friskainspiration

Just other sides of my life

Yang Kedua

Kehamilan Kedua

Yes, saya sedang hamil anak kedua. Apa rasanya? Lebih santai dan lebih tenang karena sudah pernah  melalui masa seperti ini sebelumnya. Seperti halnya dengan kehamilan pertama, saya tidak bisa diam dan selalu ingin bergerak. Bedanya saya lebih rasional dan banyak cari tahu. Setelah membaca banyak artikel tentang kehamilan saya merasa ‘dibodohi’ pada kehamilan pertama. Kenapa saya bilang demikian?

Saya banyak baca tentang proses melahirkan. Sesuatu yang cukup membuka mata hati saya, melahirkan adalah proses yang sakral dan alami. Melahirkan adalah anugrah setiap wanita dan Tuhan tidak akan mempersulit kondisi ini. Melahirkan adalah insting bagaimana seorang Ibu berkomunikasi dengan si bayi, bagaimana ibu bebas menentukan posisi yang dia inginkan untuk dapat berkomunikasi dengan sang bayi, bukan dengan teriakan suster atau bidan, bukan juga dengan ‘paksaan’ induksi yang sakitnya bikin saya pasrah menggigil kesakitan luar biasa. FYI, untuk proses melahirkan anak pertama saya harus diinduksi (disuntikan cairan yang merangsang rasa mulas pada ibu), sakitnya luar biasa!!

Banyak membaca artikel tentang gentle birth membuat saya tersadar, saya tidak lagi mau kehamilan saya menjadi komoditas bisnis medis semata. Saya harus tau, kenapa saya ditindak ini dan itu. Dewi Lestari, dalam kisah melahirkannya menceritakan bagaimana sebetulnya kelahiran bayi adalah atas kemauan alamiah dari si bayi itu sendiri, dia akan keluar pada waktunya dan ketika waktu itu hadir si ibu akan merasakan adanya kontak batin yang menginformasikan bahwa ia siap keluar. Hanya saja kondisi rumah sakit tidak memungkinkan si ibu merasakan suara hati si bayi karena si ibu sibuk dengan kesakitannya sendiri. Di RS ibu hanya bisa tertidur sehingga fokus ibu ada pada rasa sakitnya, jika saja si ibu dibebaskan memillih posisi yang paling nyaman maka ia akan merasakan ‘bisikan’ si bayi saat ia ingin keluar.

 

Dokter bagus, RS bagus? Yang paling penting adalah mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang kehamilan dan melahirkan dan punya teman yang bisa dikroscek tentang segala obat-obatan sehingga kita tidak salah minum obat. Bagi saya saat ini dokter yang baik adalah yang menenangkan, hanya itu kriterianya. Tidak asal main vonis oprasi tanpa memberikan solusi. Kalau ada yang bilang susahnya melahirkan normal saat ini, yeap, betul sekali. Untuk itulah pentingnya mencari tau tentang proses melahirkan itu seperti apa.

Sebetulnya dari mulai mulas pertama masih ada waktu 3 hari menunggu bayi itu keluar, mulas pertama hanyalah pertanda bahwa kehadiran si bayi sudah mulai dekat, masih bisa kok ditunggu kelahirannya hingga 2-3 hari. Waktu kehamilan pertama saya tidak merasa mulas, namun tiba-tiba saya merasa ada darah keluar dari vagina. Sedikit memang, bahkan tidak terasa sakit. Setelah itu saya ke dokter dan di cek, ternyata saya sudah pembukaan 5. Kemudian saya dibaringkan di kasur selama satu jam. Selama satu jam itu saya diminta menunggu, tak lama suster datang dan bilang saya harus diinduksi supaya cepat lahir. Dua jam induksi membuat saya shock, sakitnya luar biasa. Saat itu saya hanya terpikir satu hal, “Kalau sakitnya begini saya gak  mau lagi deh punya anak.”

Setiap saya merintih suster akan datang dan bilang, “Ya memang gitu bu rasanya ngelahirin sakit.” Duh, gak sopan banget si ini suster, boro-boro ngasih semangat. Lalu saya bilang saya mau duduk karena perut saya sakit sekali. Suster kembali bilang, “Jangan bu, udah miring kiri aja.” Sepanjang dua jam saya mulas saya hanya boleh menghadap kiri, tidak boleh ngapa-ngapain. Trauma itu membekas sekali untuk saya. Mendadak saya “membenci’ persalinan dan rumah sakit. Mereka tidak ramah.

Sekarang ini saya baru tahu, dokter kan pasiennya banyak, masa iya dia mau nunggu saya sampai 3 hari, kalau bisa dibuat lebih cepat kenapa tidak? Caranya, ya diinduksi.

 

Kehamilan kali ini saya lebih santai, ke dokter untuk USG saja. Rencana sih pingin lahiran di rumah, dengan bidan yang baik dan gak pake bentak-bentak ibu yang mau melahirkan. Gak dibentak aja udah mules loh ya, apalagi pakai adu otot sama susternya. Dengan proses melahirkan seperti ini ikatan batin antara ibu dan anak akan semakin kuat terjalin, karena sejak dalam kandungan ibu sudah membiasakan diri berkomunikasi dengan mendengarkan keinginan bayi. Jikalau saja rumah saya di Bali saya akan melahirkan di Ubud, di tempat Bidan Mira. Untuk orang-orang yang pro melahirkan alami pasti tau tentang Bidan Mira ini. Intinya adalah ketenangan, keikhlasan dan kepasrahan. Tidak ada satu dzat pun yang terlahir dan hadir di bumi ini tanpa izinNya. Jadi dokter dan RS bagus sebetulnya hanyalah sugesti kita saja, tergantung bagaimana pengalaman membentuk persepsi di kepala kita.

Persalinan tinggal menunggu hari saja, semoga tidak ada hambatan yang berarti. Suami juga selalu support dan menenangkan. Bidan meminta saya untuk beraktivitas seperti biasa. Dan yang saya paling suka adalah Ibu Bidan hanya menyampaikan satu pesan yaitu : Tenang. Tidak ada yang lebih penting dari ibu yang akan melahirkan selain ketenangan lahir dan batin. Kelahiran itu takdir Illahi, jika Allah sudah memutuskan dia lahir maka dia akan lahir pada waktu yang tepat.

Advertisements

May 29, 2012 Posted by | Non Fiksi | Leave a comment

mantan


Menghabiskan waktu di jalan dan mendengarkan radio cukup membuat saya terperangah juga karena lagu-lagu sekarang dihiasi dengan tema mantan pacar. Selain itu sebagai penggiat social media (itu bahasa kerennya, sebenernya sih maksudnya pemakai twitter *yawn*) saya juga seringkali melihat bagaimana tema mantan seringkali dijadikan hastag, dijadikan gombalan lucu-lucuan dan juga bahan twit kegalauan.

Apa imbasnya buat saya? Sebagai seorang ibu muda yang juga pernah muda dan pernah bergaul seperti anak-anak muda lainnya, saya juga punya mantan pacar. Biasanya tidak pernah kepikiran, sekarang saya jadi kepikiran, kemana mantan saya? Jreng-jreng! Bahagialah kepada suami saya karena istrinya ini hanya punya 3 orang mantan dengan kualitas hubungan yang sangat minim dan singkat. Artinya jika dirata-ratakan saya hanya pacaran sekitar 2,3 bulan/orang. Pertama hanya 1 bulan, yang kedua 3 bulan, dan ketiga juga 3 bulan. Dengan waktu yang begitu singkat otomatis tidak terjalin chemistry yang mumpuni untuk diingat apalagi dijadikan bahan penggalauan.. (eh, ini kok jadi mendadak berat karena melibatkan data, angka dan perhitungan statistik yang cukup akurat.. )

 

Lalu apa hikmah dibalik adanya matan pacar? Kalau ada yang bilang mantan menguras waktu dan perasaan, ya iya itu sih buat yang pacarannya sampai bertahun-tahun tapi taunya ga nikah juga, hehe. Apalagi yang pacaran sampai 10 tahun, widih saingan tuh sama albumnya Chrisye yang Satu Dekade. Kalau buat saya yang hubungannya hanya selintas bak samberan petir sih tidak ada yang tersisa apalagi terkuras. Justru kalau diingat jadi lucu saja, pengalaman singkat bagaimana memahami orang dengan ‘status yang berbeda’, bukan sekedar memahami orang lain dalam status pertemanan. Saya belajar untuk tidak overprotektif, saya belajar untuk mendengarkan dan menghargai passion setiap orang. Memang hanya 3 orang tapi saya banyak belajar, rasanya percuma kalau gak dapet pelajaran apa-apa.

Lalu kenapa semua begitu cepat? Singkat kata karena setelah dirasakan dan dijalani saya merasa bukan mereka itu yang saya cari. Buat saya yang bertipe melancholic introvert dan terlalu pake perasaan, menggunakan perasaan terlalu over dosis itu berbahaya buat kesehatan mental dan fisik saya karena saya orang yang kalau sudah sedih suka kelewat berlebihan dan nangis juga tidak berenti-berenti. Jadi saya banyak melatih kemampuan berpikir logis saya dalam menjalin hubungan. Kalau saya merasa kurang sreg, yah putus saja. Yang sreg yang seperti apa? Ya yang seperti suami saya sekarang, hehe. Visioner dan tanggung jawab. Simple, cukup dua kriteria saja kok.  Di saat teman-teman saya pacaran berlandaskan rasa sayang saya sudah kepikiran pacaran pake logika (ini dewasa kecepetan apa gimane ya gue??). Rasa sayang itu nomor dua karena terlanjur sayang tapi gak pake logika itu bisa jadi masalah nomor satu. Misal nih, sudah tau beda agama dan belum pernah ada kesepakatan apa-apa tapi tetep aja lanjut. Itu contoh perkara rasa sayang mengalahkan logika. Atau misalnya udah tau ga cocok, beda visi, beda misi, beda cara memandang hidup tapi tetap ditolerir karena masih sayang. Dampaknya, waktu bertahun-tahun terbuang percuma kalau ujungnya nikah sama yang lain juga. Ya kalau jadi sih alhamdulillah yaah..

 

Manusia dianugrahi otak yang luar biasa, di sana kita dititipkan kemampuan untuk berpikir, merenungkan, menimbang dan menganalisis segala persoalan dengan ketidakterbatasan. Segala perasaan otak kok yang mengendalikan. Jadi kalau ada yang bilang “Udah terlanjur sayang…” Itu sih karena memang tidak mau mengendalikan perasaan saja. Pacaran berlama-lama belum tentu jadi juga kan ya, hehe. Jadi lebih baik sebelum terlanjur jauh, samakan visi, samakan misi, tanyakan : jadi kapan mau nikahin gue? Hehe.

 

 

 

May 29, 2012 Posted by | Fiksi | Leave a comment

Masalah


Ketika masalah datang kita berharap ia lekas pergi dan tidak kembali lagi. Masalah kerap dianggap ganjalan kehidupan dan bentuk ketidaksempurnaan perjalanan. Jika satu masalah hilang, kerap datang yang lain, kemudian menghilang dan datang lagi dalam wujud yang berbeda. Seketika kita berkata?

“Kenapa harus ada masalah?”

Seperti  dua sisi mata uang, masalah dan solusi hidup berdampingan, masalah juga kebahagian selalu muncul bersama. Hidup yang terlalu sempurna tak mengenalkan manusia pada rasa syukur.

Biarlah masalah itu datang padamu, bisa jadi dia ada untuk menempa hidupmu, bisa juga ia hadir untuk memberimu hikmah kehidupan, namun dari semua itu ia hadir untuk menyeimbangkan kehidupan.

May 29, 2012 Posted by | Non Fiksi | Leave a comment