friskainspiration

Just other sides of my life

Sekolah Baru Ayesha

 

Kami..

 

Saya dan suami satu profesi, sama-sama mencintai pekerjaan ini. Kami kagum dunia manusia dengan segala kompleksitas permasalahannya. Termasuk juga di dalamnya mengenai menariknya tumbuh kembang setiap anak manusia. Kami yakin setiap anak diciptakan dengan segala kelebihan dan potensi sehingga anak harus diperhatikan dengan istimewa. Kami “membenci” sistem pendidikan di Indonesia. Feodal! Guru selalu benar dan murid harus mengerti. Bukankah setiap kita punya cara yang berbeda untuk belajar? Setiap anak memiliki hak untuk belajar dengan caranya. Sistem ini memihak, memihak pada anak yang mampu belajar duduk dengan tenang, sistem ini tidak adil, hanya memberikan ruang pada anak yang suka didikte. Bagaimana anak dengan lejitan imajinasi yang tak terbendung?

Sejak dulu kita selalu diajarkan membuat gunung dengan dua segitiga, hamparan sawah hijau dan jalan raya yang di tengahnya ada garis tipis hitam sebagai pembatas lajur kiri dan kanan. Sejak dulu semua anak harus menghapalkan buku paket dengan tepat hingga letak titik dan koma. Sejak dulu pelajaran sejarah hanya sebuah rangkaian hafalan yang mampir ke short time memory, kemudian ia hilang saat lembar jawaban di kumpulkan. Seberapa banyak anak Indonesia yang paham tentang sejarah bangsanya?

 

Cukuplah semua “kekerdilan’ ini terjadi pada kita. Oke, mungkin tidak pada Anda, tapi ini terjadi pada saya. Sejak SD hingga SMA bisa dihitung berapa kali saya berkunjung ke perpustakaan untuk mencari bahan pelajaran / sumber referensi. Kenapa jarang? Karena saya tidak pernah merasa butuh mencari sumber referensi. Tidak ada karya ilmiah, tidak ada laporan! Sebuah buku paket sudah cukup sebagai bekal kelulusan. Syaratnya cuma satu, dihafal tuntas!

 

 

TK anggaplah 1 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, kuliah 4 tahun. Total 17 tahun. Begitu lulus kuliah baru mikir, “Mau ngelamar dimana, ya? Mmm. Dimana aja deh, masukin lamaran aja dulu.” Terus 17 tahun lalu ngapain aja?

Dan ini terjadi pada saya, hiks.

Hidup sekali, kalau jalanin kerjaan cuma sekedar dapet duit rasanya apatis banget, ya. Semacam gak mau usaha  barang sedikit aja untuk mensyukuri karunia Ilahi atas otak yang Allah udah kasih. Padahal setiap manusia dimodalin potensi, kalau aja kita mau usaha buat cari tau potensi kita, kembangin, gunain buat hajat hidup orang banyak itu salah satu bentuk rasa syukur, loh.

Oke..oke. Semua yang diceritain di atas cukuplah berlaku pada saya, tidak pada anak saya. Saya ini udah lulus baru tahu kalau saya suka dunia menulis dan psikologi. Tapi toh saya bersyukur bisa menemukannya. Seenggaknya saya selalu senang jalanin pekerjaan saya..

 

 

Maka dari rangkaian cerita tersebutlah kisah ini berawal…

 

 

 

 

Saya dan suami konsen sekali untuk urusan sekolah anak. Kita ortu perfect tapi gak posesif. Ayesha sekolah sejak 2 tahun lalu, dan ini masuk tahun ke 3-nya yang kebetulan sekolah ke TIGA dia. TIGA? Iya.

 

IMG01477-20130305-1300

Tahun pertama kita sekolahkan dia di TK QA. Sejujurnya ini sifatnya trial, kami mencari guru yang cukup baik dan ramah karena Ayesha saat itu usianya masih 2,5 tahun. Kami amati metodenya, cara mengajarnya. Fokus kami, Ayesha bermain dan bersosialisasi sehingga jauh-jauh deh baca tulis dan berhitung! Belajar baca 3 bulan juga bisa, dan anak kecil sudah bisa baca TIDAK jadi parameter keberhasilan dia. Perjalanan hidup masih panjang, Nak. Dan evaluasi kesuksesan kamu tidak terletak pada kemampuan baca tulis dan berhitung.

Setelah saya amati sekolah ini kurang cocok dengan ke-Perfectan saya dan suami. Kami masih melihat kekurangan di sana sini. Seperti tidak mengajarkan anak antri, tidak membiasakan anak mandiri pada beberapa prilaku. Kami sebagai orang tua tidak banyak protes, buat kami sih kalau sekolahan anak gak cocok sama anak kita ya jangan salahin sekolahnya. Sekolah kan punya aturan main sendiri, punya pakem yang sudah berlaku sejak sebelum kita mendaftarkan anak. Jadi kalau merasa ada yang tidak cocok ya berarti kita yang salah pilih sekolah.

Sekolah kedua Ayesha namanya TK RK. Kami memiliki ekspektasi besar dengan sekolah ini karena janjinya adalah mengedepankan pembentukan karakter anak. Tapi ada satu yang lepas dari pantauan kami yaitu luas sekolahnya. Sekolahnya kecil, area eksplorasi motoriknya terbatas sehingga kami baru sadari sekolah ini “menyiksa” Ayesha sebagai anak tipe kinestetik. Dia selalu mengeluh saat pulang sekolah, katanya gak bisa lari, gak bisa loncat gak bisa main bebas.

Tahun ke 3 ini saya gak mau salah sekolah lagi. Saya harus cari yang paling tepat untuk Ayesha. Saya dan suami browsing, survey ke sana ke sini. Kami cari sekolah yang mampu mengeluarkan potensi anak dan mampu menghargai anak sebagai MANUSIA. Tidak sebagai objek pembelajaran semata.

Pencarian dimulai…

Kami tertarik pada Sekolah Alam Indonesia. Selain saya pernah jadi guru di sini sehingga tau seluk beluknya, lokasi juga dekat dekat dengan rumah. Sayangnya Ayesha gak diterima.. Karena pendaftar 30 orang tapi kuotanya hanya sisa 2 seats untuk TKA. Oh iya, Ayesha masuk TKA lagi karena usianya gak cukup untuk masuk TKB.

 

 

Sejak awal kami selalu melibatkan Ayesha dan juga menjelaskan, “Ayesha bisa diterima di sini tapi bisa juga enggak. Sekolah ini kan kelasnya kecil jadi muridnya terbatas. Gak semua yang daftar bisa keterima, kasian gurunya kalau muridnya kebanyakan. Sedangkan yang mau sekolah di sini banyak. Tapi kalau Ayesha gak diterima bukan karena Ayesha gak hebat, loh.”  Jadi waktu dia gak keterima dia senyum-senyum aja sambil bilang, “Gak papa, Mi. Kita kan bisa cari sekolah lain.” Aaah, hebatnya anakku!

 

Kemudian saya beralih ke sekolah Citra Alam. Dateng, survey, tanya-tanya, cobain Ayesha di sana, playgrondnya, pasirnya, lokasinya, pokoknya semuanya. Ayesha ternyata suka banget. Lanjut deh kita beli formulirnya. Lokasinya pun juga gak jauh, sedikit lebih jauh dari Sekolah Alam Indonesia memang.

Alhamdullillah dapat juga sekolah yang insyallah terbaik untuk Ayesha..

mau tau sekolahnya kaya gimana? Next post, yah…

 

 

Saya dan Ayesha, di Bebek Tepi Sawah, Ubud, Bali..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

April 25, 2013 Posted by | Non Fiksi | Leave a comment

Tujuan Hidup

Pernah seorang teman ngetwit di twitter tentang “Tujuan Hidup” Its very cool!

Redaksionalnya saya lupa tapi pesan moralnya gak akan hilang dari otak saya sepanjang hayat.

 

Iseng saya tulis di twitter, saya bilang “Apa sih tujuan hidup lo?”

Banyak yang balas, ada yang menarik balasannya yaitu  “Hidup bahagia bersama keluarga”

Yang namanya TUJUAN pasti ada pencapaiannya dong. Misalnya tujuan lo mau ke Blok M berarti lo cari cara dong untuk mencapai blok m. Minimal ngelist angkot mana aja yang bisa dinaikin supaya sampai blok m, terus liat peta atau google map lah buat tau jalan biar gak kesasar. Atau siapain nomor telepon teman yang paling tau jalan terus siapin pulsa juga buat nelpon dia sewaktu waktu lo kesasar. Betul gak?

Terus TUJUAN itu berarti ada parameter keberhasilannya dong. Kalau contoh soalnya kaya di atas berarti TUJUAN TERCAPAI kalau lo udah sampai Blok M. Mission accomplished.. 

Terus kalau tujuannya udah tercapai selesai dong, berarti ga ada lagi list tujuan mencapai blok m. 

Nah nah nah.. Kalau tujuannya hidupnya membahagiakan keluarga? Parameter keberhasilannya apa? Terus kalau udah bahagia mau apa? Mau ngapain lagi ngabisin sisa hidup lo? Kan tujuannya udah tercapai, bukan?

 

Ngik. Ini post kok ribet yah. Gak apalah coba sekali-kali dipikirin, apa sih tujuan hidup lo?

December 7, 2012 Posted by | Non Fiksi | 1 Comment

harapan

pernah merasakan menunggu?

Digantung?

dalam hal apapun..

 

Kadang kita butuh digantung

Butuh diberi harapan

Agar kita masih punya semangat untuk bernafas

December 7, 2012 Posted by | Non Fiksi | Leave a comment

Gentle Birth Part 3 – Selesai

Ini postingan penutup saya tentang Gentle Birth ya. Saya hanya mau menyampaikan kesimpulan aja . Gentle Birth itu pilihan, lahir non GB juga pilihan. Saya ga menjustifikasi GB paling baik dan paling oke. Kadang ada juga ibu-ibu yang main jeplak dengan bilang GB ini kok semacam gak percaya dokter, memarjinalkan oprasi caesar, terlalu kepedeean bisa melakukan sendiri. Bagi yang punya pendapat begitu silakan aja, tapi para penggerak GB gak ada niatan seperti itu. Caesar juga opsi kok, para praktisinya juga mengakui bahwa oprasi caesar adalah penemuan terhebat dalam dunia medis.  Banyak sekali ibu yang tertolong berkat caesar, hanya saja yang dikritisi adalah ketepatannya. Dalam hal ini berarti kritikan bukan tertuju pada IBU tapi pada sebagian tenaga medis. SEBAGIAN, saya katakan sekali lagi SEBAGIAN,  ada dokter yang memutuskan pasiennya untuk caesar dengan alasan yang kurang tepat. Tidak semua tenaga medis seperti itu loh.

Ini sih beberapa tanggapan orang-orang yang nyinyir duluan tanpa paham substansi yang ingin disampaikan oleh Gentle Birth.

Tapi gak semua dokter gitu kok!

Iya  makanya saya bilang Sebagian!

Saya juga oprasi caesar tapi karena memang kondisinya gak bisa normal!

Ya gak papa, bagus dong. Bukannya tujuan caesar untuk itu, membantu ibu dan bayi dalam kondisi-kondisi yang gak memungkinkan.

Caesar juga sakit kok!

Loh, yang bilang engga sakit siapa? Gak pernah tuh dipermasalahin objeknya. Setiap Ibu mulia mau dengan apapun cara melahirkannya. Gak ada juga kan undang – undang yang ngatur syarat-syarat jadi ibu salah satunya harus lahiran normal. Hamil, melahirkan, menyusui dan membesarkan adalah perjuangan, semua penuh tantangan, jadi gak bener juga kalau ada statement ‘kalau belum lahiran normal belum jadi ibu’ < — Trus jadi apa? Jadi bapak?

Yang  jadi sorotan kan sebagian tenaga medisnya yang kadang suka ambil keputusan kurang tepat. GB ini justru memperjuangkan para ibu bukan menyudutkan.

Dan masih banyak lagi pro kontra lainnya dengan gentle birth ini. Pertanyaannya, apa sih di dunia ini yang gak pro kontra?? Ada? Enggak.

So, balik lagi ini PILIHAN ya, saya caps lock kata ‘pilihan’ supaya jelas kalau hal ini ga perlu diperdebatkan..

Sekian share dari saya, semoga bermanfaat yaaa…  🙂

 

 

 

December 1, 2012 Posted by | Non Fiksi | 4 Comments

Gentle Birth (Kelahiran Part 2)

Lanjut part 2 ya. Kali ini saya mau cerita gimana detik detik menjelang kelahiran. Banyak banget yang bilang ke saya kalau sudah mau melahirkan itu rasanya mules berkala. Jadi masuk ke 1 jam sekali kemudian 30 menit dan frekuensinya terus semakin sempit hingga lima menit sekali. Ini memang anak kedua tapi saya gak kebayang sama sekali maksudnya gimana. Loh terus waktu anak pertama gimana? Nah itu dia..

Menjelang Ayesha mau lahir saya gak ngerasa mules. Pagi ketika bangun tidur saya ke wc, pas lihat celana alam loh kok ada darahnya. Kemudian saya dan suami langsung berangkat ke RS. Diperiksa dalam sama suster ternyata udah bukaan 5. Iya bukaan 5 tapi saya belum mules. Kemudian saya diminta untuk nunggu sampe bukaannya nambah. Sambil rebahan, ngobrol dan setengah jam kemudian susternya bilang kalau bukaan saya belum nambah jadi diinduksi saja biar cepat. Saya iya-iya aja. Tapi kalau inget itu rasanya sebel, ini kan anak pertama wajar kali dong pembukaannnya agak lama. Lagian juga kalau udah pembukaan lima kenapa saya direbahin? Kenapa gak disuruh jalan bolak balik supaya pembukaannya cepat. Air ketuban saya juga katanya masih oke banget. Tapi ya sudahlah, dari kelahiran ini saya banyak belajar buat baca, cari ilmu dan belajar.

Induksi ini berbekas sampai sekarang rasanya, sakitnya luar biasa. Gak pernah ngerasain sakit seperti kayak gini. Tapi selama induksi saya gak teriak sama sekali, cuma ngulet sana ngulet sini, miring kanan miring kiri. Paling paling waktu susternya masuk saya cuma tanya, “Suster, kok sakit banget ya?” susternya pun menjawyab, “Ya emang begitu, Bu.” Apakah jawaban suster itu cukup membantu? Ya betul sekali, sangat tidak membantu. Saat itu juga saya langsung ambil keputusan, saya gak mau punya anak lagiiiii…sakit!! Setelah lahiran saya  juga gak langsung lihat si baby, dia langsung dibawa entah kemana. Saya dan suami sama-sama “kehilangan” si baby. Kita baru liat Ayesha jam 5 sore.

Oleh karena sebab di atas lah kelahiran kedua saya gak mau lagi denger kata induksi. Sebisa mungkin normal tanpa imbuhan apa-apa. Saat itu jam 12 malam perut saya mules sekali. Terbangun, lalu ngerasa-rasain sakit. Kemudian tertidur lagi dan bangun karena mules lagi. Tapi saya bisa bertahan hingga pagi. Paginya saya baru bilang suami kalau perut saya mulas dan ada bercak darah sedikit. Suami pun menyarankan untuk sms bu bidan dulu, tanya aja kondisi kayak begini harus ngapain. Saya sms dan langsung dibalas sama bidannya. Katanya tenang dan makan yang cukup, supaya kalau lahiran bisa kuat. Siplah, dengan perut yang mulai sering mulas saya pun makan pagi dulu sampai kenyang. Sekitar jam 9 pagi saya mulai merasa makin nyeri lalu saya bilang sama suami, cek aja deh ke bidan ini pembukaan berapa. Kalau  masih lama ya kita pulang lagi saja.

Berangkatlah saya sama suami ke bidan dengan naik motor. Kita mau sesantai mungkin deh. Masih sempat ngobrol di motor dan lewat-lewat kebun hijau yang udaranya masih segar. Sampai di bidan saya langsung di cek, ternyata pembukaan 3. Bidannya sih membebaskan, mau di sini boleh mau di rumah boleh. Karena kita juga udah bawa tas lengkap, buku dan charger hape kita memutuskan untuk di bidan aja. Suami asik nonton bola saya baca buku. Sesekali mulas sesekali hilang. Suster menyediakan teh manis hangat. Susternya tiba-tiba tanya, “Gak mules, Bu?” Saya yang lagi baca buku langsung noleh dong. “Sakit, kenapa mba?” lalu dia jawab, “Tapi keliatannya santai ya, Bu? Kayak gak mules.” Saya senyum aja sih. Saya pikir kalau gak saya bawa santai saya mau ngapain. Ngerintih juga gak membantu kok. Jadi mending saya baca buku, twitteran, facebookan, pokoknya cari aktivitas yang bisa mengalihkan rasa sakit deh.

Saya sampai bidan jam 9 pagi, jam 3 sore pembukaan saya juga ga nambah. Masih tetap di pembukaan 3. Bidannya santai banget, sama sekali ga ganggu saya. Dia kasih saya jumping ball. Kalau saya ngerasa mulas saya bisa duduk di jumping ball itu. Bidan bolak-balik hanya buat nanya, mau makan apa nih bu? Mau minum apa? Saya sampe kenyang ditawarin gitu. Bidan sama sekali ga nyinggung2 proses pembukaan yang hampir 6 jam tapi gak nambah-nambah. Belakangan dia cerita kalau nanya-nanya pembukaan yang ada malah bikin si ibu stress. Jadi si bu bidan ini memilih untuk nanyain hal-hal yang menyenangkan seperti  nanyain makanan.

Sampai jam 6 sore pembukaan saya juga tetap bertahan di angka 3. Padahal mulesnya udah nambah. Bidan hanya bilang, biasanya sih kalau mau nambah pembukaannya ibu bisa jalan kaki bolak balik, tapi terserah ibu aja maunya gimana. Bukannya manja ya, tapi bolak balik bikin dengkul makin gemeter. Jadi saya memilih untuk tiduran, duduk, nungging dan berdiri. Begitu aja bolak-balik. Suami menemani dengan santai juga.

Jam 9 malam pembukaan saya nambah jadi 7. Oke baiklah masih ada 3 poin lagi. Jam 9 malam kolam air hangatnya sudah disediakan, saya boleh berendam kalau mau. Sudah mulai bosan saya masuk aja ke air untuk rileks sejenak sambil terus bbman.  Ada yang tanya kok pembukaan 7 masih bbman. Ya seperti yang saya bilang saya gak mau terlalu mikirin rasa sakit. Melahirkan pasti sakit tapi kembali lagi gimana kita ngatur rasa sakit itu. Saya sih yakin aja, si baby juga lagi berusaha cari jalan keluar, yang bisa kita lakukan hanya tenang dan terus berdoa sampai si baby bisa keluar dari rahim.

Jam 11 malam mulesnya sudah mulai dasyat. Saya guling-gulingan di dalam air. Saya pegangin tangan suami aja, dia sih udah pasrah mau diapain juga gak papa. Kegiatan saya jam 11 malam itu keluar masuk kolam, kalau bosan saya keluar, kalau perutnya melilit saya masuk kolam lagi. Ternyata air hangat bisa mengurangi rasa nyeri. Selain itu di air kita bisa bergerak sesuka hati.

Jam 12 mulasnya makin menjadi-jadi. Saya stay di kolam, udah ga mau keluar lagi. Bidan cek ternyata pembukaannya sudah di angka 9. Oke berarti sebentar lagi. Bidan meminta suami untuk masuk ke air menemani saya. Suami saya dengan tenangnya masuk air, dia sama sekali gak takut lihat proses lahiran. Dia meluk saya dari belakang sambil ngasih semangat. Sesekali dia lihat ke arah vagina memastikan apakah bayinya dah mulai keliatan.

Jam 12.45 gejolak perut dahsayat sekali. Susah ngegambarin rasanya. Sebetulnya sih ga usah mengejan juga bisa, tapi syaratnya sabar. Berhubung saya udah gak sabar saya ngejan deh. Lalu suami bilang, itu rambutnya udah kelihatan. Kemudian saya ngejan lagi, lalu dari vagina berasa nyeees banget ada sesuatu yang keluar. Bidan langsung nangkap bayinya. Nangis lah dia dengan kencang. Huaa…rasanya lega.

Bidan kemudian bilang kalau saya sudah siap bisa segera berdiri untuk IMD. Saya tarik nafas sebentar, lalu minta suami untuk bangunin. Setelah bangun tiba tiba sesuatu keluar dari vagina. Yes, itu plasentanya keluar sendiri ketika saya berdiri. Biasanya plasenta kan di tarik atau si ibu ngejan lagi untuk ngeluarin plasentanya. Tapi saya enggak, alhamdulillah Cuma berdiri aja plasenta langsung jatuh ke air. Gak hanya plasenta tapi juga darah. Yak kolam yang tadinya bening ketika plasenta itu jatuh langsung lah berubah warna darah.

Saya kemudian rebahan di kasur. Babynya ditaro di atas dada, kemudian dia mencari puting.  Karena saya lelah jadi saya gak terbawa perasaan mellow gimana gitu ya liat bayinya nyusu. Lagian ini anak kedua, jadi udah tau rasanya nyusuin gimana, hehe.

Kapan tali pusar dipotong? Engga, saya pakai metode Lotus Birth (LB). Apa itu, untuk jelasnya bisa gogling, banyak kok. Sederhananya, LB itu tali pusar tidak diputus, jadi plasentanya masih dibawa-bawa terus nyambung sama si bayi. Sampe kapan? Sampai putus sendiri. LB ini salah satu bagaian dari Gentle Birth, berdasarkan pengalaman beberapa pasiennya bu bidan yang LB, bayi LB cenderung lebih tenang kalau malam, gak terlalu sering begadang kalau malam hari. Masa sih, bener gak ya? Hehe. Ternyata itu bener banget.  Dalam sebulan baby sakha hanya bangun 5 kali. Itu juga ga semaleman, paling 2 jam nemenin Abinya nonton Piala Euro. Selebihnya dia terlelap.

Kapan tali pusarnya putus. 5 hari saja, lama-lama plasentanya menghitam dan lepas. Oiya satu lagi plasentanya juga dikasih aroma lavender jadi gak ada bau-bau sama sekali. Haruuum banget. Setelah lahiran di bidan ini saya merekomendasikan bidan hartati pada beberapa teman. Dan setiap teman yang datang bu hartati selalu bilang saya ini ibu-ibu yang cool banget waktu melahirkan. Alhamdulilah yah ini berkat hypnobirthing.  Sejak kehamilan 2 bulan saya selalu meyakini diri sendiri kalau lahiran itu menyenangkan dan untuk dinikmati setiap prosesnya. Dengan tekad itu saya ga bikin rusuh di kliniknya bu hartati karena teriakan saya. Saya juga disayang sama suster-suster karena gak banyak ngeluh dan ga banyak minta. Malah saya lebih sering asik sama diri sendiri. Gak pernah manggil suster, malahan suster yang bolak-balik sampai tanya saya mau apa. Mungkin karena terlalu asik menikmati proses saya sampai gak mau apa-apa..

Setelah melahirkan yang kedua saya lebih bahagia dan tenang. Didampingin suami secara psikis berpengaruh banget, suami jadi tahu gimana rasanya melahirkan, gimana prosesnya, terus liat langsung wujud bayinya saat ia keluar dari vagina.

Wah jadi panjang ya. Semoga si cici Meida puas ya sama cerita eike…  🙂

November 30, 2012 Posted by | Non Fiksi | 1 Comment

Gentle Birth (Pra Kelahiran) 1

Telat banget sih rasanya cerita proses kelahiran anak kedua saya. Tapi berhubung teman saya si cici Meida minta diceritain di blog buat referensi dia yang mau ngelahirin maka saya pun mencoba berbagi kisah tentang kelahiran saya.

Oke kita mulai ya.

Trauma kelahiran anak pertama yang diburu-buru oleh si dokter saya memutuskan anak kedua harus lahir alami. Maksudnya alami? Saya berusaha melahirkan tanpa intervensi medis apapun, seperti induksi, episotomi (pemotongan jalan lahir atau bahasa gampangnya vaginanya digunting supaya lebih lebar) apalagi Caesar. Saya mau lahir Gentle Birth setenang mungkin. Saya banyak baca info tentang kelahiran alami, apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya. Intinya sih setiap wanita bisa melahirkan sendiri – kalau mau- paling dibantu sama suaminya. Di desa juga masih banyak yang seperti itu. Selain itu saya juga mau suami saya terlibat dalam persalinan supaya tau rasanya ngelahirin kaya apa (modus ini sih ya).

Semenjak kehamilan tiga bulan saya pun browsing semua cerita ibu lain yang sudah melahirkan dengan alami. Dan mulai 3 bulan juga saya rajin hypnobirthing sama suami, kami selalu membangun sugesti positif. Saya dan suami lebih semangat mengadapi kehamilan yang ini, saya punya ide buat lahiran di rumah (yang ini agak nekad sih, tapi banyak kok yang berhasil).  Suami setuju aja  sama ide saya dan dia bersedia kok melakukan apa saja yang membuat saya nyaman dengan persalinan. Tapi sayang disayang kita mentok sama tenaga medisnya, harus cari dokter yang pro gentle birth dimana? Lalu lahiran di rumah, hehe yang ini masih kontroversi sama orang tua. Jadi demi menjaga ketenangan semua pihak kita skip opsi lahiran di rumah. Jadi kita cari deh tenaga medis yang siap bantu kita dengan visi misi melahirkan dengan alami. Oiya satu lagi saya ingin waterbirth, tapi setelah cek sana sini kok di RS mahal sekali biaya WBnya? Masa sih saya mesti ke Ubud untuk lahiran, repot dong ya. Oke berbekal pertimbangan ini itu, WB kayaknya tinggal mimpi, melihat situasi kondisi yang ada niatan WB mesti dikesampingkan…

Selama kehamilan saya cek rutin di dokter sambil terus cari info tenaga medis yang punya visi dan misi yang sama dengan kita. Sebetulnya saya tidak terlalu srek dengan dokter yang ini. Bukan karena dia gak baik. Dia baik banget, ramah, kooperatif tapi saya gak bisa berlama-lama diskusi, paling lama 15 menit itu juga ganggu antrian pasien yang lain. Ini sih resikonya kalau ke dokter, mesti toleransi dengan antrian pasien lain.  Padahal bayar udah mahal ya cin..

Selama hamil badan saya tetap imut, hanya perut saja yang membesar. Baru kelihatan hamil setelah masuk bulan ke 6. Saya sendiri merasa badan juga ringan gak terlalu banyak perubahan. Tapi hal seperti ini yang jadi boomerang, saya suka lupa kalau lagi hamil. Gerak juga masih gedubrakan ga beraturan, sampai suatu saat saya merasa sakit di bagian pangkal paha. Sakitnya ini bikin saya susah membungkuk. Karena sakitnya ganggu aktivitas pekerjaan saya memutuskan untuk memanggil tukang totok ke rumah. Setelah di cek ternyata bayi saya masuk ke panggul kiri, istilah dia itu ‘nyusruk’. Kenyusrukan itulah yang membuat selangkangan saya ngilu.

Paska totok saya ngobrol santai dengan si ibu totok ini saya ternyata sepaham sama dia urusan kelahiran. Ibu ini punya anak 7 semuanya lahir dengan normal. Dia menyemangati saya untuk lahir normal, katanya yakin aja kalau gak ada masalah. Kemudian ibu ini merekomendasikan nama bidan yang dia bilang bisa mengakomodir keinginan saya.  Di usia 32 minggu kehamilan saya memutuskan untuk stop berkunjung ke dokter dan beralih ke bidan ini.

Pertama kali mengunjungi bidan Hartati saya jet lag, biasa ke RS tempatnya besar kok ini kecil ya. Semua jadi satu di ruangan ini. Di sudut sana tempat periksa, sudut lainnya tempat melahirkan, sudut lainnya kamar mandi. Kemudian saya mikir lagi, kelahiran anak pertama juga tempatnya enak, terus kenapa? Saya gak nyari mewahnya kok. Biar di tempat mewah namanya sakit sih sakit aja, gak ngaruh…

Ternyata bidan Hartati orangnya sangat humble. Mau meladeni saya hingga satu jam. Diskusi kami panjang dan lebar, saya menyampaikan apa yang saya mau dengan kelahiran ini. Pertemuan pertama cukup mengesankan lah, saya gak terlalu peduli dengan tempat yang imut. Melahirkan ditemani bidan yang dan tau mau saya apa aja udah cukup bikin saya semangat.

Dua minggu kemudian saya kembali lagi untuk check up. Kebetulan bu bidan lagi melayani pasien jadi ketika liat saya dia hanya senyum, tapi terus dia keluar ruangan buat nanya sesuatu yang bikin kaget, “Bu, mau waterbirth?”  Saya tanya balik deh, “Emang bisa disini?” Rasanya kaya percaya gak percaya. Suami saya yang lagi di luar langsung saya panggil dan saya kasih tau kalau di sini bisa waterbirth. Girang bukan kepalang saya dan suami pun memutuskan untuk WB ketika lahiran nanti. Gak sabar rasanya nungggu lahiran, pengen cepet-cepet ngerasain sensasi lahir di air.

Ibu bidan bilang paling enggak saya lahiran dua minggu lagi. Beliau bilang kalau prefer orang tua gak usah ikut nemanin lahiran. Cukup suami, dan si suami juga sebisa mungkin gak usah ngeburu-buru istrinya dengan nanya, “Udah mules belum?” atau “Kok lama belum lahir juga?”, pokoknya suami cuma kasih semangat aja gak usah tanya macem-macem. Salah satu alasan melarang orang tua ikut menemani juga gak jauh dari itu, ortu biasanya suka panikan, keceplosan tanya ini itu ke ibu yang mau melahirkan, akibatnya si ibu jadi panik karena merasa “dikejar-kejar”  buat lahiran. Bidan kami ini sangat menjaga kondisi psikis si ibu karena bagaimanapun aura positif di detik –detik kelahiran harus dijaga, kalimat ga menyenangkan aja bisa bikin drop si ibu. Kami sepaham dengan sang bidan, tanpa ba bi bu kami setuju dengan pernyataannya.  Memang itu yang kami cari, melahirkan dengan tenang. Sebelum meninggalkan klinik bersalinnya, saya juga punya permintaan pada sang bidan, saya gak mau dipaksa dan diketusin ya, pokoknya saya mau diperlakukan dengan baik dan sabar. Bidan pun tersenyum menyetujui permintaan saya.

Saya dan suami pulang dengan tenang, antara tenaga medis dan pasien sudah terjalin kesepakatan. Saya puas sekali, diskusi bisa berjam-jam, kalau ada keluhan bisa lewat sms dan yang jelas gak mahal dong harganya. Kalau ke dokter sekali berkunjung bisa habis minimal 200 ribu. Ke bidan? Saya Cuma ngeluarin 50 ribu saja. Hehehe. Sekarang saya hanya tinggal menunggu detik detik kelahiran…

 

November 29, 2012 Posted by | Non Fiksi | 2 Comments

Mama, dengar aku..

 

Hampir setiap hari saya mendengarnya, saat si  Ibu sedang bekerja. Kadang dengan nada tinggi, kadang dengan intonasi berliku kencang karena tak mampu menahan marah.  Seorang gadis kecil yang sehari-hari menghabiskan waktu bersama seorang wanita remaja dipaksa mendengar ledakan suara dari orang yang tak melahirkannya apalagi bertanggung jawab terhadap dirinya. Itukah konsep kasih sayang yang ia kenal?

Kira-kira apa yang Kartini dan Dewi Sartika katakan saat melihat geliat wanita Indonesia saat ini? Akankan mereka mengucapkan sepatah aksara, atau memilih melempar sebuah senyuman ribuan tafsir?

 

Adanya wanita saat ini karena pergerakan pejuang wanita di masa lampau. Kecerdasan wanita masa kini tak lepas dari peran wanita-wanita visioner masa lalu.

Saya pribadi bangga dan respek terhadap perjuangan pergerakan wanita, tanpa mereka mungkin saat ini wanita masih terpenjara dalam budaya patriaki yang berlaku di Indonesia. Wanita bertugas untuk urusan domestik seperti mengurus anak, rumah, melayani suami dan segala hal yang terkait dengan kerumahtanggaan. Kebiasaan ini berlaku bertahun-tahun lamanya hingga mengakar dan membudaya. Stigma yang tumbuh di masyarakat adalah wanita pengurus rumah tangga, pendidik anak dan harus ada di rumah. Hal ini pudar hingga hadir sebuah wacana baru, “bagaimana anak-anak mau terdidik jika ibunya tak berpendidikan?” Sebuah wacana cerdas yang mendobrak tabu.

Perlahan ‘perjuangan’ ini mulai terlihat hasilnya. Wanita Indonesia menggeliat, keluar dari rumah dan mengenyam pendidikan lebih tinggi. Bangku-bangku universitas di Indonesia dipenuhi oleh wanita. Jabatan penting di instansi pemerintahan dan swasta banyak diisi oleh perempuan super. Banyak dari mereka yang bekerja lebih lama dari para lelaki, tak sedikit yang berangkat saat matahari belum muncul ke permukaan dan pulang saat matahari tengah menyinari belahan bumi lain. Setiap pagi mereka berjuang melawan macet Jakarta, belum lagi pagi hari harus menyiapkan segala keperluan rumah tangga. Fenomena Ibu super seperti ini ada yang menyebut dengan istilah Mama Urban atau Mama Hits Ibukota..

Lalu bagaimana dengan anak-anak dari mama urban ini? Berangkat pagi pulang petang. Bertemu anak sebentar dan pulang saat anak sudah lelap.  Seringkali saya mendengar jeritan, bentakan dari pengasuh anak tetangga yang sedang kesal dengan anak majikannya. Sebagai seorang Ibu yang pernah mengandung, melahirkan dan membesarkan ada rasa miris menyayat hati. Memang ia bukan anak saya, tapi saya bisa merasakan jika anak saya yang diperlakukan seperti itu. Siang malam saya bekerja mencari uang, begitukah anak saya diperlakukan orang lain? Bisa jadi penghasilan yang didapat ibunya hingga belasan juta, namun jika ia melihat keseharian anaknya diperlakukan seperti apa, setimpalkah dengan puluhan juta yang ia dapatkan?

Pernah terbersit sebuah pertanyaan dalam kepala saya, apakah berpendidikan tinggi sama dengan bekerja keras sama dengan meninggalkan keluarga sama dengan menitipkan anak pada pembantu?

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Jika anak sudah besar anak dimasukan ke sekolah ‘terbaik’, Ibu dan Ayah bertugas mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membiayai semua keperluan. Dimasukan sekolah mahal dengan harapan sekolah membantu orang tua dalam mengontrol anak. Pokoknya anak pulang bawa ilmu, pinter, sehat dan bahagia. Loh, kan saya sudah bayar mahal, wajar dong ekspektasinya tinggi, kira-kira begitulah isi hati orang tua.  Di rumah anak dititpkan pada asisten rumah tangga, orang tua kontrol anak melaui telepon. Malam ngobrol sebentar dan masing-masing tertidur. Berapa jam kualitas yang dihabiskan anak bersama orang tua?

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Jika Kartini dan Dewi Sartika masih hidup saya ingin bertanya, inikah maksud perjuangan mereka? Wanita berpendidikan, wanita menjadi berwawasan, segaris dengan itu wanita menjadi pekerja 24 jam. Apakah berpendidikan tinggi dan berotak brilian harus dibuktikan dengan bekerja di perusahaan bonafit dengan gaji belasan bahkan puluhan juta? Apakah IPK tinggi harus memiliki fungsi materi dan dibayar dengan bekerja setengah mati sehingga kita melewatkan tumbuh kembang anak kandung kita.

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Pendidikan tinggi mengajarkan kita pengetahuan, itu yang terlihat. Namun sesungguhnya pendidikan tinggi mengajarkan kita cara berfikir, itu yang justru tak terlihat. Cara berfikir bersifat mengakar, jauh lebih bermanfaat di banding ilmu yang kita pelajari di sekolahan / perguruan tinggi itu sendiri. Dan  menurut saya itulah esensi mengenyam pendidikan tinggi.

Ibu berpendidikan akan terus belajar dan mencari tau, melihat anak sebagai sebuah karya ilmiah yang harus dibesarkan dengan referensi dan sumber informasi yang jelas agar anak tak tumbuh dengan mitos. Ibu yang berpendidikan akan membiarkan anaknya kritis, bertanya tentang apa yang dilihatnya, seperti ia yang selalu mempertanyakan ilmu yang ia dapat.

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Saya adalah satu dari Mama Urban yang (pada awalnya) bertahan dengan karir. Saya adalah satu dari mama urban yang merasa bahwa sia-sialah pendidikan jika tak dihabiskan di kantor dari pagi hingga sore. Saya adalah satu dari mama urban yang tak banyak melihat pertumbuhan anak kandungnya, seketika sadar saya baru menyadari anak saya begitu besar dan bukan lagi bayi lucu yang bisa dicium dan dipeluk. Dan satu yang membuat saya menitikan air mata, waktu tak dapat kembali, putri saya tak akan bisa kecil lagi, ia terus tumbuh dan tumbuh. Saya kehilangan momen berharga bersama rengekannya.

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Kembali saya berpikir, jika Kartini dan Dewi Sartika masih hidup saya ingin bertanya? Mau dibawa kemana anak-anak mungil ini? Mereka tak 100% tumbuh bersama orang tuanya. Mereka dibesarkan oleh asisten rumah tangga dengan prinsip “yang penting selesai” atau  “yang penting diem” atau “yang penting cepet”.  Jangan heran jika anak bermasalah semakin besar jumlahnya. Dimana orang tuanya?

Gamang? Ya saya satu dari Mama urban yang sangat gamang dengan peran saya. Saya satu dari Mama Urban yang kemudian memilih alternatif pekerjaan, memberikan kesempatan pada diri saya untuk melihat anak-anak tumbuh berkembang. Ya saya satu dari mama urban yang tetap yakin bahwa aktualisasi diri sangatlah penting sehingga tak membiarkan diri saya terkurung di dalam rumah dan tercebur dalam aktivitas yang sama setiap hari. Ya saya satu dari mama urban yang tak ingin diperbudak oleh waktu kerja yang tak ber prikeibuan.

Saya tak sedang menyindir siapapun, sejatinya saya pun sedang berpikir.

Jika saja Kartini dan Dewi Sartika masih hidup, saya ingin bertanya. Apakah ini tujuan pergerakan kalian atau ini kebablasan?

Rintik hujan terdengar samar di luar jendela. Saya turun dari atas kasur dan menghampiri jendela, saya mengintip dan menggeser sedikit tirainya, melihat ke lantai bawah. Oh, garasi rumah sebelah kosong. Empunya belum datang. Saya melirik jam di handphone, 8.46 pm. Suara teriakan gadis kecil itu terdengar hingga ke kamar saya. Mungkin ia gelisah menunggu ibunya yang sejak pukul 6 pagi belum juga datang.  Ada rasa rindu yang mungkin tak dapat ia ucap dengan kata. Jika ia mampu mengucap sebuah kalimat saya rasa ia akan mengucap, “Mama, dengar aku!”

Saya kembali ke kasur, duduk di depan laptop. Sejenak memandang ke sebelah kanan dimana dua anak saya sedang terlelap. Satu jam lalu saya ada disamping mereka, mencium, membelai dan memeluk hingga mereka masuk ke alam mimpi dengan damai.

Suara teriakan anak tetangga masih menjadi backsound saya hingga saya memberikan titik sebagai penutup tulisan saya ini.

 

October 4, 2012 Posted by | Non Fiksi | Leave a comment

Stop Nyinyir

Stop Nyinyir!

Jika segala hal terlihat jelek berarti sudah saatnya kita oprasi mata!

Kisah 1

Pernah saya tweet tentang kisah tetangga saya yang punya anak 4 dengan jarak 3 tahun per kelahiran. Kebetulan tetangga saya ini orang tua yang cukup modern dalam mendidik anak. Kreatifitas nomor satu, kebebasan berekspresi sangat dijunjung tinggi. Kalau main ke rumah tetangga saya ini dipastikan pemandangan yang terhampar adalah barang berserakan di sana sini. Meskipun demikian anak-anak terlihat bahagia dengan suasana rumah, demikian juga dengan orang tuanya. Suatu ketika si Ibu bercerita kepada saya prihal seorang tetangga lain yang sering nyinyir dengan keluarga mereka. Substansi nyinyirannya tentang banyaknya anak yang dimiliki oleh si Ibu ini. “Anak kok 4, rumah acak-acakan, taman ga keurus, punya anak itu 2 cukup!”.

Di luar tetangga lain ini terlalu ribet ngurusin rumah tangga orang lain, ada sisi lain yang lebih saya amati. Apa itu? Nanti..

Kisah 2

Ada seorang teman menikah, dengan sederhana. Sebelum pernikahan itu berlangsung seorang teman lain berkata, “Kenapa sih nikahnya sederhana? Nikah kalau bisa yang wah, karena di sana akan banyak tamu undangan”.

Di luar orang yang menikah ini berbudget banyak atau tidak, ada sisi lain yang saya amati. Apa itu?

 

Orang yang berminus 4 ya harus dikasih kacamata minus 4, orang yang berminus 2 ya cocoknya dengan kacamata minus 2. Apa jadinya orang yang bermata minus 1 dikasih kacamata untuk orang rabun senja. Kacau, bukan?

Kadang kita lupa, kadang pula kita khilaf menilai sesuatu hanya dengan mata kita. Dengan melihat pilihan hidup seseorang dari mata kita sama halnya dengan menggunakan kacamata yang tidak sesuai dengan kondisi matanya, salah pakai, karena sejatinya kita perlu melihat orang lain dan pilihan hidupnya dari kacamata orang tersebut. Jika memiliki anak 4 menambah kebahagiaannya, apa ada yang salah? Jika memilih menikah dengan sederhana karena budget dialokasikan untuk bulan madu ke Eropa, ada yang salah? Bukankah masing-masing kita memiliki prioritas dalam kehidupan? Bukankah prioritas tersebut tidak bisa disamaratakan dengan prioritas manusia lain?

Stop nyinyir, ya, bagi saya nyinyirin orang lain dengan cara pandang kita pribadi hanya memperjelas kalau cara pikir kita masih konvensional. Kenapa konvensional? Ya iya dong, di saat teknologi sudah mengenalkan satelit yang bisa memantau segala hal dari atas hingga seluruhnya terlihat indah dari segala sisi eh kita masih aja ngeliat dunia dari pintu rumah sendiri.

Pilihan guys, setiap orang punya pilihan dan kita gak bisa menghakimi pilihan orang lain apalagi kita gak pernah tau apa latar belakang pilihannya. Hargai, dan gak perlu dinyinyirin..

 

September 16, 2012 Posted by | Non Fiksi | Leave a comment

my second baby..

Alhamdulillah, akhirnya lahir juga anak kedua saya setelah melalui proses yang cukup panjang. Mulesnya hampir 48 jam dan di bidan hampir 14 jam. Gimana proses kelahirannya? Proses kelahirannya seperti yang pernah saya tulis di blog sebelumnya, saya ingin lahir dengan normal dan alami. Ceritanya akan sangat panjang, saya akan tuliskan pada artikel berikutnya ya. Tulisan kali ini saya ingin memperkenalkan my baby boy.

This is it, Arsakha Ransi Ganendra. Banyak yang bilang namanya susah, namanya unik, dan bertanya-tanya itu bahasa apa. Sejak anak pertama saya dan suami suka menggabungkan nama anak dari berbagai bahasa.  Di saat banyak orang memberi nama anaknya pakai bahasa arab (yang alhasil anak-anak sekarang namanya banyak yang sama), kami (saya dan suami) memilih untuk menggunakan bahasa lain untuk nama anak, namun tetap menyelipkan satu kata bahasa  Arab dalam rangkaian namanya. Yang jelas prinsip kami setiap kata punya arti dan mengandung doa untuk si anak. Seperti anak pertama, Ayesha Ghina Safira. Ayesha itu artinya Aisyah, salah satu istri rosul yang cerdas dan sosok mulia calon penghuni surga. Ayesha berasal dari ejaan Palestina, mungkin juga bahasa Ibrani (CMIIW). Ghina dari bahasa Arab yang artinya kaya dan Safira dari bahasa Inggris yang artinya permata. Lalu bagaimana dengan si adik? Arsakha dari bahasa Arab yang artinya Darmawan, Ransi dari bahasa Cina yang artinya cerdas dan Ganendra dari bahasa sangsekerta yang artinya pejuang atau pasukan. Wuidih, berat ya kalau digabungin. Ya tapi juga namanya doa, berdoa kan gratis jadi kenapa doa yang cetek-cetek. Hehe.

Rasanya gimana punya anak kedua? Lebih tenang karena sudah pengalaman, sudah bisa mengurus sendiri dan juga sudah bisa memandikan sendiri. Dulu waktu Ayesha kecil saya kelabaakan kalau dia menangis, saya bingung memahami tangisnya. Namun anak kedua ini saya lebih santai, lebih bisa mengerti bahasa bayi.

Lalu bagaimana dengan kelahiran anak pertama dulu? Istilahnya sudah tidak asing, adanya kesedihan setelah persalinan dinamakan baby blues, biasanya terjadi karena perubahan ritme kehidupan. Biasanya melakukan berbagai hal berdua suami sedangkan sekarang sendiri, biasanya pusing tinggal rebahan di kasur sekarang harus rela menahan nyeri dan mengalah dengan si baby. Rasanya campur aduk jadi satu, namun perasaan yang utama adalah sedih. Hal ini juga terjadi pada saya ketika anak pertama. Kehidupan serasa berbalik, harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru yang luar biasa menyita waktu. Akan tetapi bukan berarti saya tidak bahagia dengan kehadiran anak, rasa bahagia itu pasti namun proses adaptasi juga pasti harus dilalui. Semua perlu waktu dan penyesuaian. Kita toh sedang menyusun sebuah pengalaman.

 

Kalau ada yang bilang pengalaman adalah guru berharga, itu betul sekali dan berlaku dalam semua hal!  Pengalaman pertama seperti ujian, kita diminta meraba dan mengenal teksturnya. Kadang pahit, kadang manis, kadang membuat kita jatuh seperti lumpuh dan ingin menyerah. Tapi toh semua harus dihadapi jika ingin mendapat predikat “lulus ujian”. Pertama masuk sekolah, pertama jatuh cinta, pertama mendapat masalah, pertama harus menyelesaikan masalah sendiri, pertama kuliah, pertama kerja dan pertama-pertama lainnya.  Pengalaman punya anak hanya sebagian kecil pengalaman kehidupan, sekelumit pelajaran dari School of Universe.

Sampai kapan ujian akan berakhir? Tak akan pernah, karena hidup adalah sekolah kehidupan..

June 21, 2012 Posted by | Non Fiksi | Leave a comment

Yang Kedua

Kehamilan Kedua

Yes, saya sedang hamil anak kedua. Apa rasanya? Lebih santai dan lebih tenang karena sudah pernah  melalui masa seperti ini sebelumnya. Seperti halnya dengan kehamilan pertama, saya tidak bisa diam dan selalu ingin bergerak. Bedanya saya lebih rasional dan banyak cari tahu. Setelah membaca banyak artikel tentang kehamilan saya merasa ‘dibodohi’ pada kehamilan pertama. Kenapa saya bilang demikian?

Saya banyak baca tentang proses melahirkan. Sesuatu yang cukup membuka mata hati saya, melahirkan adalah proses yang sakral dan alami. Melahirkan adalah anugrah setiap wanita dan Tuhan tidak akan mempersulit kondisi ini. Melahirkan adalah insting bagaimana seorang Ibu berkomunikasi dengan si bayi, bagaimana ibu bebas menentukan posisi yang dia inginkan untuk dapat berkomunikasi dengan sang bayi, bukan dengan teriakan suster atau bidan, bukan juga dengan ‘paksaan’ induksi yang sakitnya bikin saya pasrah menggigil kesakitan luar biasa. FYI, untuk proses melahirkan anak pertama saya harus diinduksi (disuntikan cairan yang merangsang rasa mulas pada ibu), sakitnya luar biasa!!

Banyak membaca artikel tentang gentle birth membuat saya tersadar, saya tidak lagi mau kehamilan saya menjadi komoditas bisnis medis semata. Saya harus tau, kenapa saya ditindak ini dan itu. Dewi Lestari, dalam kisah melahirkannya menceritakan bagaimana sebetulnya kelahiran bayi adalah atas kemauan alamiah dari si bayi itu sendiri, dia akan keluar pada waktunya dan ketika waktu itu hadir si ibu akan merasakan adanya kontak batin yang menginformasikan bahwa ia siap keluar. Hanya saja kondisi rumah sakit tidak memungkinkan si ibu merasakan suara hati si bayi karena si ibu sibuk dengan kesakitannya sendiri. Di RS ibu hanya bisa tertidur sehingga fokus ibu ada pada rasa sakitnya, jika saja si ibu dibebaskan memillih posisi yang paling nyaman maka ia akan merasakan ‘bisikan’ si bayi saat ia ingin keluar.

 

Dokter bagus, RS bagus? Yang paling penting adalah mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang kehamilan dan melahirkan dan punya teman yang bisa dikroscek tentang segala obat-obatan sehingga kita tidak salah minum obat. Bagi saya saat ini dokter yang baik adalah yang menenangkan, hanya itu kriterianya. Tidak asal main vonis oprasi tanpa memberikan solusi. Kalau ada yang bilang susahnya melahirkan normal saat ini, yeap, betul sekali. Untuk itulah pentingnya mencari tau tentang proses melahirkan itu seperti apa.

Sebetulnya dari mulai mulas pertama masih ada waktu 3 hari menunggu bayi itu keluar, mulas pertama hanyalah pertanda bahwa kehadiran si bayi sudah mulai dekat, masih bisa kok ditunggu kelahirannya hingga 2-3 hari. Waktu kehamilan pertama saya tidak merasa mulas, namun tiba-tiba saya merasa ada darah keluar dari vagina. Sedikit memang, bahkan tidak terasa sakit. Setelah itu saya ke dokter dan di cek, ternyata saya sudah pembukaan 5. Kemudian saya dibaringkan di kasur selama satu jam. Selama satu jam itu saya diminta menunggu, tak lama suster datang dan bilang saya harus diinduksi supaya cepat lahir. Dua jam induksi membuat saya shock, sakitnya luar biasa. Saat itu saya hanya terpikir satu hal, “Kalau sakitnya begini saya gak  mau lagi deh punya anak.”

Setiap saya merintih suster akan datang dan bilang, “Ya memang gitu bu rasanya ngelahirin sakit.” Duh, gak sopan banget si ini suster, boro-boro ngasih semangat. Lalu saya bilang saya mau duduk karena perut saya sakit sekali. Suster kembali bilang, “Jangan bu, udah miring kiri aja.” Sepanjang dua jam saya mulas saya hanya boleh menghadap kiri, tidak boleh ngapa-ngapain. Trauma itu membekas sekali untuk saya. Mendadak saya “membenci’ persalinan dan rumah sakit. Mereka tidak ramah.

Sekarang ini saya baru tahu, dokter kan pasiennya banyak, masa iya dia mau nunggu saya sampai 3 hari, kalau bisa dibuat lebih cepat kenapa tidak? Caranya, ya diinduksi.

 

Kehamilan kali ini saya lebih santai, ke dokter untuk USG saja. Rencana sih pingin lahiran di rumah, dengan bidan yang baik dan gak pake bentak-bentak ibu yang mau melahirkan. Gak dibentak aja udah mules loh ya, apalagi pakai adu otot sama susternya. Dengan proses melahirkan seperti ini ikatan batin antara ibu dan anak akan semakin kuat terjalin, karena sejak dalam kandungan ibu sudah membiasakan diri berkomunikasi dengan mendengarkan keinginan bayi. Jikalau saja rumah saya di Bali saya akan melahirkan di Ubud, di tempat Bidan Mira. Untuk orang-orang yang pro melahirkan alami pasti tau tentang Bidan Mira ini. Intinya adalah ketenangan, keikhlasan dan kepasrahan. Tidak ada satu dzat pun yang terlahir dan hadir di bumi ini tanpa izinNya. Jadi dokter dan RS bagus sebetulnya hanyalah sugesti kita saja, tergantung bagaimana pengalaman membentuk persepsi di kepala kita.

Persalinan tinggal menunggu hari saja, semoga tidak ada hambatan yang berarti. Suami juga selalu support dan menenangkan. Bidan meminta saya untuk beraktivitas seperti biasa. Dan yang saya paling suka adalah Ibu Bidan hanya menyampaikan satu pesan yaitu : Tenang. Tidak ada yang lebih penting dari ibu yang akan melahirkan selain ketenangan lahir dan batin. Kelahiran itu takdir Illahi, jika Allah sudah memutuskan dia lahir maka dia akan lahir pada waktu yang tepat.

May 29, 2012 Posted by | Non Fiksi | Leave a comment