. Sejak awal saya mengakui bahwa Adit butuh terapi. Tapi kalau Gada..” Ia terhenti, ia menangis, suasana hening.

“Jujur ketika saya datang ke sini tadi pagi saya belum mengakui bahwa Gada adalah autis. Saya bersikeras, saya membohongi diri saya sendiri bahwa saya memiliki dua orang anak autis. Saya tidak terima dengan apa yang saya miliki. Saya masih yakin bahwa Gada normal. Namun melihat kondisi ini saya merasa tertampar. Kisah Imran pernah terjadi pada saya. Saat itu kami sedang berjalan di Mall dan Gada melihat badut Spongebob. Ia meraung, ia menangis, seluruh Mall melihat saya dengan tatapan aneh. Tapi saya masih berbohong pada diri saya, tidak mungkin saya memiliki dua anak autis. Di sini saya sadar saya tidak sendiri.”   Ia menangis lepas. Banyak pelukan mendarat di bahunya. Semua menangis, aku pun tak bisa menahan emosiku.

Seminar ini adalah seminar terbaik yang pernah kuikuti. Usia 22 tahun dan aku bersyukur bisa dikenalkan dengan ini semua. Ini adalah takdir bukan kebetulan aku terhempas di sekolah ini. Dulu aku bukan anak muda yang peduli, aku bukan anak muda simpati, berkata seenak hati tanpa pernah mencari tau. Lo dari tadi mainan hape aja, autis deh lo!  Masih layakkah kata-kata itu terucap dari bibirku atau bibir siapa pun?

 Kini aku tahu, apa yang diperjuangkan Bisma sejak SMA dulu. Say No to Autism as a Joke! Jika siapa pun ada di sini, maka tak ada satu pun orang yang mampu menggunakan kata autis sebagai bahan ejekan untuk menggambarkan orang yang suka menyendiri. Tak ada satu pun yang mampu menyebutkan autis sebagai istilah untuk orang yang menghabiskan waktu bersama hobi, handphone, komputer dan lainnya.

Kini aku dan Bisma sibuk mensosialisasikan gerakan peduli autism. Gerakan Say No To Autism as a Joke! Khusus ditujukan kepada generasi muda Indonesia. Mereka harus tahu bahwa menggunakan kata itu sebagai bahan ejekan itu kejam, mereka harus paham bagaimana autis itu, apakah autis itu dan  autis itu nyata dan mereka perlu di dukung dan diterima masyarakat.

***

Pagi itu kami berjanji berkumpul di Monas untuk pertama kalinya setelah satu tahun kita tidak bertemu. Aku baru saja pulang dari Australia. Sekolah Mentari mengajariku banyak hal dan membukakan mata hatiku atas segala hal yang tak mampu dilihat oleh mata. Sekolah itu telah menginspirasiku untuk melanjutkan studi dan memfokuskan diri  untuk perkembangan anak. Satu tahun aku habiskan di negeri kanguru untuk mengambil program Magister jurusan Psikologi, program beasiswa yang aku ajukan ke universitas tersebut lolos aku dapatkan.  Jika jalan  hidup berkelok, maka itulah yang aku alami. Sang Maha Penentu membuatku berbelok mengambil studi komunikasi sebelum aku menyadari apa yang terbaik buatku. Satu tahun ini aku tetap berkomunikasi dengan Bisma. Bisma banyak bercerita tentang semua murid-murid. Hana yang sekarang sudah menerima orderan baju dari beberapa teman dan guru. Irman yang sudah berhasil membuat beberapa lukisan dan ada yang membelinya, dan Gada yang sudah mampu menyanyikan sebuah lagu dengan lengkap dan tepat tanpa perlu diiming-imingi stiker Spongebob. Aku merindukan semua itu, merindu mereka dalam setiap mimpiku. Dan satu rindu lagi yang selalu tersimpan di hati, terpendam.

Aku membuat janji di Monas bersama Bisma dan beberapa orang tua Sekolah Mentari. Hari ini ada acara Walk For Autism. Sebuah acara yang diadakan oleh Yayasan Peduli Autisme sebagai bentuk kepedulian terhadap penyandang autis. Aku lirik jam menunjukkan pukul 07.00. Suasana taman Monas begitu ramai oleh lalu lalang masyarakat yang lari pagi. Pemandangan lainnya adalah hilir mudik baju biru  di mana-mana. Seragam hari ini adalah biru, aku pun menggunakan kaus biru dan celana jeans biru. Dalam lalu lalang arus orang yang banyak, aku melihat sesosok anak yang baru saja keluar dari mobil, ia melihat sekitar kemudian tersenyum. Entah, apakah anak itu tahu bahwa ia sedang berada di antara teman-temannya sesama penyandang autis. Ia berlari bebas, tanpa arah dan tanpa fokus, namun ia punya senyum terindah.

Aku mencari sosok Bisma. Jantungku berdegap. Seperti apa ia saat ini, setelah satu tahun aku pergi ke Autralia. Memandangi mereka satu persatu, dengan senyum dan tawanya membuatku mengalir dalam keadaan ini.

“Apa kabar ibu Ayza?”, aku menoleh. Bisma, sosok itu. Menggunakan t-shirt biru muda dengan tulisan Care Autisme Right Now.

“Eh, Bisma.” Aku kikuk.

“Sehat, Za? Kok kamu kurusan sih?” Bisma memulai percakapan pagi ini. “Pasti kurus karena ada yang dipikirin.”

“Mikirin apa? Sok tau deh kamu?” Jawabku.

“Mikirin aku.” Kemudian ia tertawa. Dan aku tersedak. Kalimat Bisma membuatku menjadi salah tingkah namun Bisma segera mengendalikan.

“Za, lihat deh itu siapa yang jalan ke sini?” Bisma menunjuk ke sebuah arah. Kemudian datang dua orang anak yang didampingi kedua orang tuanya. Wajah itu, wajah mereka yang juga aku rindu. Gada dan Adit. Adit masih belum bisa bicara namun kemampuan toilet training-nya sudah mulai ada kemajuan. Aku memberikan sapaan lima jari kepada Gada.

“Gada, give me five!” Kami beradu telapak tangan. Gada diam menatapku.

“Gada, siapa aku? Kamu ingat.” Ia diam sebentar lalu memeluk aku.

“Ibu Ayza. Ibu Ayza.” Ia berceloteh berulang. Kami berpelukan. Gada mulai membaik seiring terapinya yang juga mulai berjalan. Ibu dan ayahnya telah menerima Gada dengan kondisinya sebagai penyandang autisme. Gada mulai diikutkan pada beberapa terapi khusus untuk anak autis. Aku senang sekali melihat kemajuannya. Ibu Gada memelukku dan mencium kedua pipiku. Ia mengatakan bahwa tanpa seminar itu mungkin hingga kini ia masih mempertahankan egonya, tak mengakui kondisi anaknya.

Pagi itu semua berjalan lancar. Senyum ratusan anak autis di Monas lebih membuatku bahagia dari apa pun. Mereka berhak mendapatkan pengakuan dan perhatian. Seperti autis yang dapat menyerang siapa pun. Dalam renunganku, Bisma mengagetkanku.

“Za, aku ada sesuatu buat kamu.” Bisma menyerahkan sebuah kotak.

“Apa ini, Bis?” Aku masih menatap kotak itu heran.

“Buka aja, Za.” Jawab Bisma lembut. Kemudian aku membukanya.

“Bisma. Ini serius? Kamu kok bisa..ini gimana…”

“Iya Za, sebelum kamu pergi ke Australi, kamu kan kasih aku buku harian kamu selama di sekolah Mentari, kamu cerita semua kegiatan kamu bersama anak-anak di buku ini. Aku tahu kamu benar-benar sayang sama mereka. Kamu tulus bercerita setiap kata. Kamu banyak belajar dan cari tahu tentang dunia kesehatan anak autisme, dunia pendidikan, anak-anak dan semua hal. Aku pikir semua kisah kamu ini bagus, semua orang harus tahu. Jadi aku buat catatan harian kamu jadi buku. Banyak Za yang sudah mau beli buku ini.”

Aku tersenyum. Bisma ternyata membaca buku harianku. Aku ingat saat itu Bisma mengantarku ke Bandara. Ia memberiku mantel bulu.

“Aku yakin kamu ga kepikiran buat bawa mantel, padahal di Australia nanti kamu akan ketemu winter.” Bisma menyerahkan mantel bulu coklat muda untukku.

Aku yang tidak mempersiapkan apa pun menyerahkan buku harianku untuknya. Dan ternyata ia membacanya halaman perhalaman. Aku bersyukur dipertemukan takdir olehnya, kami memiliki kecenderungan yang sama terhadap dunia pendidikan dan kesehatan. Kita pernah saling bercerita tentang sebuah keinginan dan cita-cita yang ternyata sama seperti Bisma. Kami ingin  membuat sebuah yayasan untuk anak autis bagi orang tua yang tidak mampu. Biaya terapi cukup mahal dan terapi harus berjalan rutin berkala. Aku dan Bisma terpikir untuk membuat tempat terapi gratis untuk siapa pun. Selain itu kami juga ingin berkampanye makanan sehat untuk ibu hamil. Hindari makanan berpengawet pada masa kehamilan untuk mencegah kelainan pada anak. Satu lagi yang paling penting yang selalu diperjuangkan oleh Bisma. Say No To Autism as A Joke! Itu adalah salah satu bentuk simpati kita yang paling minimal kepada penyandang autis.

“Za, aku mau tanya sesuatu?”

“Apa?”

“Setelah aku baca buku harianmu, ada satu di halaman terakhir yang mau aku tanya. Puisi di halaman paling belakang untuk siapa ya?” Aku seperti tersengat lebah.  Tak mampu menatap wajah Bisma. Pasti wajahku merah padam saat ini. Ketika meyerahkan buku itu aku lupa dengan puisi itu.

“Hah, yang  mana, aku  lupa.” Aku menjawab sambil beranjak dari dudukku di trotoar Monas. “Aku laper nih, Bis. Makan yuk!” Aku mengalihkan topik pembicaraan. Bisma hanya tersenyum dan mengikuti keinginanku.

“Kalau orangnya tahu pasti seneng banget deh dibuatin pusi seindah itu.” Bisma tersenyum, aku tahu dia sedang menggoda. Aku rasa dia tahu puisi itu untuk siapa. “Ayo deh makan, mau makan apa sih  Bu Ayza?” Kami berjalan ke arah stasiun Gambir. Di sana semburat matahari pagi sedang memancar, belum terlalu panas.

lelakiku, jalan takdir ini mempertemukanku padamu

untuk membuatku menemukan ketersesatan pada sebuah pilihan

            engkau ksatria seperti namamu

            lelakkiku, jika nanti aku pergi sejenak dan kembali

            aku mau kau tau ada yang malu-malu di sini

            menyimpan rasa dalam cawan warna

            untukmu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*) Bisma adalah nama seorang ksatria dalam tokoh perwayangan

Advertisements

April 30, 2011 - Posted by | Fiksi

1 Comment »

  1. WELL WRITTEN, Adis!

    Comment by Anda | May 2, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: