friskainspiration

Just other sides of my life

Berdamai dengan Perspektif

Ini kisah nyata yang seluruh kejadiannya tidak terduga, mirip dengan film-film kebanyakan. Seperti tak percaya namun ada, teman saya namanya Anda, dia tinggal di Bali dan memiliki pacar orang Bali. Pacarnya ini bernama Mat, warga negara Inggris. Pada suatu hari Mat kecelakaan motor hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Ternyata kecelakaannya cukup parah, entah apa yang terjadi dengan kepalanya hingga harus ada oprasi tulang paha yang harus dipindahkan untuk merekontruksi tulang kepalanya. Saya sungguh tak membayangkan bagaimana oprasi itu berlangsung.

Kondisi Mat koma cukup serius. Anda, teman saya itu tak bisa dihubungi lewat apapun. Saya bbm tidak di balas, telepon ia hanya menjawab sepatah kata kemudian di tutup. Hanya menangis dan menangis. Ia berkali-kali membuat notification di Facebook meminta bantuan dana, karena oprasinya cukup memakan biaya besar.

Dokter yang menangani Mat mengatakan ia harus dilarikan ke Perth. Pertanyaan saya saat itu, kenapa Perth? Tapi saya mau tanya ke Anda juga tidak mungkin karena kondisinya sedang tidak stabil. Saya pikir sudahlah, mungkin dananya juga ada untuk ke Perth. Namun ternyata kenyataannya tidak seperti itu, keluarga Mat tidak punya cukup uang untuk melakukan segala oprasi tersebut. Lagipula, Mat bulan depan rencananya akan ke China dan paspornya ada di kedutaan China di Jakarta. Bisakah diambil? Ternyata tidak semudah itu, ada prosedur yang harus dilakukan dulu untuk mengambil pasport itu. Saya bbm Anda untuk menguatkan, ia hanya bilang ia tak kuat. Kondisi Mat sangat kritis tapi kenapa prosedural tersebut masih saja berlaku. Saya bilang pada Anda, harus kuat, Anda. Lo pasti kuat, lo hanya lelah, Mat butuh lo.  Saya juga sama sedihnya dengan dia, dalam diam pertanyaan saya sejak awal hadir kembali, Kenapa harus ke Perth?

Saya tau Anda sedang berjuang untuk Mat, ia menghubungi segala pihak untuk mempermudah keberangkatan Mat ke Perth. Ia menghubungi kedutaan China, kedutaan Inggris dan semua yang mampu ia hubungi. Ia juga sudah menghubungi konsulat Inggris di Bali. Hasilnya saya kurang tahu persis, tapi rasanya tak berhasil.

Waktu itu saya bbm Anda dan bilang padanya, kalau ini urusan antar dua negara, Inggris dan China. Jikapun ada prosedur yang harus dilalui untuk mengambil pasport Mat satu-satunya cara adalah potong kompas dengan jalur diplomasi. Konsulat Inggris harus berdiplomasi dengan Kedutaan China. Saya tak yakin ini berhasil, tapi toh setiap kedutaan bukankah seharusnya melakukan perlindungan dan bantuan untuk warga negaranya. Saya tak membayangkan Kedutaan Inggris selemah kedutaan Indonesia di Arab Saudi ya, saya berpikir kondisi kedutaan Inggris jauh lebih baik, mengingat Inggris adalah negara yang cukup mapan.

Saya mencoba menghubungi seorang teman saya, kami kenal di twitter. Ia seorang dokter yang sangat pro dengan kebenaran, dokter tanpa kepentingan dan tanpa sponsor. Saya tau reputasinya, untuk itulah saya menghubungi dia untuk konsultsi masalah Mat.  Saya ceritakan kondisi Mat. Ternyata ia juga menimpali dengan hal yang sama, Kenapa harus ke Perth? Lalu dia cerita tentang kondisi perdokteran di Indonesia, tapi saya tak bisa tulis di sini karena blog terlalu ‘bebas’ saya tak mau issue itu menguap seperti bola tak bertuan. Intinya ia menyarankan tak perlu ke Perth. Indonesia juga mampu melakukan oprasi itu. Ia menyebutkan rumah sakit di Jakarta dan nama dokter yang mampu menangani kasus Mat. Kemudian saya menginfokan ini ke Anda. Saya tak teralu memikirkan apakah Anda menerima data yang saya dapat, saya bilang padanya, saya hanya mencoba mencari tau yang terbaik, mungkin saja apa yang saya lakukan dapat membantunya. Saya bbm dia tentang apa yang teman saya sampaikan tersebut. Keluarga Mat semua orang Inggris, tipikal orang bule memang saklek, jika dokter mengatakan A maka mereka akan mengikuti. Jadi semua diserahkan lagi pada keluarga Mat.

Saya tak tau lagi bagaimana kabarnya, hingga saya dengar bahwa Mat dibawa ke Singapura. Saya sedikit lega, tak perlu dibawa ke Perth. Kondisi Mat semakin mambaik katanya. Anda juga sudah dapat tersenyum lagi. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat dalam peristiwa ini. Ya, seperti yang Anda bilang ke saya, jika suami saya yang ada di posisi Mat pasti saya akan sedih sekali. Saya tahu apa yang Anda rasakan karena saya punya orang yang saya sayangi juga. Namun memang rasionalitas kadang terhalang oleh perasaan, khusunya dalam keadan sekalut itu. Suatu malam saya chat dengan teman baik saya, Dain, dia sedang sekolah di Belanda. Saya dan dia membicarakan masalah yang sedang menimpa Anda, Anda kalut dan tak mampu berpikir rasional. Jika ia lebih tenang mungkin kondisnya akan lebih baik, ia sebagai orang yang dekat Mat pasti akan sangat tahu apa yang terbaik. Rasanya saat itu saya ingin memeluk Anda untuk sekedar menguatkan dan membantunya berpikir lebih jernih.

Mau menyalahkan siapa? Kedutaan China? Mereka toh punya prosedur. Rasanya memang tak humanis, ada orang koma kok tetap ya ditanyakan surat-surat? Dinama rasa kemanusiaannya? Namun itu kan prosedur, setiap hal ada aturan yang berlaku, ada hal-hal yang mana itu diluar kemampuan kita. Jika si bagian administrasi kedutaan China mengetahui kondisi Mat saya yakin secara pribadi ia pasti mau membantu, tapi toh ia hanya seorang staf yang hanya punya wewenang menjalankan apa yang sudah menjadi prosedur. Jika segala prasyarat tak dipenuhi tapi pasport tetap dikembalikan ke Mat tentu dampaknya akan sangat panjang, apalagi urusan hubungan internasional. Tak semua mampu kita atasi, banyak hal di dunia ini yang di luar kuasa kita, termasuk takdir. Saya selalu bbm Anda untuk bilang, “Anda, minta sama yang Maha Kuasa…” atau “Anda solat, minta langsung sama yang punya segalanya…”. Saya tak mampu menyalahkan siapapun, karena saya, Anda, kita semua masih punya yang Maha Tinggi yang dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan mahluk apapun di muka bumi ini.

Berdamai dengan perspektif, itulah yang coba saya lakukan. Semua insan, semua benda, semua yang ada di muka bumi sudah ada bagiannya masing-masing, baik yang dibuat alam ataupun dibuat manusia. Semua punya alasan dan semua punya sebab. Jika saya menggunakan kacamata saya maka saya tak akan habis berkeluh dan meratap karena tak semua hal di dunia ini sesuai kemauan saya. Ada kalanya kita tak mampu menaklukan aturan yang ada, itulah titik dimana saya akan serahkan kembali pada sang sutradara kehidupan.

Saya ikut berdoa untuk Mat, selalu. Saya pun tak ingin Anda kehilangan orang yang ia sayang. Senang rasanya mendengar Mat sudah selesai menjalankan oprasi dan dapat kembali berkomunikasi.

Advertisements

August 2, 2011 - Posted by | Non Fiksi

2 Comments »

  1. adis, emang matt udah sadar ya? i do not know about that…
    anyway, check your spelling… ada yang salah ketik tuh, hehehe… *tetep kasih kritik*

    Comment by Meida | August 3, 2011 | Reply

  2. Kemaren gw chat sama Anda di skype, katanya Mat belum sadar tapi uda ada perkembangan sedikit.. jari tangannya uda mulai bergerak.. sekarang sih mereka lagi berusaha supaya bisa bawa Mat balik ke negaranya, mungkin di sana dia bisa dapet perawatan yg lebih baik lagi dan mungkin lebih mudah kalau dibawa ke sana..

    Comment by Gie | August 3, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: