friskainspiration

Just other sides of my life

Bahasan Poligami nih..

 

Berat sekali bahasan saya kali ini ya. Hahaha, ketawa dulu lah. Sebetulnya saya tidak terlalu punya masalah dengan poligami karena saya dan suami sejujurnya tidak pernah membahas tentang hal ini. Tulisan ini selintas terinspirasi ketika saya sedang termenung di sofa rumah (penting banget tempatnya disebutin ye..!)

Saya bukan feminis, bukan juga palegosentris, saya ini hanya seseorang yang suka merenung. Dalam perenungan tersebut seringkali saya bertanya tentang banyak hal yang saya tidak temukan jawabannya. Termasuk tentang bahasan poligami ini…

Sejatinya inti dari poligami adalah berbagi. Berbagi waktu, berbagi cinta dan berbagi apapun yang berurusan dengan rumah tangga. Agar pembagiannya menjadi halal maka dilegalkan dengan ijab qabul. Apa yang paling berat dari poligami? Sebagai wanita tentu hal yang paling menyakitkan adalah berbagi perasaan, yang biasanya kita menjadi satu-satunya orang yang dicintai kini ia harus membagi cinta dengan wanita lain. Sayangnya wanita tidak bisa berpoliandri karena keturunannya nanti  akan menjadi bias, tidak jelas siapa bapaknya si anak jika ibu yang berpoliandri mengandung.

Hanya iseng sih kepikiran, ketika seorang laki-laki berpoligami pernah kah terpikirkan, jika saja wanita boleh berpoliandri apakah si lelaki ini juga siap dipoliandri? Apakah lelaki ini bersedia dibagi cintanya jika saja poliandri dibolehkan? Yang menjadi pertanyaan besar saya (iya lagi-lagi ini hasil perenungan saya yang tiba-tiba muncul gitu aja kalau lagi bengong), jika seorang laki-laki berpoligami  dan ia memiliki rasa cinta pada istri keduanya tersebut berarti si laki-laki ini tidak boleh marah dong kalau istrinya mengidolakan pria lain? Bukankah ia juga harus siap dibagi? Hehe..

Ini cuma pertanyaan loh yaaa…

Advertisements

September 16, 2012 Posted by | Fiksi | Leave a comment

Stop Nyinyir

Stop Nyinyir!

Jika segala hal terlihat jelek berarti sudah saatnya kita oprasi mata!

Kisah 1

Pernah saya tweet tentang kisah tetangga saya yang punya anak 4 dengan jarak 3 tahun per kelahiran. Kebetulan tetangga saya ini orang tua yang cukup modern dalam mendidik anak. Kreatifitas nomor satu, kebebasan berekspresi sangat dijunjung tinggi. Kalau main ke rumah tetangga saya ini dipastikan pemandangan yang terhampar adalah barang berserakan di sana sini. Meskipun demikian anak-anak terlihat bahagia dengan suasana rumah, demikian juga dengan orang tuanya. Suatu ketika si Ibu bercerita kepada saya prihal seorang tetangga lain yang sering nyinyir dengan keluarga mereka. Substansi nyinyirannya tentang banyaknya anak yang dimiliki oleh si Ibu ini. “Anak kok 4, rumah acak-acakan, taman ga keurus, punya anak itu 2 cukup!”.

Di luar tetangga lain ini terlalu ribet ngurusin rumah tangga orang lain, ada sisi lain yang lebih saya amati. Apa itu? Nanti..

Kisah 2

Ada seorang teman menikah, dengan sederhana. Sebelum pernikahan itu berlangsung seorang teman lain berkata, “Kenapa sih nikahnya sederhana? Nikah kalau bisa yang wah, karena di sana akan banyak tamu undangan”.

Di luar orang yang menikah ini berbudget banyak atau tidak, ada sisi lain yang saya amati. Apa itu?

 

Orang yang berminus 4 ya harus dikasih kacamata minus 4, orang yang berminus 2 ya cocoknya dengan kacamata minus 2. Apa jadinya orang yang bermata minus 1 dikasih kacamata untuk orang rabun senja. Kacau, bukan?

Kadang kita lupa, kadang pula kita khilaf menilai sesuatu hanya dengan mata kita. Dengan melihat pilihan hidup seseorang dari mata kita sama halnya dengan menggunakan kacamata yang tidak sesuai dengan kondisi matanya, salah pakai, karena sejatinya kita perlu melihat orang lain dan pilihan hidupnya dari kacamata orang tersebut. Jika memiliki anak 4 menambah kebahagiaannya, apa ada yang salah? Jika memilih menikah dengan sederhana karena budget dialokasikan untuk bulan madu ke Eropa, ada yang salah? Bukankah masing-masing kita memiliki prioritas dalam kehidupan? Bukankah prioritas tersebut tidak bisa disamaratakan dengan prioritas manusia lain?

Stop nyinyir, ya, bagi saya nyinyirin orang lain dengan cara pandang kita pribadi hanya memperjelas kalau cara pikir kita masih konvensional. Kenapa konvensional? Ya iya dong, di saat teknologi sudah mengenalkan satelit yang bisa memantau segala hal dari atas hingga seluruhnya terlihat indah dari segala sisi eh kita masih aja ngeliat dunia dari pintu rumah sendiri.

Pilihan guys, setiap orang punya pilihan dan kita gak bisa menghakimi pilihan orang lain apalagi kita gak pernah tau apa latar belakang pilihannya. Hargai, dan gak perlu dinyinyirin..

 

September 16, 2012 Posted by | Non Fiksi | Leave a comment