friskainspiration

Just other sides of my life

Merpati Putih

 

Eits, ini tak ada hubungannya dengan ilmu bela diri loh. Kalau mengingat merpati putih saya jadi ingat video clip era 90-an yang terkadang masih menggunakan merpati untuk mengirim sepucuk surat cinta. Entah dimana kini para merpati itu berada? Eksistensi mereka sudah tergeser dengan kehadiran Pak Pos. Eh, tapi dimana kini Pak Pos berada ya? Ketika saya kecil jarang sekali orang yang menggunakan sepeda motor, jauh sekali kondisinya dengan jalanan saat ini yang isinya hanya sepeda motor salib-saliban dan kencang-kencangan membunyikan klakson, mereka merasa kecil jadi tidak mau mengalah  di jalan raya. Dulu suara dentuman knalpot hanya saya dengar dari sebuah motor oranye yang melintas setiap siang di depan rumah. Saya dulu suka sekali loh korespondensi dengan teman-teman kecil, tetangga ataupun teman sekolah yang pindah rumah ke luar kota. Sehingga kehadiran bapak bermotor jingga ini selalu saya nanti. Hobi surat menyurat ini muncul karena saya suka baca majalah Bobo sehingga saya jadi mengenal istilah surat menyurat. Saya lupa kapan saya berhenti surat menyurat, mungkin ketika setiap rumah sudah memiliki pesawat telepon sehingga berhubungan bisa lebih mudah dan cepat.

Saya menyadari Pak Pos jarang sekali melintas kini, tak setiap hari. Sekalinya datang hanya untuk mengirim surat tagihan telepon. Selebihnya tak ada lagi surat bersampul coklat atau putih yang hadir di depan pintu. Nasibnya kini tak berbeda jauh dengan si burung merpati. Si motor jingga tak lagi banyak berkeliaran di sepanjang jalan ibu kota. Deringan telepon telah mampu menembus ruang waktu dan memangkas jutaan detik terbuang untuk menggenggam kabar.

Telepon yang dahulu dipuja kini tak seeksis dulu, pamornya hilang ditelan kehebatan handphone yang bisa digenggam setiap saat. Cukup kirim sms, kabar diterima detik itu juga. Tak perlu menunggu tiba di rumah untuk memberikan kabar melalui telepon. Kini telepon ada dalam setiap gengaman manusia. Jarak semakin dekat, kabar semakin mudah dijangkau. Begitu juga saat mengirim undangan, undangan pernikahan kini hadir dalam sebaris sms atau melalui invitation masal melalui Facebook. Cepat, murah! Eh, ada yang ketinggalan, sekarang ada juga Blackberry Messanger atau BBM, mudah dan juga praktis. Tinggal broadcast message hanya dengan sekali tekan tombol, pesan sampai ke seluruh kontak. Mudah ya?

Menebar perhatian yang sangat mudah apakah juga berbanding lurus dengan cita rasa sentuhan perhatian itu? Ngomong-ngomong soal BBM, ada waktu-waktu dimana BBM banjir  dengan tebaran ucapan selamat. Misal selamat tahun baru, selamat idul fitri, selamat hari ini dan itu yang dikirim masal. Sekali membuat ucapan lalu disebar sekaligus ke seluruh orang. Ada yang salah? Tidak juga, tapi buat apa mengirim sesuatu hanya dengan tujuan menggugurkan kewajiban. Mengirimkan maaf ke setiap orang dengan ucapan yang sama. Bukankah salah kita dan doa kita ke setiap orang berbeda-beda?

Bukan ucapan puitis manis memesona rasanya yang dibutuhkan, setiap orang mampu merangkai ucapan indah, namun apakah setiap orang mampu memberikan sentuhan personal dari apa yang dikirimnya? Lebih enak rasanya mendengar nama saya disebut walau dengan ucapan sebaris kalimat daripada serangkaian puisi panjang yang dikirim ke semua orang.  Sebutan nama memberikan kehangatan sendiri, apalagi untuk orang yang telah lama tak kita jumpai.

Beberapa hari lalu seorang teman bbm saya untuk menanyakan alamat rumah saya. Dia bilang mau kirim undangan pernikahannya. Saya bilang, repot banget sih, bbm personal gini kan sudah cukup. Kemudian dia bilang, “Ga enak ah, kita kan udah lama gak ketemu.” Sederhana sih, namun kata-kata itu mengingatkan saya arti sebuah sentuhan kehangatan. Saya tidak pernah mengalami orde merpati putih, tidak pernah tahu rasanya menghargai waktu yang terus berjalan untuk menunggu sebuah kabar sehingga dalam sapanya sangat menjaga kehangatan dan sentuhan personal. Mungkin generasi Broadcast Message perlu diingatkan kembali pada kartu ucapan lebaran yang dahulu berjejer di toko buku. Bagaimana sebuah kartu yang dikirim dapat membangun ikatan emosional pada si pengirim dan terkirim. Bukan karena harga kartu tersebut tentu saja, tapi karena sentuhan personal yang terbangun pada sebuah kartu.

Saya pun mengetik alamat rumah dan mengirimnya kepada teman yang akan menikah tersebut. Saya juga meminta alamat rumahnya, jika saja tak dapat menghadiri pernikahannya maka doa dan kenang-kenangan akan sampai ke rumahnya melalui jasa Pak Pos bermotor oranye. Saya berharap ucapan dan doa yang saya kirim kepadanya juga tak hanya sebatas bbm yang akan sirna saat kita menekan tombol ‘End Chat’.

Advertisements

January 4, 2012 - Posted by | Non Fiksi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: