friskainspiration

Just other sides of my life

Ayah

Ayah. Setiap kali mendengar kata ini rasanya memang datar, tak pernah menggebu dan juga tak pernah menginspirasi. Saya anak kedua dari dua bersaudara, satu kakak perempuan yang berjarak 5 tahun. Ayah hanya satu-satunya lelaki di rumah kami, namun jelas perbedaan gender ini baru terasa setelah saya dan kakak tumbuh dewasa, kami berdua perlahan namun pasti berjarak dengan Ayah, kami lebih dekat kepada Mama.

 

Saya dan Ayah dekat, namun itu dulu ketika kecil. Beranjak puber saya mulai menjauh bahkan hampir tak pernah berbicara atapun berdiskusi dengannya. Sekalinya bicara hanya bila ada keperluan menanyakan letak barang ini, barang itu atau bertanya hal-hal penting yang percakapannya tidak sampai 6 kalimat tanya jawab. Kami berbeda, sangat berbeda. Ayah adalah orang yang cuek, kurang rapih, bepikir hanya untuk hari esok dan cenderung tidak teratur. Sedangkan saya 100% kebalikanannya. Ketika berdiskusi paling lama kami pasti akan berhenti dihitungan menit ke 5 karena saya tak pernah menemukan kecocokan berbicara dengan Ayah. Cara pikir kami berbeda, cara pandang kami pun tak sama. Jika ada tugas tokoh yang menginspirasi, tak pernah sekalipun saya menulis tentang Ayah, bagi saya Ayah bukanlah sosok inspiratif seperti sosok Ayah di mata anak lainnya.

 

Saya habiskan waktu belajar bersama Mama, Ia yang mengajari saya PR, mengajarkan saya mengaji, mengajarkan apa yang boleh dan tidak. Seluruh peran pengasuhan dikendalikan Mama. Lalu kemana Ayah? Entahlah kemana Ia. Saya hanya merasa tak memiliki sosoknya dalam kehidupan saya. Apakah dengan begitu kami sering bertengkar? Tidak, sama sekali tidak. Perasaan protes dan ketidak berterimaan saya terhadap sosok Ayah saya lampiaskan dengan diam dan tak membuat banyak percakapan dengannya.

 

Sejak remaja saya anak yang sangat rumahan, jarang pergi ke luar hingga larut. Jika pun saya dulu pernah seperti anak ABG lainnya, seperti punya pacar, saya pun melakoninya dengan baik, tak pernah melakukan hal-hal yang berlebihan. Apakah semua karena peran kontrol seorang Ayah yang berwibawa dan memata-matai gerakan anak gadisnya seperti di film-film? Tidak, sama sekali tidak. Sejak dulu saya memang anak yang tidak suka membuat masalah, anak yang pergaulannya tidak perlu dikhawatirkan karena saya tahu apa yang baik dan tidak baik untuk saya. Saya banyak diskusi dengan Mama sehingga segala hal yang berhubunggan dengan pribadi dan karakter saya adalah hasil perjuangan Mama membentuk saya. Saya merindukan bimbingan wajah Ayah, saya haus sosok imam yang bisa mengarahkan saya menjadi pribadi yang baik.

 

Kini, saya lihat fisiknya mulai renta, rambutnya mulai memutih, badannya tak lagi tegap seperti dulu. Saya mencoba mengingat kapan terakhir saya mengucapkan kata sayang padanya. Mungkin sekitar 10 tahun lalu, saat Ayah bertengkar dengan kakak saya dan kakak saya membentaknya hingga Ayah menangis. Ya, Ayah tak pernah menangis, saya tak pernah sekalipun melihatnya menangis kecuali hari itu. Ayah pergi ke balkon kemudian menunduk tak bersuara. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya peluk Ayah dan saya cium lalu saya mengatakan, ”Ayah, Adis sayang sama Ayah.”

 

Ketika saya melahirkan Ayah sedang berada di rumah kakak, Mama mengabari melalui telepon kalau saya akan melahirkan. Secepat kilat Ayah datang dengan menggunakan angkot menuju rumah sakit untuk melihat proses persalinan saya. Pernah juga ketika SMP saya kecelakaan mobil hingga kaki saya patah. Mama menghubungi Ayah yang saat itu sedang berada di Senen, Ayah pun melesat ke RSPP dengan menggunakan taksi kecepatan 200 km/jam. Dengan kecepatan seperti itu Ayah masih juga memaksa supir untuk menambah kecepatan karena Ayah begitu panik. Ayah juga yang selalu menggotong saya ke tempat terapi, menemani saya dan membiarkan bahu dan seluruh badannya habis saya pukuli karena saya tak kuat menahan sakit yang luar biasa.

 

Ayah begitu sayang kepada Ayesha, anak saya dan Aqilla, anak kakak saya. Setiap pagi Ayah selalu mengajak Ayesha jalan keliling kampung naik sepeda. Ketika Ayesha menangis Ayah orang terdepan yang menggendongnya dan menenangkannya. Ketika sedang berkunjung ke tempat kakak Ayah selalu mengajak Aqilla bermain hingga lelah. Perlahan saya mulai mengerti mengapa Ayah begitu sayang kepada cucunya. Mereka adalah pengganti. Ya, pengganti Saya dan Kakak. Ketika anak-anaknya tak dapat lagi dipeluk dan dicium, ketika putrinya tak lagi miliknya, kini Ayah melihat sosok kami dari anak-anak kami. Ayah hanya memiliki kami ketika kami kecil, ketika kami masih menjadi gadis penurut, ketika kami masih lugu, ketika kami masih membutuhkan keberadaannya secara fisik, ketika kami masih suka digendong, ketika kami masih suka merengek. Seiring waktu, kami pun menghilang dan memberontak ketika kami sudah merasa mampu, sudah merasa dapat berpikir dan memutuskan keinginan kami sendiri tanpa membutuhkan sosok Ayah lagi. Kami perlahan menjauh, dan Ayah perlahan kehilangan sosok kami tanpa dia pernah mengungkapkannya lewat kata.Setelah Saya dan kakak memiliki anak yang kebetulan perempuan Ayah seperti menemukan kehilangannya, menemukan putrinya yang “hilang” belasan tahun.

 

Kami memang tak sama, kami memiliki perbedaan pemikiran yang berbeda sangat jauh. Namun setelah saya menikah dan memiliki anak saya tahu betapa Ia sangat menyayangi saya dan kakak dengan cara yang Ia punya. Mungkin Ia tak menginspirasi saya, mungkin Ia bukan sosok yang bisa dibanggakan, mungkin Ia jauh dari sempurna, namun Ia memiliki rasa sayang dan kesabaran yang luar biasa menghadapi dua anaknya. Rasa sabar yang membuncak yang mungkin tak saya miliki. Sore itu Ayah baru pulang dari Padang kampung halamannya. Ayah pergi selama seminggu, ketika pulang Ayah membawa gantungan kunci, Ia bilang ini oleh-oleh untuk saya. Bagaimana sikap saya? Saya terima dan kemudian saya letakan di atas meja, tanpa kata. Ayah terdiam memandang sikap saya dan tak berkata apapun. Tak hanya kesabaran, rasa sayangnya juga tak terkira, namun hanya mampu Ia ungkapkan lewat air mata. Ya, untuk kedua kalinya Ayah menangis, pertama ketika dulu kakak membentaknya, kedua ketika malam hari saat paginya saya baru saja menikah. Ayah masuk ke dalam kamar dan menangis sesenggukan. Ketika saya tanya kenapa Ayah hanya bilang, Ayah bahagia hanya Ayah seperti kehilangan seluruh harta Ayah, kedua putrinya kini milik orang lain.

 

Setiap kali Ayah ulang tahun Saya hanya mengungkapkan dengan ucapan kalimat sederhana, “Selamat ya, Yah”. Tak lebih tak kurang. Tak ada kado atau pun perayaan. Belasan tahun Ayah tak pernah meminta ciuman dari anaknya, tak mengharap doa, juga tak pernah meminta apapun di hari ulang tahunnya. Bagaimana dengan hari ulang tahun saya? Kami pernah mengalami masa-masa sulit, sebagai seorang wiraswasta ekonomi keluarga kami pasang surut dan kami pernah mengalami titik terendah. Di saat itu saya berusia 17 tahun, Ayah dengan segenap tenaga yang Ia miliki mencoba mengumpulkan uang untuk saya. “Ini uang untuk Adis ulang tahun ke 17, sekali seumur hidup traktir teman-teman sebagai rasa syukur.”

 

Bagai penebus dosa yang mungkin tak terhapus, manusia memang butuh waktu, usia muda memang kadang membutakan mata bahkan mata hati. Saat ini saya tahu bagaimana rasanya memiliki anak, bagimana kelak anak saya akan menikah dan menjadi milik orang lain, bagaimana kasih sayang orang tua tak pernah pudar oleh apapun. Kini saya selalu berusaha menjaga Ayah, menyenangkan hatinya dan memenuhi kebutuhan kesehatannya. Jika Ayah sakit saya langsung lekas menyuruhnya ke dokter, saya sediakan obat-obat herbal kebutuhan Ayah dan membiarakannya asik dengan kebunnya. Ya, Ayah menghabiskan hari tuanya dengan berkebun dan beternak di lahan belakang rumah.

 

Hari ini ayah berulang tahun, malam sepulang kantor saya dan suami keliling-keliling mencari rumah makan padang yang paling enak kesukaan Ayah. Kami berniat mengadakan syukuran untuknya dan juga menyenangkan hatinya. Ayah senang, terkejut juga haru. Saya merasa bukan anak yang baik, sangat banyak dosa kepadanya. Saya berjanji pada diri sendiri untuk selalu mendokannya dalam setiap solat saya, untuk kebaikan dan kesehatannya.

Hari ini 10 April 2012 Ayah berusia 60 tahun.

Selamat ulang tahun Ayah, kesehatan dan kekuatan bagi Ayah adalah segalanya buat Adis. Doakan rezeki Adis lancar, kelak Ayah akan bisa berangkat ke Tanah Suci seperti yang Ayah idamkan.

Advertisements

April 11, 2012 Posted by | Non Fiksi | 5 Comments