friskainspiration

Just other sides of my life

Mama, dengar aku..

 

Hampir setiap hari saya mendengarnya, saat si  Ibu sedang bekerja. Kadang dengan nada tinggi, kadang dengan intonasi berliku kencang karena tak mampu menahan marah.  Seorang gadis kecil yang sehari-hari menghabiskan waktu bersama seorang wanita remaja dipaksa mendengar ledakan suara dari orang yang tak melahirkannya apalagi bertanggung jawab terhadap dirinya. Itukah konsep kasih sayang yang ia kenal?

Kira-kira apa yang Kartini dan Dewi Sartika katakan saat melihat geliat wanita Indonesia saat ini? Akankan mereka mengucapkan sepatah aksara, atau memilih melempar sebuah senyuman ribuan tafsir?

 

Adanya wanita saat ini karena pergerakan pejuang wanita di masa lampau. Kecerdasan wanita masa kini tak lepas dari peran wanita-wanita visioner masa lalu.

Saya pribadi bangga dan respek terhadap perjuangan pergerakan wanita, tanpa mereka mungkin saat ini wanita masih terpenjara dalam budaya patriaki yang berlaku di Indonesia. Wanita bertugas untuk urusan domestik seperti mengurus anak, rumah, melayani suami dan segala hal yang terkait dengan kerumahtanggaan. Kebiasaan ini berlaku bertahun-tahun lamanya hingga mengakar dan membudaya. Stigma yang tumbuh di masyarakat adalah wanita pengurus rumah tangga, pendidik anak dan harus ada di rumah. Hal ini pudar hingga hadir sebuah wacana baru, “bagaimana anak-anak mau terdidik jika ibunya tak berpendidikan?” Sebuah wacana cerdas yang mendobrak tabu.

Perlahan ‘perjuangan’ ini mulai terlihat hasilnya. Wanita Indonesia menggeliat, keluar dari rumah dan mengenyam pendidikan lebih tinggi. Bangku-bangku universitas di Indonesia dipenuhi oleh wanita. Jabatan penting di instansi pemerintahan dan swasta banyak diisi oleh perempuan super. Banyak dari mereka yang bekerja lebih lama dari para lelaki, tak sedikit yang berangkat saat matahari belum muncul ke permukaan dan pulang saat matahari tengah menyinari belahan bumi lain. Setiap pagi mereka berjuang melawan macet Jakarta, belum lagi pagi hari harus menyiapkan segala keperluan rumah tangga. Fenomena Ibu super seperti ini ada yang menyebut dengan istilah Mama Urban atau Mama Hits Ibukota..

Lalu bagaimana dengan anak-anak dari mama urban ini? Berangkat pagi pulang petang. Bertemu anak sebentar dan pulang saat anak sudah lelap.  Seringkali saya mendengar jeritan, bentakan dari pengasuh anak tetangga yang sedang kesal dengan anak majikannya. Sebagai seorang Ibu yang pernah mengandung, melahirkan dan membesarkan ada rasa miris menyayat hati. Memang ia bukan anak saya, tapi saya bisa merasakan jika anak saya yang diperlakukan seperti itu. Siang malam saya bekerja mencari uang, begitukah anak saya diperlakukan orang lain? Bisa jadi penghasilan yang didapat ibunya hingga belasan juta, namun jika ia melihat keseharian anaknya diperlakukan seperti apa, setimpalkah dengan puluhan juta yang ia dapatkan?

Pernah terbersit sebuah pertanyaan dalam kepala saya, apakah berpendidikan tinggi sama dengan bekerja keras sama dengan meninggalkan keluarga sama dengan menitipkan anak pada pembantu?

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Jika anak sudah besar anak dimasukan ke sekolah ‘terbaik’, Ibu dan Ayah bertugas mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membiayai semua keperluan. Dimasukan sekolah mahal dengan harapan sekolah membantu orang tua dalam mengontrol anak. Pokoknya anak pulang bawa ilmu, pinter, sehat dan bahagia. Loh, kan saya sudah bayar mahal, wajar dong ekspektasinya tinggi, kira-kira begitulah isi hati orang tua.  Di rumah anak dititpkan pada asisten rumah tangga, orang tua kontrol anak melaui telepon. Malam ngobrol sebentar dan masing-masing tertidur. Berapa jam kualitas yang dihabiskan anak bersama orang tua?

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Jika Kartini dan Dewi Sartika masih hidup saya ingin bertanya, inikah maksud perjuangan mereka? Wanita berpendidikan, wanita menjadi berwawasan, segaris dengan itu wanita menjadi pekerja 24 jam. Apakah berpendidikan tinggi dan berotak brilian harus dibuktikan dengan bekerja di perusahaan bonafit dengan gaji belasan bahkan puluhan juta? Apakah IPK tinggi harus memiliki fungsi materi dan dibayar dengan bekerja setengah mati sehingga kita melewatkan tumbuh kembang anak kandung kita.

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Pendidikan tinggi mengajarkan kita pengetahuan, itu yang terlihat. Namun sesungguhnya pendidikan tinggi mengajarkan kita cara berfikir, itu yang justru tak terlihat. Cara berfikir bersifat mengakar, jauh lebih bermanfaat di banding ilmu yang kita pelajari di sekolahan / perguruan tinggi itu sendiri. Dan  menurut saya itulah esensi mengenyam pendidikan tinggi.

Ibu berpendidikan akan terus belajar dan mencari tau, melihat anak sebagai sebuah karya ilmiah yang harus dibesarkan dengan referensi dan sumber informasi yang jelas agar anak tak tumbuh dengan mitos. Ibu yang berpendidikan akan membiarkan anaknya kritis, bertanya tentang apa yang dilihatnya, seperti ia yang selalu mempertanyakan ilmu yang ia dapat.

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Saya adalah satu dari Mama Urban yang (pada awalnya) bertahan dengan karir. Saya adalah satu dari mama urban yang merasa bahwa sia-sialah pendidikan jika tak dihabiskan di kantor dari pagi hingga sore. Saya adalah satu dari mama urban yang tak banyak melihat pertumbuhan anak kandungnya, seketika sadar saya baru menyadari anak saya begitu besar dan bukan lagi bayi lucu yang bisa dicium dan dipeluk. Dan satu yang membuat saya menitikan air mata, waktu tak dapat kembali, putri saya tak akan bisa kecil lagi, ia terus tumbuh dan tumbuh. Saya kehilangan momen berharga bersama rengekannya.

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Kembali saya berpikir, jika Kartini dan Dewi Sartika masih hidup saya ingin bertanya? Mau dibawa kemana anak-anak mungil ini? Mereka tak 100% tumbuh bersama orang tuanya. Mereka dibesarkan oleh asisten rumah tangga dengan prinsip “yang penting selesai” atau  “yang penting diem” atau “yang penting cepet”.  Jangan heran jika anak bermasalah semakin besar jumlahnya. Dimana orang tuanya?

Gamang? Ya saya satu dari Mama urban yang sangat gamang dengan peran saya. Saya satu dari Mama Urban yang kemudian memilih alternatif pekerjaan, memberikan kesempatan pada diri saya untuk melihat anak-anak tumbuh berkembang. Ya saya satu dari mama urban yang tetap yakin bahwa aktualisasi diri sangatlah penting sehingga tak membiarkan diri saya terkurung di dalam rumah dan tercebur dalam aktivitas yang sama setiap hari. Ya saya satu dari mama urban yang tak ingin diperbudak oleh waktu kerja yang tak ber prikeibuan.

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Jika saja Kartini dan Dewi Sartika masih hidup, saya ingin bertanya. Apakah ini tujuan pergerakan kalian atau ini kebablasan?

Rintik hujan terdengar samar di luar jendela. Saya turun dari atas kasur dan menghampiri jendela, saya mengintip dan menggeser sedikit tirainya, melihat ke lantai bawah. Oh, garasi rumah sebelah kosong. Empunya belum datang. Saya melirik jam di handphone, 8.46 pm. Suara teriakan gadis kecil itu terdengar hingga ke kamar saya. Mungkin ia gelisah menunggu ibunya yang sejak pukul 6 pagi belum juga datang.  Ada rasa rindu yang mungkin tak dapat ia ucap dengan kata. Jika ia mampu mengucap sebuah kalimat saya rasa ia akan mengucap, “Mama, dengar aku!”

Saya kembali ke kasur, duduk di depan laptop. Sejenak memandang ke sebelah kanan dimana dua anak saya sedang terlelap. Satu jam lalu saya ada disamping mereka, mencium, membelai dan memeluk hingga mereka masuk ke alam mimpi dengan damai.

Suara teriakan anak tetangga masih menjadi backsound saya hingga saya memberikan titik sebagai penutup tulisan saya ini.

 

Advertisements

October 4, 2012 Posted by | Non Fiksi | Leave a comment