friskainspiration

Just other sides of my life

Mitos Apa Mitos?

Judulnya jelas-jelas Mitos loh ya, jadi jelaslah saya mau menulis sebuah kisah mitos, sumbernya dari Ibu saya yang saya dengar beberapa belas tahun lalu. Sebelumnya nih, karena ini hanya mitos belaka yang kebenarannya tidak pernah teruji secara ilmiah atau pun klinis, apalagi melalui metode penelitian ilmiah, jadi kalau ada yang tersinggung, ya tanyakan saja pada rumput yang bergoyang (Ya kalo gak tanya sama rumput mau tanya sama siapa??)

Dulu ketika saya SD fenomena *uhuk* MBA sangat amat jarang sekali. MBA is Married by…ya lanjutkan sendiri ya. Dulu sekali pernah ada film Pernikahan Dini yang bikin ibu-ibu pengajian urut dada karena takut anak perawannya bernasib seperti Dini. Bagi yang pernah nonton kira-kira tahu ya filmnya, tentang Dini yang meikah muda karena terlanjur hamil sebelum menikah.

Sebelum heboh dengan film ini, ibu-ibu pengajian wilayah RT saya sudah duluan heboh dengan undangan pernikahan tetangga sebelah rumah saya yang amat sangat mendadak. JRENG JRENG! Seluruh penduduk kampung saya langsung kepo cari tau sana-sini apa yang menyebabkan pernikahan yang mendadak dan tidak terencana ini. Jangan banyangkan kondisinya seperti saat ini yang mana hal tersebut sudah menjadi hampir biasa dan sering terjadi, dulu sekitar 15 tahunan yang lalu peristiwa semacam ini masih sangat langka dan aib sekali jatuhnya di masyarakat.

Kembali ke benang merah, Ibu saya sebagai tetangga persis sebelah rumahnya menjadi incaran sumber informasi apakah benar si dia, ya sebut saja namanya Mawar, telah hamil sebelum nikah. Ibu saya yang memang gak iseng bilang gak tahu apa-apa. Lah, emang waktu mereka ngapa-ngapain di rumah saya apa? Tapi dasar rukun warga ya, tetap loh dibalik kerukunan ada ke-kepo-an, di balik senyum ada tanduk. Mereka usaha ngorek-ngorek informasi seperti, “Emang gak pernah dengar muntah-muntahnya?”, atau “Emang gak tau siapa pacarnya, kalau pulang jam berapa?” Edeeeh, segitu perhatiinnya apa ya Ibu saya. Ibu saya juga anaknya perawan semua, yang ada Ibu sibuk ngurusin dua perawannya biar bisa balik rumah sebelum magrib. Sebagai tetangga yang baik Ibu saya hanya berkapasitas membantu acara nikahannya tanpa tanya ini itu tentang yang pribadi-pribadi.

Akibat ke-kepo-an yang tidak terjawab maka muncullah sebuah mitos turun temurun dari nenek moyang yang katanya mampu menjawab pertanyaan yang tak dapat terjawab tersebut. Bagaimana caranya? Apakah mitosnya? Nah, katanya tetua di Mampang nih, iya dulu saya tinggal di Mampang, tepatnya di Tendean yang terkenal dengan macetnya yang dapat menyebabkan sesek nafas dan urut betis. Meskipun macet tapi tanah di sana mahal banget loh harganya karena di tengah kota (ya terus apa hubungannya sama mitosnyaaa? Oke, kembali ke benang merah!). Menurut informasi yang tidak jelas sumbernya, untuk mengetahui apakah seorang pengantin perawan atau tidak bisa dilihat pada hari H nya, yaitu dari makanannya. Kalau makanannya enak berarti masih perawan, kalau tidak enak berarti ya sudah tidak perawan. Saya sih dulu mikirnya yang namanya makanan kondangan bukannya enak-enak aja ya, apalagi dimakan pas laper. Lagian koki mana yang mau namanya di black list, kokinya pasti bikin seenak-enaknya dong. Eh, FYI dulu belum jaman catering-catringan, kalau ada acara nikah biasanya ada tenaga koki. koki ini tinggalnya gak jauh dari sekitaran rumah dan biasanya si koki ini bawa berapa asisten untuk masak-masak seharian di belakang rumah pengantin.

Hari H tiba, seluruh warga berkumpul untuk memberikan selamat dan membawa misi penting untuk membuktikan apakah perkataan tetua kampung itu benar atau tidak. Saya yang masih kecil belum mengerti apa-apa jadi kebawa penasaran juga. JENG JENG! Bagaimana rasa makanannya,  ternyata, rasa makanannya memang kurang enak, enatah ada dimana letak ketidakenakan tersebut. Empat bulan setelah pernikahannya, lahirlah seorang bayi dari pasangan tersebut. Jadi??

Di luar benar atau tidak, mitos itu jadi keingat hingga saya sebesar ini dan sudah menikah. Iseng-iseng ketika ingat saya cerita ke suami tentang mitos ini. Suami ketawa-ketawa dan gak percaya. Meskipun gak percaya, suka juga sih suami dan saya ketawa-ketawa sendiri kalau datang ke nikahan orang, kita suka bencanda, “Coba cek makanannya enak apa engga”.

Enak engga jatuhnya relatif sih ya, ya itu tadi saya bilang namanya juga mitos, gak ada penelitian ilmiah tentang ini. Suami saya juga pernah tanya, kalau janda yang nikah gimana? Ya menegetehe, hehe. Jadi mau tau benar atau tidak, silakan membuktikan sendiri ya. Lagian masalah perawan apa engga urusan dese sama Tuhan ya. Kalau buat saya pribadi sih, sekali lagi ini pribadi loh, saya masih percaya menjaga keperawanan hingga menikah itu kewajiban saya sebagai muslim, bukan masalah adat ketimuran, jadi bukan masalah tabu or not. Waktu saya SMA guru agama saya pernah bilang, barang siapa (wanita muslim) tidak dapat menjaga keperawanannya hingga menikah maka jaraknya dengan matahari pada hari akhir hanya sejengkal telapak tangan. Nah loh.

Lah, ini kok jadi serius. Yah pokoknya begitulah ya para pembaca setia saya dimanapun  Anda berada. Namanya juga mitos, boleh percaya boleh engga.

Advertisements

March 19, 2012 - Posted by | Non Fiksi

1 Comment »

  1. hahahhaaa.. Pas kawinan gue masakannya enak gak? *lol* :p

    Comment by dhiesta | May 1, 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: