friskainspiration

Just other sides of my life

Bertemu dengan Si Ocha

Malam minggu lalu saya bertemu dengan teman kuliah saya, namanya Ocha. Dulu kami sempat dekat di semester pertama, kami satu kelas dan sering bersama-sama. Kemudian semester berikutnya kami berbeda “jalan”, saya tertarik dengan organisasi di Senat Mahasiswa sedangkan Ocha yang memang cinta menari masuk ke Liga Tari UI. Semenjak itu saya benar-benar jarang berkomunikasi dengannya hingga lulus kuliah. Ocha sulit sekali ditemui karena jenjang dia di Liga Tari UI sudah bisa diakatakan senior. Kerjanya melatih menari, misi kebuadayaan dari satu Negara ke negera lain dan berbagai kegiatan pertunjukan Liga Tari lainnya.

 

Dulu kami menghabiskan waktu untuk ngobrol-ngobrol, ketawa-ketawa di kantin. Nah, sabtu kemarin saya bertemu dia untuk urusan bisnis. Yah, hidup itu cepat sekali berlalu ya, kehidupan berjalan, kebutuhan pun juga berubah. Saya belakangan jarang sekali nongkrong di mall, café atau sejenisnya untuk menghabiskan waktu. Saya juga tidak tahu kenapa, tapi bisa jadi seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa kebutuhan pun berubah. Bertemu Ocha ini pun dengan rancana yang sudah disusun jauh-jauh hari, Ocha sibuk saya pun demikian. Memilih PIM juga karena di tengah-tengah, dia dari Ciputat saya dari Depok. Dari pertemuan kemarin saya ngobrol banyak dengan dia dan saudara sepupunya. Dari bisnis hingga idelisme kehidupan. Banyak yang saya renungi dari pertemuan kemarin.

 

Singkatnya begini, Ocha ini punya lembaga bimbingan belajar yang ia kelola bersama sepupunya tersebut. Bimbel itu berkaitan erat dengan usaha yang sedang saya kerjakan saat ini. Saya berencana memberikan program profiling untuk siswa-siswa di bimbelnya. Kira-kira begitulah singkatnya, ribet juga kalau dijelasin panjang lebar. Tapi, bukan itu yang membuat saya terkesan, malam itu Ocha dan sepupunya bercerita bagaimana sih awal mula mereka membuat bimbingan belajar. Mereka dari awal sangat amat tidak ingin kerja kantoran, menurut mereka kerja kantoran itu menyiksa. Kalau kata Ocha dia dari awal lulus kuliah memang tak ingin kerja kantoran. Yang ada dipikirannya hanya menari dan menari. Jika pun harus berpenghasilan ya tidak dengan kerja kantoran. Wow, si Ocha yang badannya kecil mungil kaya bola bekel gitu idelismenya ternyata berbanding terbalik. Dia juga bilang, “Gue sih kasian liat orang yang kerja, berangkat pagi pulang malem kaya gak punya kehidupan.”

 

 

Sulitnya membangun usaha berbanding lurus dengan sulitnya mendapat restu orang tua. Tidak semua orang tua yakin punya usaha sendiri akan sukses. Namun karena niat dia sudah bulat bahwa tidak akan kerja kantoran maka ia dan sepupunya membuat usaha bimbingan belajar ini. Sederhananya begini, jika yang dikhawatirkan orang tua adalah masalah kemapanan finansial maka dengan bimbel ini mereka akan membuktikan, tanpa kerja kantoran kita bisa kok hasilin uang. Ternyata terbukti kan, memang tak banyak seperti orang kantoran tapi kan namanya juga baru merintis. Istilahnya yang kira-kira tepat untuk mereka mungkin adalah : dewasa lebih cepat dan menjadi lebih tahan banting. Ocha dan sepupunya yang juga alumni yang masih aktif ikut liga tari sering bolak-balik ke luar negeri jika ada project kebudayaan. Jika pulang dari misi kebudayaan dari luar negeri anggota penarinya dapat uang saku. Pada umumnya mereka akan pakai uang jerih payah tersebut untuk beli gadget baru, belanja barang ini dan itu, sedangkan Ocha dan sepupunya memilih untuk menyisihkan uang mereka membeli peralatan bimbingan belajar seperti meja, kursi dan lain sebagainya. Sekarang memang masanya merintis karir, nanti kalau sudah mapan mau beli apa saja juga bisa, insya allah.

 

Kerjaan yang mereka jalanin kebanyakan sosialnya. Tidak terlalu hitung-hitungan banget lah. Mereka percaya kalau kita berbuat baik, menolong banyak orang, rejeki akan ngalir begitu saja. Jangan takut tidak kebagian rejeki kalau kita berusaha. Obrolan kami rasanya tak terputus-putus jika bukan karena waktu magrib. Dari mulai ngobrolin tentang ladang amal yang begitu luas kalau kita bikin usaha sendiri , saya dan mereka sepakat ketika kita punya usaha sendiri pintu untuk berbuat kebaikan itu dimana-dimana. Kalau mau kasih orang gratisan karena orang tersebut tidak mampu ya kita tinggal kasih tanpa harus dimarahin bos. Kedua, kita bisa masuk kerja jam berapa saja. Si Ocha kalau berangkat ke kantor jam 10 pagi, setelah leyeh-leyeh dan nonton tivi dulu.

 

Masalah leyeh-leyeh dan santai itu sih relative ya, tak selalu juga kerja sendiri bisa santai-santai, beban pikirannya juga banyak bahkan kadang sampai kebawa tidur. Jadi pegawai juga gak dosa kok asal tetap jujur, tidak makan uang perusahaan, tidak korupsi, dan bekerja di perusahaan yang bersih juga. Itu masalah pilihan saja.

 

Intinya dari pertemuan saya dengan dia sih, ada satu point yang menempel di kepala saya dan buat saya seger lagi.

Buat apa cari uang sampe bergunung-gunung kalau hidup lo gak memberikan manfaat apa-apa untuk orang yang membutuhkan? Lo akan menemukan hakikat kebahagian ketika lo bisa membahagiakan orang lain!

 

Kami keluar dari Dunkin Donuts, saya dan suami menuju lantai dua untuk shalat sedangkan Ocha langsung ke suatu tempat lagi karena kebetulan dia sedang tidak shalat.

Advertisements

November 15, 2011 - Posted by | Non Fiksi

1 Comment »

  1. Nancep banget di bagian.. Pergi pagi pulang malem banget, stres di jalan krn macet.. Kaya ga punya kehidupan. Semoga yah, suatu hari bs ngikutin jejak kalian ! Lanjutkan !!

    Comment by Dhiesta | December 11, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: