friskainspiration

Just other sides of my life

Sekolah Alam nya si Kakak

IMG00026-20130401-1154

IMG00026-20130401-1154

IMG00026-20130401-1154

IMG00023-20130401-1152IMG00026-20130401-1154

IMG00029-20130401-1155 Continue reading

Advertisements

April 25, 2013 Posted by | Fiksi | Leave a comment

Sekolah Baru Ayesha

 

Kami..

 

Saya dan suami satu profesi, sama-sama mencintai pekerjaan ini. Kami kagum dunia manusia dengan segala kompleksitas permasalahannya. Termasuk juga di dalamnya mengenai menariknya tumbuh kembang setiap anak manusia. Kami yakin setiap anak diciptakan dengan segala kelebihan dan potensi sehingga anak harus diperhatikan dengan istimewa. Kami “membenci” sistem pendidikan di Indonesia. Feodal! Guru selalu benar dan murid harus mengerti. Bukankah setiap kita punya cara yang berbeda untuk belajar? Setiap anak memiliki hak untuk belajar dengan caranya. Sistem ini memihak, memihak pada anak yang mampu belajar duduk dengan tenang, sistem ini tidak adil, hanya memberikan ruang pada anak yang suka didikte. Bagaimana anak dengan lejitan imajinasi yang tak terbendung?

Sejak dulu kita selalu diajarkan membuat gunung dengan dua segitiga, hamparan sawah hijau dan jalan raya yang di tengahnya ada garis tipis hitam sebagai pembatas lajur kiri dan kanan. Sejak dulu semua anak harus menghapalkan buku paket dengan tepat hingga letak titik dan koma. Sejak dulu pelajaran sejarah hanya sebuah rangkaian hafalan yang mampir ke short time memory, kemudian ia hilang saat lembar jawaban di kumpulkan. Seberapa banyak anak Indonesia yang paham tentang sejarah bangsanya?

 

Cukuplah semua “kekerdilan’ ini terjadi pada kita. Oke, mungkin tidak pada Anda, tapi ini terjadi pada saya. Sejak SD hingga SMA bisa dihitung berapa kali saya berkunjung ke perpustakaan untuk mencari bahan pelajaran / sumber referensi. Kenapa jarang? Karena saya tidak pernah merasa butuh mencari sumber referensi. Tidak ada karya ilmiah, tidak ada laporan! Sebuah buku paket sudah cukup sebagai bekal kelulusan. Syaratnya cuma satu, dihafal tuntas!

 

 

TK anggaplah 1 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, kuliah 4 tahun. Total 17 tahun. Begitu lulus kuliah baru mikir, “Mau ngelamar dimana, ya? Mmm. Dimana aja deh, masukin lamaran aja dulu.” Terus 17 tahun lalu ngapain aja?

Dan ini terjadi pada saya, hiks.

Hidup sekali, kalau jalanin kerjaan cuma sekedar dapet duit rasanya apatis banget, ya. Semacam gak mau usaha  barang sedikit aja untuk mensyukuri karunia Ilahi atas otak yang Allah udah kasih. Padahal setiap manusia dimodalin potensi, kalau aja kita mau usaha buat cari tau potensi kita, kembangin, gunain buat hajat hidup orang banyak itu salah satu bentuk rasa syukur, loh.

Oke..oke. Semua yang diceritain di atas cukuplah berlaku pada saya, tidak pada anak saya. Saya ini udah lulus baru tahu kalau saya suka dunia menulis dan psikologi. Tapi toh saya bersyukur bisa menemukannya. Seenggaknya saya selalu senang jalanin pekerjaan saya..

 

 

Maka dari rangkaian cerita tersebutlah kisah ini berawal…

 

 

 

 

Saya dan suami konsen sekali untuk urusan sekolah anak. Kita ortu perfect tapi gak posesif. Ayesha sekolah sejak 2 tahun lalu, dan ini masuk tahun ke 3-nya yang kebetulan sekolah ke TIGA dia. TIGA? Iya.

 

IMG01477-20130305-1300

Tahun pertama kita sekolahkan dia di TK QA. Sejujurnya ini sifatnya trial, kami mencari guru yang cukup baik dan ramah karena Ayesha saat itu usianya masih 2,5 tahun. Kami amati metodenya, cara mengajarnya. Fokus kami, Ayesha bermain dan bersosialisasi sehingga jauh-jauh deh baca tulis dan berhitung! Belajar baca 3 bulan juga bisa, dan anak kecil sudah bisa baca TIDAK jadi parameter keberhasilan dia. Perjalanan hidup masih panjang, Nak. Dan evaluasi kesuksesan kamu tidak terletak pada kemampuan baca tulis dan berhitung.

Setelah saya amati sekolah ini kurang cocok dengan ke-Perfectan saya dan suami. Kami masih melihat kekurangan di sana sini. Seperti tidak mengajarkan anak antri, tidak membiasakan anak mandiri pada beberapa prilaku. Kami sebagai orang tua tidak banyak protes, buat kami sih kalau sekolahan anak gak cocok sama anak kita ya jangan salahin sekolahnya. Sekolah kan punya aturan main sendiri, punya pakem yang sudah berlaku sejak sebelum kita mendaftarkan anak. Jadi kalau merasa ada yang tidak cocok ya berarti kita yang salah pilih sekolah.

Sekolah kedua Ayesha namanya TK RK. Kami memiliki ekspektasi besar dengan sekolah ini karena janjinya adalah mengedepankan pembentukan karakter anak. Tapi ada satu yang lepas dari pantauan kami yaitu luas sekolahnya. Sekolahnya kecil, area eksplorasi motoriknya terbatas sehingga kami baru sadari sekolah ini “menyiksa” Ayesha sebagai anak tipe kinestetik. Dia selalu mengeluh saat pulang sekolah, katanya gak bisa lari, gak bisa loncat gak bisa main bebas.

Tahun ke 3 ini saya gak mau salah sekolah lagi. Saya harus cari yang paling tepat untuk Ayesha. Saya dan suami browsing, survey ke sana ke sini. Kami cari sekolah yang mampu mengeluarkan potensi anak dan mampu menghargai anak sebagai MANUSIA. Tidak sebagai objek pembelajaran semata.

Pencarian dimulai…

Kami tertarik pada Sekolah Alam Indonesia. Selain saya pernah jadi guru di sini sehingga tau seluk beluknya, lokasi juga dekat dekat dengan rumah. Sayangnya Ayesha gak diterima.. Karena pendaftar 30 orang tapi kuotanya hanya sisa 2 seats untuk TKA. Oh iya, Ayesha masuk TKA lagi karena usianya gak cukup untuk masuk TKB.

 

 

Sejak awal kami selalu melibatkan Ayesha dan juga menjelaskan, “Ayesha bisa diterima di sini tapi bisa juga enggak. Sekolah ini kan kelasnya kecil jadi muridnya terbatas. Gak semua yang daftar bisa keterima, kasian gurunya kalau muridnya kebanyakan. Sedangkan yang mau sekolah di sini banyak. Tapi kalau Ayesha gak diterima bukan karena Ayesha gak hebat, loh.”  Jadi waktu dia gak keterima dia senyum-senyum aja sambil bilang, “Gak papa, Mi. Kita kan bisa cari sekolah lain.” Aaah, hebatnya anakku!

 

Kemudian saya beralih ke sekolah Citra Alam. Dateng, survey, tanya-tanya, cobain Ayesha di sana, playgrondnya, pasirnya, lokasinya, pokoknya semuanya. Ayesha ternyata suka banget. Lanjut deh kita beli formulirnya. Lokasinya pun juga gak jauh, sedikit lebih jauh dari Sekolah Alam Indonesia memang.

Alhamdullillah dapat juga sekolah yang insyallah terbaik untuk Ayesha..

mau tau sekolahnya kaya gimana? Next post, yah…

 

 

Saya dan Ayesha, di Bebek Tepi Sawah, Ubud, Bali..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

April 25, 2013 Posted by | Non Fiksi | Leave a comment