friskainspiration

Just other sides of my life

Mie Ayam

Dear penikmat blog saya, sudah lama sekali kita tak berjumpa dalam ruang kata ini. Tak usah ditanya mengapa, pasti penjelasan apapun ujung-ujungnya klise. Semua kembali kepada niat menulis. Mungkin kalau saya sudah bisa dapat uang dari kegiatan menulis ini saya jadi rajin nulis ya, hehe. Duit memang selalu jadi motivasi.

 

Siang cerah ceria ini saya mau cerita tentang kisah Mie Ayam. Saya ini penggemar fanatik Mie Ayam atau Bakmi. Sejak kecil Ibu saya senang sekali beli Mie Ayam yang dijual sekitar rumah. Biasanya sore, sehabis mandi Ibu meminta saya untuk beli Mie Ayam di dekat rumah. Saat ternikmat dalam ritual makan Mie Ayam adalah ketika saya bisa makan satu mangkok sendirian, tapi itu jarang sekali. Bisanya beli satu untuk bertiga, saya, kakak saya dan ibu saya. Buat saya rasa Mie Ayam hanya ada dua, enak dan enak banget. Mie Ayam seperti apap pun akan saya lahap hingga ludes.

 

Seiring waktu beranjak, kegemaran saya kepada Mie Ayam semakin menggila apalagi setelah saya punya penghasilan sendiri. Semua Mie dengan harga tidak wajar saya coba. Mie Ayam paling kan harganya 7000, kalau ada yang 15 ribu berarti gak wajar dong, hehe! Bakmi merk ini, merk itu, asal halal pasti saya sambangi. Kenikmatan tersendiri kalau bisa mencoba Mie dengan cita rasa berbeda.

 

Saat itu siang hari, saya kelaparan tingkat Provinsi alias laper banget. Saya berjalan keliling kampung untuk mencari tukang jualan. Dan yak saya menemukan Mie Ayam. Waktu itu saya baru  tinggal beberapa bulan di daerah Jagakarsa sehingga saya belum hafal posisi-posisi tukang jualan. Dari aromanya enak sekali, mengingatkan saya pada Mie Ayam yang keliling di sekitar rumah saya waktu di Mampang. Aroma itu membawa saya ke masa kecil, menikmati setiap mie yang tertarik.

Sampai di rumah saya langsung membuka bungkusan Mie dan melahapnya. Emm, saya puter-puter lidah saya, kok rasanya gak enak ya? Kenapa beda sama Mie yang biasa saya makan? Saya jadi membandingkan mie yang saya makan saat itu dengan mie ayam merk ini dan itu.

Saya tersadar saya telah kehilangan cita rasa Mie Ayam gerobakan. Saya jadi pemilih, susah menikmati rasanya Mie Ayam pinggir jalan yang dulu bisa saya rasakan kelezatannya. Ketika saya kecil jalan-jalan ke Blok M lihat mie ayam bergerobak biru saya beli dan saya selalu bilang rasanya enak. Gerobak coklat juga sama, enak rasanya. Mengapa kini berubah? Ya, karena saya telah merasakan Mie yang rasanya jauh lebih nikmat.

Untung hanya Mie, bagaimana kalau saya kehilangan cita rasa tas, baju, sepatu yang murah  karena saya biasa memakai tas mahal? Aih, bisa bangkrut dong saya. Gimana kalau saya jadi tidak biasa naik angkot karena biasa naik mobil Fortuner?

Kebiasaan memang dapat mengubah kita, mau diubah jadi seperti apa kita yang memutuskan. Ibu saya contohnya, jika ia bisa naik kereta atau naik bis ia akan lakukan itu. Kata beliau, jangan manja, harus siap naik apa saja. Tidak selamanya hidup itu enak, Tuhan bisa membolak-balikan kita kapan saja dan kita harus siap.

Huaah, perkara mie ayam ternyata ada filosofinya juga ya.  Itulah mengapa ibu saya membiasakan dengan mie yang murah tapi tetap bersih dan sehat. Katanya, kalau biasa memanjakan lidah kita jadi tak terbisa lagi dengan hal yang biasa. Sama halnya ketika kita memanjakan diri dengan kemewahan maka kita akan menjadi sulit untuk sederhana.

Advertisements

December 7, 2011 - Posted by | Non Fiksi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: