friskainspiration

Just other sides of my life

Bersyukur itu mudah dan bahagia itu sederhana.

Hampir satu juta tahun cahaya saya tidak memperbarui isi blog. Akhirnya waktu kosong itu hadir, waktu kosong di sini maksudnya tak hanya kosong tapi juga waktu yang inspiratif. Saya punya sesuatu untuk saya tulis di blog saya.

Berawal dari lirik kiri kanan blog teman-teman yang penuh terisi tulisan baru, saya melihat banyak rasa di sana. Ada senang, susah, sedih bahagia dan lainnya. Seketika saya berpikir, kebahagiaan itu relatif ya, sangat relatif dan tak berparameter. Bukan orang lain dan keadaan yang memutuskan parameter kebahagiaan, tapi diri kita sendiri yang memutuskan kapan kita berhak bahagia. Selain kebahagiaan hal lain yang tak kalah relatif adalah kepuasaan, bagaimana kepuasaan terbangun karena ekspektasi kita terhadap suatu hal. Misal, kalau dari awal membayangkan ke kantor dengan harapan jalanan bersahabat maka yang ada di jalan malah ngedumel tingkat dewa karena kondisi jalan yang sangat tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Untuk itulah mengapa perlunya mengatur ekspektasi dari segala hal yang akan kita lakukan.

 

Suatu hari saya berbincang dengan seorang teman yang baru menikah, dia cerita kalau selama ini dia tinggal dengan orang tuanya sehingga biaya hidup masih ditanggung oleh orang tuanya. Tabungan dia dan suami utuh-utuh saja karena tidak digunakan untuk hal-hal primer macam belanja bulanan, bayar listrik dan keperluan rumah tangga lainnya. Sampai tiba suatu hari teman saya ini hamil dan rasanya perlu rumah baru untuk mengurus si baby. Di sinilah si teman saya ini bingung bukan kepalang, mendadak dia menghitung seluruh keperluannya. Keluarlah pernyataan, “Duh, selama ini kan gue gak ngeluarin duit apa-apa, gaji gue utuh, gaji suami juga, ya paling untuk keperluan gitu-gitu aja, gimana nanti kalau gue punya rumah sendiri, gue harus mikirin makan, listrik, bayar ini itu. Kalo gue ga bisa nabung, ga punya sisa uang gimana?”

 

Emang bener. Sejujurnya yang namanya nikah keperluan banyak banget dan mengagetkan. Buat saya sih apa yang terjadi pada dia sejujurnya tidak seberapa. Untuk membuka mata hati dan pikirannya saya ceritakan tentang bagaimana saya mengatur keuangan saya di rumah padanya. Saya dan suami tinggal di rumah orang tua saya, dan orang tua saya tidak lagi bekerja loh. Sehingga seluruh kebutuhan, sekali lagi saya tegaskan SELURUH ya, dari mulai biaya biaya yang wajib-wajib macam makan, minum dan listrik, juga yang tak terduga seperti jika orang tua saya sakit, iuran bulanan RT/RW, arisan Ibu saya (yang ini karena arisan ibu-ibu RT sifatnya wajib untuk seluruh warga kampung saya ya, sebagai ajang silaturahmi sih katanya), obat-obatan herbal (kalau yang ini, karena ibu bapak saya sudah cukup umur jadi kami selalu sedia habatusaudah, minyak zaitun, madu, sari kurma dan sejenisnya), bayar pembantu, juga untuk keperluan ibu dan bapak saya secara pribadi. Dan yang pastinya ya biaya anak saya sekolah (kalau yang ini sih emang kewajiban emak-babenya dong ya!).

 

Sampai di sini saya bilang, “Bagian hidup lo mana lagi sih yang kurang? Lo hanya harus membiayai keluarga kecil lo aja kan?” dia pun terdiam. Entahlah, saya bukan jutawan apalagi milyarder, belum sih tepatnya, mudah-mudahan sih bisa jadi milyarder ya. Saya dan suami awalnya cuma karyawan biasa yang gajinya juga sama saja layaknya karyawan lain. Namun begitu, saya merasa selalu cukup dan cukup dengan apa yang saya punya, dan saya merasa bahagia dengan seluruh kehidupan yang saya miliki. Bisa melihat ibu dan ayah saya tersenyum dan tidak lagi berpikir untuk mencari uang itu cukup membuat saya bahagia. Satu hal yang saya percayai, saya sangat percaya kalau kita bisa memberikan manfaat untuk orang lain pasti hidup kita cukup dan rejeki akan datang dari arah yang tak pernah terduga.

 

Sejak awal nikah saya sudah membuat ekspektasi dengan suami bahwa kita harus membiayai orang tua. Selagi orang tua saya masih hidup, saya berjanji akan menanggung dan membahagiakan mereka dengan cara apapun. Bagaimana dengan orang tua suami, alhamdulillah mereka masih produktif sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Perhatian kami fokus pada orang tua saya. Suami setuju, dan sejujurnya itu yang menjadi prioritas kehidupan kami. Rumah, mobil? Serius barang-barang itu tidak pernah masuk ke dalam list kehidupan. Lalu, tanpa pernah terduga ternyata kami bisa dapat itu semua saat ini, sebelum usia pernikahan kami memasuki usia ke 5.  Itu lah cara kerjaNya, setiap hari tangan-tangan Tuhan bekerja untuk kita, tunggulah sampai masa itu datang dan kita melihat keajaibannya.

 

Jadi buat teman saya yang hanya membiayai keluarga kecilnya, serius deh itu gak ada apa-apanya kok. Bahagia dan kecukupan itu tergantung dari ekspektasi kita terhadap sesuatu. Bersyukur itu mudah dan bahagia itu sederhana.

Advertisements

March 9, 2012 - Posted by | Non Fiksi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: