friskainspiration

Just other sides of my life

bangga pada ayesha

Ayesha sudah sekolah di tahun ke dua. Hingga detik ini dia sama sekali belum bisa membaca, menulis dan berhitung. Iya, saya sama sekali belum dan saya tidak mau mengajarkan. Alasannya? Kami meyakini sebelum usia 6 tahun ia hanya butuh pembentukan karakter. Kami ingin dia bermain, melihat banyak hal di lingkungannya dan bahagia. Ada yang bilang sih, bukannya lebih cepat itu lebih baik? Tentu tidak untuk hal yang satu ini. Alasan sederana tanpa perlu panjang lebar memaparan teorinya, kalau anak usia 3 tahun sudah bisa baca mau disuruh baca apa? Ensiklopedia? Sayangnya kemampuan logika anak 3 tahun belum mampu memahami ensiklopedia.

Antimainstream? Engga juga kok, rata rata ortu well educated sudah menerapkan hal tersebut. Psikolog juga pasti akan menyampaikan hal yang sama. Tetapi….ortu yang konvensional pasti akan mengajarkan anaknya baca sedini mungkin dan mereka akan bertanya pada saya, kenapa gak diajarin baca? Saya akan jawab “nanti aja, ga penting sekarang”. Selesai.

Kami konsisten dengan berbagai pendapat sana sini yang heran pada kami. Ayesha sudah dua tahun sekolah tapi katanya gak dapet apa-apa. Saya yakin ia banyak belajar meskipun tidak kelihatan hasilnya dan juga tidak dapat dikompetisikan. Yang namanya pembentukan karakter hasilnya ga ekspress, butuh waktu dan ketelatenan. Dan saya merasakannya belum lama ini…

Seperti biasa Ayesha sering bermain sepeda di dalam komplek dengan teman-temannya, kali ini dengan Keiza. Sore hari waktu itu, saya sedang minum teh hangat di meja makan. Tiba-tiba Ayesha berlari berhamburan ke dalam rumah. Dia gerusukan mencari sesuatu. Saya mengikuti geraknya dan bertanya.
“Kakak cari apa?”
“Cari betadine sama hansaplas” dia masih sibuk mencari.
“Untuk apa?” Saya makin bingung. Saya lihat badannya tidak ada yang luka.
“Untuk Keiza, dia jatuh dari sepeda sekarang dia ada di dekat kolam renang.” Dia masih sibuk mengotak atik kotak yang biasanya kami gunakan untuk tempat menyimpan obat.
“Gimana ceritanya?” Saya penasaran.
“Iya Keiza jatuh, lalu aku bilang Keiza tunggu dulu di sini (tempat jatuh), karena kita anak kecil semua jadi aku cari orang dewasa sama obat dulu ya buat nolongin kamu.”

Saya diam, terharu. Tanpa dia sadari dia menunjukan pada saya tentang “problem solving”. Ia seolah – olah memberi tahu pada saya bahwa ia sudah mampu berempati.

Tak lama ia menemukan hansaplas dan betadine. Ia berlari keluar menuju tempat Keiza jatuh. Selang beberapa langkah ia membalikan badan menatap saya.
“Ayo mi bantu Keiza, kita perlu orang dewasa.”

Saya bangga pada Ayesha.

Advertisements

May 23, 2013 Posted by | Fiksi | Leave a comment

bertahan saja cukup

Sesusah susahnya ilmu adalah ikhlas. Ikhlas itu ditempa musibah kayak apapun kita masih bisa tetap senyum dan berpikir jernih. Kadang kita bisa ikhlas di satu kejadian tapi pada peristiwa lain kita merasa sesak untuk mengikhlaskan…
Sudah lulus belum kalau begitu ilmu ikhlasnya? Belum.

Jatuh bangun menghadapi hidup sudah saya lalui sejak kecil, terlahir dari orang tua wiraswasta, ekonomi kami naik turun, jatuh bangun, pernah tersungkur sampai ke lubang paling dalam. Pernah merasakan bayar kuliah dari hasil kerja sendiri, beasiswa dan juga bantuan keringanan biaya pendidikan. Ngajar ke sana ke mari, dari anak sd sampai sma pernah saya jalani. Dari sejak sekolah saya sudah biasa mengajar. Duit kurang? Sering. Susah mau makan enak? Sering banget.

Apakah orang lain tau seberapa kuat saya berjuang? Engga. Saya tidak pernah mengeluh, tidak pernah nangis di depan seorang teman pun bahkan di depan orang tua saya. Satu-satunya tempat saya menumpahkan beban saya hanya sajadah.
Saya terus berjalan, tidak menyerah, menyelesaikan kuliah hinggap selesai dan kembali berjuang untuk menebus semua rasa ngilu yang pernah saya rasakan.
Apa saya bisa berjalan menyelesaikan semuanya karena saya ikhlas? Tidak, belum lebih tepatnya.

Lalu apa yang membuat saya terus berjalan?
Pernah merasakan rasanya sakit gigi? Apa rasanya? Ngilu, nyut nyutan, bikin bad mood, bikin pingin marah-marah. Sudah ke dokter tapi toh rasanya masih tidak bisa hilang. Lalu apa yang kita lakukan? Bertahan. Iya, hanya itu yg bisa kita lakukan.

Seperi itu juga yang saya lakuan, bertahan. Bertahan belum sampai titik ikhlas. Tapi dengan bertahan kita bisa terus hidup.

Apakah cukup dengan bertahan? Jika kita tidak mampu mencapai ikhlas maka bertahan saja sudah cukup.

May 16, 2013 Posted by | Fiksi | Leave a comment